MAKASSAR, KOMPAS.TV - Direktur Penyelenggaraan Program Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Pusat, Fuad Lutfi menepis isu rasisme dan diskriminasi dalam seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan (Sulsel).
Ia membantah narasi yang mengaitkan seleksi dengan isu suku, agama, ras, maupun latar belakang tertentu.
Fuad menegaskan peserta dinilai berdasarkan indikator seleksi nasional tanpa membedakan latar belakang tertentu.
“Seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama dan dinilai berdasarkan indikator seleksi yang telah ditetapkan secara nasional,” ujarnya, Kamis, (28/5/2026), dilansir laman resmi Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Fuad juga memberi penjelasan mengenai penggunaan bahasa daerah dalam sesi wawancara yang sempat menjadi sorotan publik.
Menurutnya, pertanyaan mengenai kemampuan bahasa daerah bukan bagian dari komponen penilaian yang menentukan kelulusan peserta.
Baca Juga: DPRD Sulsel akan Rapat dengan Panitia Seleksi Paskibraka Buntut Polemik yang Terjadi
Ia mengatakan penggunaan bahasa daerah itu hanya bagian dari dialog pewawancara untuk melihat kemampuan dan wawasan peserta secara umum karena akan mewakili daerahnya.
Fuad menambahkan, pertanyaan serupa juga dapat berkembang pada penguasaan bahasa asing maupun pengetahuan peserta tentang daerah asalnya, termasuk potensi wisata dan budaya lokal.
Dalam sesi wawancara, kata dia, pewawancara membangun dialog dengan peserta untuk melihat wawasan mereka.
Penulis : Tri Angga Kriswaningsih Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- paskibraka
- paskibraka sulsel
- sulsel
- polemik paskibraka sulsel
- seleksi paskibraka
- bpip pusat





