Peneliti Indonesia Diduga Manipulasi Riset, AI Menguji Integritas Kampus

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

BANDUNG, KOMPAS - Tim peneliti dari Indonesia diduga terlibat memanipulasi riset dalam sebuah konferensi internasional di Denmark pekan lalu. Masalah ini menunjukkan rentannya penggunaan artificial intelligence atau kecerdasan buatan secara berlebihan dalam penyusunan riset.

Masalah ini menyeruak setelah diungkapkan oleh akun @mandharabrasika di media sosial Threads, Senin (25/5/2026). Sejumlah periset dari Indonesia diduga melakukan manipulasi dalam konferensi ilmiah internasional untuk para ahli pneumonia dunia pada 17-21 Mei 2026 di Kopenhagen, Denmark. Anggota tim peneliti merupakan alumni dari sejumlah Perguruan tinggi negeri di Indonesia, antara lain Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Diduga tim peneliti menggunakan AI secara berlebihan dan tidak semestinya. Hal termasuk kombinasi falsifying AI atau pemalsuan menggunakan kecerdasan buatan dalam proses penyusunan, framing, dan representasi penelitian.

Baca JugaAlumnusnya Diduga Manipulasi Riset di Konferensi Internasional, ITB Buka Suara

Motif manipulasi riset tersebut diduga untuk mendapatkan travel grant atau dana hibah agar bepergian ke luar negeri tanpa mengeluarkan biaya pribadi.

Pemerhati budaya dan komunikasi digital di Indonesia serta pendiri literos.org, Firman Kurniawan pada Kamis (28/5/2026) berpendapat, dugaan manipulasi riset di Denmark merupakan salah satu bentuk penyalahgunaan AI.

Menurutnya, hal ini bermula ketika para pengguna mencoba menguji batas kemampuan AI termasuk untuk penelitian. Ternyata memberikan hasil riset yang cukup meyakinkan.

Dalam sejumlah jurnal penelitian, menurut Firman, dengan menggunakan prompt atau pesan yang tepat dalam menginstruksikan AI untuk penyusunan riset, hasil akhirnya ketika dipaparkan ternyata lebih berkualitas dan mumpuni daripada para peneliti.

Sam Altman, seorang pengusaha teknologi asal Amerika Serikat dan salah satu pendiri Chat GPT juga mengatakan, kemampuan AI setara dengan lulusan doktor.

"Kemungkinan mereka terpancing untuk mencobanya setelah dari hasil pengujian menunjukkan AI memberikan hasil yang lebih berkualitas," tutur Firman.

Firman menilai, penggunaan AI dalam penyusunan riset secara kebablasan akan memicu peneliti melakukan aksi plagiat. Kondisi ini terjadi ketika peneliti menggunakan hasil penelitian orang lain yang ditampilkan AI kemudian diakui sebagai miliknya.

Ia pun mengatakan, peneliti yang memanipulasi riset dengan menggunakan AI hingga level konferensi internasional memiliki kemampuan intelektual di atas rata-rata. Meskipun perbuatan mereka cacat secara etis.

"Saya yakin peneliti seperti ini memiliki kemampuan tinggi. Mereka akan menghilangkan ciri-ciri AI dalam hasil risetnya, seperti menganti gaya bahasa yang kaku," katanya.

Ia menyarankan para peneliti harus menanamkan dalam dirinya sikap filter etis meskipun AI menawarkan hasil riset yang berkualitas. "Seorang peneliti harus memiliki batasan apakah dirinya layak menggunakan hasil riset orang lain sebagai miliknya," ujarnya.

Integritas kampus

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia atau JPPI, Abdullah Ubaid Matraji mengatakan, dugaan manipulasi riset oleh sejumlah peneliti di Denmark menunjukkan defisitnya integritas perguruan tinggi di Indonesia.

Hal ini juga dinilai Ubaid telah mencoreng bangsa serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisainstek) di mata dunia internasional.

"Penyelesaian masalah ini tidak cukup hanya dengan minta maaf. Kemendiktisainstek menjadikan hal ini sebagai pelajaran untuk menata kampus lebih baik terutama melahirkan hasil riset yang beretika,” ujarnya.

Ia menuturkan, penggunaan AI sebenarnya tidak dilarang dalam kegiatan penelitian sebagai bahan literasi. Akan tetapi, cara tersebut dinyatakan salah ketika hasil riset yang dikumpulkan bukan berasal dari penelitian di lapangan namun menggunakan AI.

"Kasus seperti ini sudah sering terjadi bahkan melibatkan dosen hingga guru besar. Banyak jurnal internasional yang dihasilkan ternyata menggunakan hasil riset abal-abal," kata Ubaid.

Ia berpendapat, pemicu masalah ini ketika kampus berlomba-lomba mengejar peringkat tinggi atau meningkatkan nilai akreditasi. Upaya yang dilakukan lebih berfokus pada kuantitatif bukan pada kualitas riset itu berdampak bagi kehidupan masyarakat.

"Kampus lebih fokus mengejar peringkat dan akreditasi yang tinggi dengan melahirkan banyak jurnal internasional," ucapnya.

Tidak tolerir

Sementara itu, ITB mengakui bahwa salah satu alumnusnya yang bernama Prihantini diduga terlibat manipulasi riset dalam sebuah konferensi ilmiah di Denmark.

Prihantini merupakan lulusan Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020. Dia telah lulus pada tahun 2022.

Sementara itu, untuk pendidikan strata satu, Prihantini merupakan alumnus Program Studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Dekan FMIPA ITB Aep Patah, Kamis (28/5/2026), mengatakan, materi yang dipresentasikan Prihantini dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis ataupun aktivitas akademik di ITB.

Adapun tesis Prihantini saat menempuh studi magister di ITB berjudul ”Kajian Analitik Gelombang Air akibat Longsoran pada Pantai Miring”.

Aep menegaskan, ITB berkomitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab.

"ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian, " kata Aep.

Baca JugaKasus Pemalsuan Riset di Konferensi Internasional, UNY Cek Dugaan Keterlibatan Alumninya


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Impor Minyak Mentah Bisa Lewat BLU, Aspermigas Desak Transparansi
• 2 jam lalubisnis.com
thumb
Petani Swadaya Mengeluh Harga TBS Sawit Anjlok hingga di Bawah HPP
• 5 jam laluidxchannel.com
thumb
Diduga Disumpah Pakai Al-Quran, Warga Desa di Bekasi Siap Dapat Azab jika Tak Pilih Kades di Pebayuran Viral
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Me(r)atapi, eh Me(n)atapi, Fenomena Pembeludakan Alumni Cumlaude
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Pidato Kepala Negara Berisi Fakta dan Bukan Apologi
• 16 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.