EtIndonesia. Situasi keamanan di Timur Tengah kembali memasuki fase yang sangat tegang pada Selasa, 27 Mei 2026. Media Israel melaporkan bahwa militer Israel diduga berhasil menewaskan pemimpin baru Hamas, Mohammed Odeh, dalam sebuah serangan udara presisi yang dilakukan di Jalur Gaza.
Laporan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena operasi itu terjadi hanya sekitar 11 hari setelah pemimpin militer Hamas sebelumnya juga dilaporkan tewas dalam operasi militer Israel. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa Israel kini terus meningkatkan strategi “targeted killing” atau pembunuhan terarah untuk memutus rantai komando Hamas di Gaza.
Menurut laporan awal media berbahasa Ibrani pada 27 Mei, evaluasi intelijen Israel menunjukkan bahwa Mohammed Odeh kemungkinan besar tewas setelah jet tempur Israel menggempur sebuah lokasi di Kota Gaza yang diyakini menjadi pusat aktivitas kelompok Hamas.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama Menteri Pertahanan Israel sebelumnya telah mengumumkan bahwa operasi militer besar sedang berlangsung di Gaza sebagai bagian dari upaya menghancurkan struktur kepemimpinan Hamas.
Israel Intensifkan Operasi Pembunuhan Terarah
Sejak konflik kembali meningkat pada awal tahun 2026, Israel secara konsisten menjalankan operasi militer yang berfokus pada pemburuan para petinggi Hamas. Strategi tersebut bertujuan melemahkan koordinasi internal kelompok itu sekaligus mengurangi kemampuan Hamas dalam melancarkan serangan terhadap wilayah Israel.
Mohammed Oudeh diketahui merupakan salah satu tokoh penting dalam struktur Hamas. Sejumlah foto dan dokumentasi sebelumnya menunjukkan dirinya sering muncul bersama para pemimpin senior Hamas lainnya dalam berbagai pertemuan internal dan kegiatan militer organisasi tersebut.
Karena itu, jika kematiannya benar-benar terkonfirmasi secara resmi, banyak analis menilai hal tersebut akan memberikan pukulan besar terhadap stabilitas kepemimpinan Hamas di Jalur Gaza.
Serangan terbaru ini juga memperlihatkan bahwa Israel kini semakin mengandalkan operasi intelijen presisi tinggi untuk menghindari perang darat berskala besar yang berpotensi memicu tekanan internasional lebih luas.
Alarm Drone Sempat Berbunyi di Perbatasan Utara Israel
Di tengah operasi di Gaza, ketegangan juga sempat meningkat di wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.
Pada Selasa, 27 Mei 2026, alarm peringatan keamanan berbunyi di komunitas Baram setelah militer Israel mendeteksi adanya target udara mencurigakan yang diduga drone.
Militer Israel kemudian mengonfirmasi bahwa sistem pertahanan udara telah melakukan pemeriksaan terhadap objek tersebut. Namun setelah investigasi lanjutan, alarm akhirnya dicabut dan tidak ditemukan adanya korban jiwa maupun kerusakan.
Meski demikian, insiden itu kembali memperlihatkan tingginya kewaspadaan Israel terhadap ancaman drone dari kelompok-kelompok bersenjata di kawasan, termasuk yang didukung Iran.
Netanyahu dan Trump Bahas Ancaman Iran
Perkembangan penting lainnya terjadi setelah rapat kabinet keamanan Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, guna membahas situasi keamanan regional, khususnya terkait Iran dan kelompok-kelompok proksi di Timur Tengah.
Pemerintah Israel disebut sangat khawatir terhadap kemungkinan tercapainya kesepakatan baru antara Amerika Serikat dan Iran yang dinilai tidak benar-benar menghapus ancaman nuklir Teheran maupun jaringan militernya di kawasan.
Bagi Israel, ancaman terbesar bukan hanya program nuklir Iran, tetapi juga pengaruh Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata seperti Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.
Karena itu, Israel terus menjalankan operasi ofensif di Gaza dan Lebanon sebagai upaya memperkuat posisi tawarnya di tengah proses diplomasi regional yang sedang berlangsung.
Sejumlah analis keamanan menilai Israel berusaha mengirim pesan bahwa mereka tetap siap bertindak secara militer, bahkan ketika jalur negosiasi antara Washington dan Teheran masih berjalan.
Iran Kembali Keluarkan Ancaman terhadap Israel
Ketegangan semakin meningkat setelah Mojtaba Khamenei — putra Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang disebut-sebut sebagai calon penerus kepemimpinan Iran — kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Israel pada 27 Mei 2026.
Dalam pernyataannya, Mojtaba menyebut bahwa Israel “akan segera runtuh”, sebuah komentar yang langsung memicu respons keras dari pejabat Israel.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Sa’ar, menanggapi dengan nada sindiran. Ia mengatakan bahwa gaya bahasa Mojtaba sangat mirip dengan ayahnya dan secara terbuka mempertanyakan keberadaan Mojtaba saat ini.
Pernyataan saling serang tersebut kembali memperlihatkan bahwa hubungan Iran dan Israel kini berada pada titik yang sangat sensitif, terutama ketika negosiasi nuklir AS-Iran masih berlangsung di belakang layar.
Timur Tengah Masuk Fase “Berperang Sambil Bernegosiasi”
Secara keseluruhan, situasi Timur Tengah saat ini menunjukkan pola yang semakin rumit: konflik militer terus berlangsung, tetapi jalur diplomasi juga tetap berjalan secara paralel.
Israel menegaskan bahwa prinsip utama mereka tetap “keamanan di atas segalanya”. Karena itu, operasi militer di Gaza dan Lebanon diperkirakan akan terus berlanjut selama Israel masih menilai adanya ancaman langsung dari Hamas maupun kelompok pro-Iran lainnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat tetap berusaha mendorong negosiasi nuklir dengan Iran demi mencegah konflik besar yang berpotensi menyeret kawasan ke perang regional berskala luas.
Perhatian dunia kini tertuju pada hasil rapat kabinet Presiden Donald Trump di Washington dan apakah perundingan AS-Iran dalam beberapa hari mendatang mampu menghasilkan terobosan diplomatik yang nyata, atau justru memicu eskalasi baru yang lebih berbahaya di Timur Tengah. (****)





