Desis uap dari ketel lokomotif dan lengking peluit yang memecah pagi menghadirkan kembali nostalgia perjalanan kereta api di Jawa seabad silam. Saat lokomotif uap bergerak perlahan meninggalkan Stasiun Ambarawa, Kabupaten, Semarang, Jawa Tengah, penumpang diajak menyusuri lanskap perdesaan yang lekat dengan bayangan mooi indie (Hindia Molek), menggambarkan keindahan alam dan eksotisme Nusantara.
Asap hitam mengepul dari cerobong lokomotif, sementara roda besi bergerak pelan di atas rel tua. Dari jendela gerbong kayu, hamparan sawah, tepian Danau Rawapening, dan perbukitan hijau di kaki Gunung Ungaran membentang sepanjang perjalanan menuju Stasiun Tuntang.
Bagi Julian, wisatawan asal Bogota, Kolombia, pengalaman menaiki kereta api uap di Museum Kereta Api Ambarawa terasa seperti perjalanan melintasi waktu. Ia mengaku takjub dengan sejumlah destinasi sejarah yang dikunjunginya selama berada di Jawa Tengah, Kamis (28/5/2026).
Sebelum datang ke Museum Kereta Api Ambarawa atau yang dikenal sebagai Stasiun Willem I di Kabupaten Semarang, Julian dan rombongannya lebih dulu bersepeda di kawasan Candi Borobudur dan Candi Prambanan. ”Mereka sangat antusias melihat peninggalan sejarah seperti candi yang masih sangat terawat,” ujarnya.
Menurut Julian, perjalanan dengan kereta api uap melintasi perdesaan, sawah, dan Danau Rawapening menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Kereta yang ditumpanginya menempuh perjalanan pergi-pulang dari Stasiun Ambarawa menuju Stasiun Tuntang sejauh sekitar 6 kilometer.
Antusiasme serupa datang dari Dinda Rahma yang berlibur bersama keluarga besarnya dari Bandung. Mereka tiba sejak dini hari demi mendapatkan antrean tiket kereta wisata yang sepekan ini ramai karena libur panjang.
Menurut Dinda, keluarganya beruntung bisa menikmati perjalanan dengan lokomotif uap yang jadwal operasinya tidak setiap hari. ”Kalau jadwal reguler, biasanya memakai kereta diesel. Jadi, tidak sia-sia kami datang dan menunggu sejak pukul empat pagi,” katanya.
Untuk menikmati perjalanan tersebut, Dinda membeli tiket seharga Rp 250.000 per orang. Baginya, harga itu sepadan dengan pengalaman yang didapat anak-anaknya selama liburan. Kereta diesel yang beroperasi setiap akhir pekan ini terbagi tiga jadwal keberangkatan dengan kisaran harga tiket dari Rp 80.000 hingga Rp 250.000 per orang.
Saat musim libur panjang, Museum Kereta Api Ambarawa menjadi salah satu destinasi favorit keluarga. Selain menikmati perjalanan kereta wisata, pengunjung juga dapat melihat koleksi 26 lokomotif uap langka yang tersimpan di museum. Beberapa lokomotif masih dioperasikan untuk perjalanan wisata, didampingi rangkaian kereta diesel.
Di tengah laju modernisasi transportasi, keberadaan kereta api uap di Ambarawa bukan sekadar wahana wisata. Lokomotif tua itu juga menyimpan jejak sejarah panjang perkeretaapian di Jawa. Stasiun Willem I dengan jaringan rel hingga Secang, Magelang, pernah menjadi urat nadi pengangkutan hasil bumi sekaligus jalur penting bagi kepentingan militer pada masa kolonial.
Ketika lokomotif kembali tiba di Stasiun Ambarawa, asap masih mengepul perlahan dari cerobong mesin. Para penumpang turun sambil membawa potret dan pengalaman tentang desa-desa yang tenang, hamparan sawah menghijau, serta bentang Danau Rawapening berlatar pegunungan. Sebuah nostalgia yang masih bergerak di atas rel tua Ambarawa.





