Drone Ukraina Hancurkan Front Rusia, Putin Luncurkan Serangan Balasan

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi geopolitik dunia pada Senin–Selasa, 25–26 Mei 2026, semakin memanas. Ketika perhatian internasional masih tertuju pada krisis Timur Tengah dan ketegangan di Selat Hormuz, Rusia justru mulai menunjukkan sinyal eskalasi besar baru di medan perang Ukraina.

Serangkaian langkah yang dilakukan Moskow dalam dua hari terakhir memicu kekhawatiran bahwa perang Rusia-Ukraina kini memasuki fase yang jauh lebih berbahaya. Mulai dari peringatan langsung kepada Amerika Serikat dan negara-negara Barat mengenai keselamatan staf diplomatik di Kyiv, serangan terhadap wilayah strategis Ukraina, hingga penandatanganan undang-undang baru oleh Presiden Rusia Vladimir Putin, semuanya dianggap sebagai tanda bahwa Kremlin sedang menyiapkan langkah besar berikutnya.

Para analis keamanan internasional menilai perkembangan ini dapat memperluas konflik di Eropa Timur dan bahkan berpotensi terhubung dengan ketegangan global lain yang sedang berlangsung.

Lavrov Telepon Rubio, Rusia Minta Diplomat Barat Tinggalkan Ukraina

Pada Selasa, 26 Mei 2026, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergey Lavrov, dilaporkan melakukan percakapan telepon penting dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Marco Rubio.

Dalam pembicaraan tersebut, pihak Rusia memperingatkan agar Amerika Serikat serta negara-negara Barat mulai mempertimbangkan penarikan staf diplomatik mereka dari Ukraina, khususnya dari ibu kota Kyiv.

Peringatan itu langsung memicu spekulasi luas bahwa Moskow mungkin sedang mempersiapkan operasi militer berskala lebih besar dalam beberapa minggu mendatang.

Sumber-sumber diplomatik menyebutkan bahwa Kremlin menilai situasi keamanan di Kyiv semakin tidak stabil, terutama setelah meningkatnya serangan drone Ukraina terhadap berbagai fasilitas militer Rusia di Crimea, wilayah selatan Rusia, dan area logistik strategis lainnya.

Tak lama setelah percakapan itu berlangsung, Rubio disebut turut menyampaikan peringatan bahwa perang Ukraina kini memiliki risiko berkembang menjadi konflik internasional yang lebih luas apabila eskalasi terus meningkat tanpa kendali.

Pernyataan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa Washington juga mulai melihat ancaman perluasan perang ke level yang lebih berbahaya, terutama jika konfrontasi langsung antara Rusia dan negara-negara NATO semakin meningkat.

Rusia Lancarkan Serangan ke Dnipro

Masih pada 26 Mei 2026, Rusia juga dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke wilayah Dnipro, salah satu kota penting di Ukraina bagian tengah.

Salah satu lokasi yang terkena dampak disebut berada di dekat fasilitas gudang bantuan milik Program Pangan Dunia PBB atau World Food Programme (WFP).

Serangan ini kembali memicu kekhawatiran internasional mengenai risiko gangguan distribusi bantuan kemanusiaan di Ukraina, terutama bagi wilayah-wilayah yang selama ini sangat bergantung pada pasokan pangan dan bantuan internasional.

Sejumlah pengamat menilai serangan terhadap area yang berkaitan dengan jalur logistik bantuan internasional menunjukkan bahwa Rusia kini semakin agresif dalam menekan infrastruktur pendukung Ukraina.

Putin Teken UU Baru yang Memicu Alarm Dunia

Perkembangan paling mengejutkan justru datang sehari sebelumnya.

Pada Minggu, 25 Mei 2026, Presiden Rusia, Vladimir Putin, resmi menandatangani undang-undang baru yang langsung memicu alarm keamanan di berbagai negara.

Undang-undang tersebut memungkinkan Rusia mengirim pasukan militer ke luar negeri untuk “menjemput kembali” warga Rusia yang ditahan oleh lembaga internasional atau otoritas asing apabila Moskow tidak mengakui yurisdiksi lembaga tersebut.

Media-media internasional dan pengamat geopolitik segera menilai aturan baru itu sebagai bentuk legitimasi hukum baru bagi Kremlin untuk melakukan operasi militer lintas batas dengan alasan melindungi warga negara Rusia.

Banyak pihak melihat langkah ini sangat sensitif karena Rusia sebelumnya memang beberapa kali menggunakan alasan “perlindungan warga Rusia” sebagai dasar pembenaran operasi militer di luar negeri.

Kasus serupa pernah muncul sebelum aneksasi Crimea pada 2014, serta dalam berbagai operasi Rusia di wilayah bekas Uni Soviet.

Akibatnya, sejumlah negara yang memiliki populasi etnis Rusia atau berbatasan langsung dengan Rusia kini meningkatkan kewaspadaan keamanan mereka.

Negara-negara seperti Estonia, Latvia, Lithuania, Kazakhstan, Moldova, hingga Ukraina disebut mulai memantau secara serius implikasi dari undang-undang tersebut.

Analis keamanan Eropa menilai aturan itu dapat memperbesar risiko operasi khusus Rusia di luar negeri dan meningkatkan ketegangan keamanan di kawasan Eropa Timur maupun Asia Tengah.

Rusia Dinilai Sedang Menghadapi Tekanan Berat

Meski Moskow menunjukkan sikap yang semakin agresif, sejumlah analis militer Barat menilai Rusia sebenarnya sedang menghadapi tekanan besar di medan perang.

Dalam beberapa pekan terakhir, jalur logistik Rusia di Crimea dan front selatan terus dihantam serangan drone Ukraina.

Wilayah strategis seperti Crimea dan Zaporizhzhia disebut mengalami tekanan logistik yang serius, baik untuk kebutuhan militer maupun sipil.

Gangguan distribusi bahan bakar, amunisi, hingga jalur suplai kendaraan tempur mulai disebut semakin terasa di beberapa sektor garis depan.

Mantan Direktur CIA, Peter Ures, bahkan menyebut bahwa sekitar 90 persen korban pasukan Rusia saat ini berasal dari serangan drone.

Menurutnya, Ukraina kini menggunakan sekitar 10.000 drone setiap hari di berbagai medan tempur untuk menyerang posisi Rusia secara terus-menerus.

Ia menjelaskan bahwa di garis depan sepanjang sekitar 35 kilometer, tank dan kendaraan lapis baja Rusia kini hampir tidak dapat bertahan lama karena drone Ukraina mampu melakukan serangan presisi langsung ke parit pertahanan, bunker, hingga kendaraan logistik.

Perang drone modern disebut telah mengubah total pola peperangan konvensional di Ukraina.

Jika sebelumnya tank dan artileri berat menjadi simbol dominasi medan perang, kini drone murah dengan kemampuan serangan presisi justru menjadi senjata paling mematikan.

Bahkan sejumlah analis pro-Rusia mulai mengakui bahwa Rusia kini sedang menghadapi salah satu fase paling kritis sejak perang Ukraina dimulai pada Februari 2022.

Dunia Khawatir Krisis Global Bisa Meledak

Situasi inilah yang membuat banyak negara semakin khawatir bahwa konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur sewaktu-waktu dapat saling terhubung menjadi krisis global yang jauh lebih besar.

Di satu sisi, Amerika Serikat masih menghadapi tekanan besar di Timur Tengah terkait Iran dan keamanan Selat Hormuz. Di sisi lain, Rusia kini mulai memperlihatkan tanda-tanda peningkatan operasi militer di Ukraina.

Para pengamat internasional memperingatkan bahwa apabila dua pusat konflik besar dunia itu mengalami eskalasi secara bersamaan, maka dampaknya dapat mengguncang stabilitas ekonomi global, harga energi dunia, jalur perdagangan internasional, hingga keamanan geopolitik internasional secara keseluruhan.

Karena itu, perkembangan pada 25–26 Mei 2026 kini dipandang sebagai salah satu momen paling sensitif dalam dinamika geopolitik dunia tahun ini. (***)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menlu di DK PBB: Kemerdekaan Palestina Mutlak Harus Dicapai
• 18 jam lalukompas.com
thumb
7 Penambang Emas Terjebak di Gua Laos yang Banjir, 5 Ditemukan Selamat
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Di Balik Aroma Sate Terdapat Kurikulum Kehidupan pada Hari Raya Kurban
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Video: Trump Sebut Selat Hormuz Terbuka untuk Semua Pihak
• 3 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Hari Kedua, Kebakaran Gudang Ban Bekas di Mojokerto Masih Proses Pemadaman
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.