Ketua Komisi X Minta Klarifikasi dari WNI yang Diduga Palsukan Riset di Denmark

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian meminta adanya klarifikasi langsung dari warga negara Indonesia (WNI) yang diduga terlibat dalam skandal pemalsuan riset dalam konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.

Menurut Hetifah, dugaan pelanggaran integritas akademik dalam kasus tersebut harus ditangani secara serius karena menyangkut reputasi Indonesia di tingkat internasional.

“Peristiwa dugaan pemalsuan riset oleh sejumlah WNI dalam konferensi ISPPD di Denmark tentu harus menjadi perhatian serius, karena menyangkut integritas akademik dan nama baik Indonesia di forum internasional,” kata Hetifah dalam keterangannya, Kamis (28/5).

Ia juga menanggapi pernyataan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto yang menyebut pihak yang diduga terlibat bukan dosen maupun peneliti aktif. Menurutnya, hal itu tidak berarti menutup proses pendalaman lebih lanjut.

“Pernyataan Mendiktisaintek bahwa pihak yang diduga terlibat bukan dosen maupun peneliti aktif perlu dihormati sebagai penjelasan awal pemerintah, namun hal tersebut tidak serta-merta menutup perlunya penelusuran lebih lanjut agar informasi yang beredar tidak menimbulkan spekulasi publik,” ujarnya.

Hetifah menegaskan perlunya investigasi yang objektif dan berbasis fakta untuk menghindari kesimpangsiuran informasi.

“Kami pada prinsipnya mendorong investigasi yang objektif, transparan, dan berbasis fakta. Klarifikasi langsung dari para WNI yang dituduhkan juga penting dilakukan untuk memastikan persoalan secara utuh, termasuk menelusuri apakah benar terjadi pelanggaran etik akademik, kesalahan administratif, atau bahkan kesalahpahaman dalam proses konferensi tersebut,” tutur dia.

Ia menambahkan, langkah klarifikasi penting agar tidak ada pihak yang dirugikan tanpa dasar yang jelas.

“Langkah ini penting agar tidak ada pihak yang dirugikan tanpa dasar yang jelas,” ujar Hetifah.

“Kasus seperti ini, ke depan, harus menjadi evaluasi tata kelola riset dan publikasi ilmiah Indonesia,” lanjutnya.

Hetifah juga menekankan pentingnya menjaga standar integritas dalam dunia akademik agar reputasi riset nasional tetap terjaga di tingkat global.

“Kami tentu berharap, dunia akademik, tetap menjaga standar integritas tinggi, karena reputasi riset nasional merupakan bagian penting dari daya saing bangsa di tingkat global,” pungkasnya.

Adapun dugaan skandal pemalsuan riset ini diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5) lalu, dan viral di media sosial.

Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17-21 Mei 2026.

ISPPD atau International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases merupakan forum ilmiah global utama di bidang pneumonia dan penyakit pneumokokal. Forum ini mempertemukan ribuan ilmuwan, dokter, epidemiolog, dan peneliti kesehatan dari berbagai negara.

Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data termasuk penggunaan artificial intelligence (AI).

Mendiktisaintek Telusuri

Brian menyatakan, pihaknya tengah mendalami dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi ilmiah di Kopenhagen, Denmark.

"Kemdiktisaintek memberikan perhatian terhadap informasi yang berkembang terkait dugaan pelanggaran integritas akademik dan etika penelitian yang melibatkan pihak yang menggunakan afiliasi institusi di Indonesia," kata Brian pada Rabu (27/5).

Ia mengatakan pemerintah saat ini masih terus melakukan koordinasi untuk memastikan fakta-fakta yang sebenarnya terkait kasus tersebut.

Ia juga menyampaikan berdasarkan informasi awal, pihak-pihak dalam kasus tersebut bukan dosen maupun peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," kata Brian.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gus Muhaimin Optimistis Haji 2026 Sukses: Wujud Kesungguhan Presiden Bentuk Kemenhaj
• 19 jam lalujpnn.com
thumb
Terungkap, Ini Motif Dugaan Penganiayaan Warga Brunei di Blok M
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Dipolisikan IKM, Abu Janda: Saya Tidak Menghina Rakyat Sumbar, Kalau Dasarnya Benci Ya Susah!
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Singapura Open 2026: Gagal Menembus Perempat Final, Sabar/Reza Ungkap Biang Kerok Kekalahan dari Wakil Malaysia
• 16 menit lalutvonenews.com
thumb
7 Rekomendasi Wedding Organizer dari Pengantin, Bikin Nikahan Jadi Berkesan
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.