Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, melontarkan ancaman terbuka terhadap Oman terkait penguasaan Selat Hormuz.
Dalam video yang dibagikan Departemen Luar Negeri AS, Trump menegaskan bahwa jalur pelayaran strategis tersebut harus tetap terbuka untuk seluruh dunia dan tidak boleh dikendalikan pihak mana pun.
Baca Juga: Amerika Kembali Lakukan 'Serangan Kejutan' ke Iran, Klaim Hanya Langkah Defensif
“Selat Hormuz akan terbuka untuk semua orang. Itu perairan internasional. Kami akan mengawasinya, tapi tidak ada yang akan mengendalikannya,” ujar Trump.
Namun pernyataan Trump kemudian berubah jauh lebih keras saat menyinggung Oman, negara yang berbatasan langsung dengan Selat Hormuz.
“Oman akan bersikap seperti semua pihak lain atau kami harus menghancurkan mereka. Mereka memahami itu,” kata Trump.
Pernyataan tersebut langsung memicu sorotan karena Oman selama ini dikenal sebagai negara mediator netral dalam berbagai konflik Timur Tengah, termasuk komunikasi tidak langsung antara AS dan Iran.
Pernyataan Trump sebenarnya bukan sekadar ancaman militer, melainkan sinyal bahwa Washington kini tidak ingin ada negara regional yang ikut memiliki pengaruh besar terhadap pengaturan jalur energi paling vital di dunia tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur strategis yang menjadi lintasan utama distribusi minyak global. Gangguan kecil saja di kawasan itu dapat langsung mengguncang harga energi internasional.
Pernyataan Trump muncul di tengah negosiasi alot antara AS dan Iran pasca-konflik militer besar yang pecah sejak Februari 2026.
Trump sebelumnya mengaku belum puas terhadap detail kesepakatan yang sedang dinegosiasikan dengan Iran. Ia menegaskan Washington siap kembali melancarkan serangan apabila tidak tercapai kesepakatan final.
“Sampai sekarang mereka belum mencapai titik yang kami inginkan, dan kami belum puas,” kata Trump.
Situasi semakin sensitif setelah media pemerintah Iran mengklaim adanya rancangan kesepakatan yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta penarikan pasukan AS dari kawasan Teluk.
Namun Gedung Putih langsung membantah laporan tersebut dan menyebutnya sebagai “fabrikasi total”.
Di tengah proses negosiasi yang belum jelas ujungnya, Amerika Serikat juga dilaporkan kembali meluncurkan serangan terbatas terhadap target-target Iran di wilayah selatan dekat Bandar Abbas.
Militer AS mengklaim operasi itu dilakukan sebagai aksi defensif setelah mendeteksi drone dan aktivitas militer Iran yang dianggap mengancam kapal dagang serta pasukan Amerika di sekitar Selat Hormuz.
Sementara itu, Iran mengecam tindakan Washington dan menyebut serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap gencatan senjata yang sebelumnya disepakati.
Baca Juga: Waktu Rapat Hak Angket Ditetapkan, Nasib Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud Tinggal Menghitung Hari
Konflik berkepanjangan ini membuat Selat Hormuz kembali menjadi titik paling rawan di dunia, bukan hanya secara militer tetapi juga ekonomi global. Banyak negara kini mulai khawatir jalur minyak internasional tersebut berubah menjadi arena perebutan pengaruh antara Amerika Serikat, Iran, dan sekutu-sekutu regionalnya.





