Mendengar disabilitas bernyanyi di megahnya Masjid Istiqlal Jakarta

antaranews.com
2 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Suasana fajar di Stasiun Bojonggede, Bogor, Jawa Barat pagi itu masih berselimut kabut saat Dika dan saudaranya Niar bergegas mengejar kereta komuter paling awal untuk menuju ke Jakarta.

Hari itu bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1447 Hijriyah, ketika jutaan orang bersiap berkumpul bersama keluarga, kedua perempuan ini justru memilih menempuh perjalanan puluhan kilometer demi menjemput rezeki yang mekar setahun sekali di jantung Ibu Kota.

Langkah kaki mereka akhirnya tertambat di pelataran gerbang Masjid Istiqlal, persis menghadap ke Gereja Katedral yang berdiri anggun di seberang jalan. Begitu khotbah selesai dan jamaah mulai mengalir keluar, Dika langsung sigap.

Jemarinya yang kokoh mencengkeram erat gagang pengeras suara jinijng, lalu memikulnya ke pundak. Bertumpu pada sebatang tongkat di tangan kanan, perempuan tunanetra ini menarik napas dalam-dalam, mendekatkan mikrofon ke bibir dan mulai bernyanyi.

“Kalau hari raya begini biasanya jamaah jauh lebih ramai, dan pemurah,” bisik Niar sambil sesekali membetulkan posisi berdiri Dika agar tidak terdorong oleh arus manusia yang kian padat.

Bagi Dika, riuh langkah kaki dan wangi parfum hari raya yang berseliweran di sekitarnya adalah penanda bahwa panggunggnya telah dimulai. Melalui indra pendengarannya yang tajam, ia menangkap setiap dinamika di pelataran itu sebagai peluang.

Senandung lagu religi yang keluar dari tenggorokannya mengalun jernih, membelah kebisingan kota hingga seketika mengubah pelataran menjadi ruang penuh kehangatan. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut bagi Dika dan Niar menjadikan Istiqlal sebagai tumpuan harapan di hari besar keagamaan.

Modal mereka sebenarnya sangat sederhana, yakni sebuah speaker mini elektrik hasil modifikasi, mikrofon dan bakat vocal kang rapi nan otentik hasil dari latihan keterampilan yang sempat didapatkannya kala diasuh asrama sosial khusus tunanetra beberapa tahun lalu.

Keahlian itulah yang menyelamatkan martabat mereka di kerasnya jalanan Jakarta. Ketimbang menengadahkan tangan memelas iba, Dika memilih bersuara, menawarkan karya yang jujur untuk mengetuk pintu hati sesama.

Pilihan menjadi pemusik jalanan ini adalah langkah paling masuk akal yang bisa diambil Dika demi menyambung hidup keluarga. Di hari-hari biasa, ia dan Niar harus rela berpindah-pindah menysuri kawasan perkantoran dan pasar di Jakarta Timur - Jakarta Selatan. Pendapatanya tak pernah pasti.

“Kalau lagi sepi, dapat Rp100 ribu saja sudah kami syukuri. Tapi kalau hari baik, ya Alhamdulillah bisa lah ngantongin duit Rp300 ribu untuk dibawa pulang,” tutur Niar ramah.

Atmosfer hari raya di Istiqlal selalu menjanjikan cerita berbeda. Kemurahan hati mereka yang baru saja menunaikan ibadah seringkali membuat kotak swadaya mereka terisi tumpukan uang. Belum lagi yang didapatkan dari dompet digital. Rata-rata dalam seharian penuh dermawan memberi mereka uang dengan pemindaian kodebatang di atas Rp5 ribu, secara keseluruhan mereka bisa mengumpulkan Rp500 ribu-600 ribu-an.

Di balik optimisme

Namun, di balik optimisme yang membubung setiap lebaran, juga tersimpan sekelumit cerita getir tentang jaring pengamanan sosial yang belum berpihak pada mereka.

Dika berkisah, rumahnya di Bogor sudah berkali-kali didatangi petugas untuk didata agar bisa mendapatkan bantuan klaster Program Keluarga Harapan (PKH) dari pemerintah. Sayangnya, hingga hari ini, bantuan tunai khusus disabilitas yang dinantikan itu tak kunjung ada.

“Didata sudah sering, tetapi sampai sekarang belum pernah dapat bantuan, BLT, PKH itu. Ya, tidak apa-apa juga, kami tidak mesti patah semangat. Jalani saja yang ada, percaya rezeki tidak akan tertukar,” kata dia.

Tantangan memperoleh pekerjaan formal yang inklusif bukan hanya dialami Dika dan rekan-rekannya. Data Kementerian Sosial yang mengacu dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menujukkan jumlah penyandang disabilitas sensorik netra di Indonesia mencapai sekitar 4,29 juta jiwa. Sebagian dari mereka masih menghadapi keterbatasan akses pekerjaan, bantuan sosial hingga ruang publik yang ramah disabilitas.

Lantas jalananlah yang akhirnya menjadi ruang mereka untuk bertahan hidup.

Dika memilih untuk terus bergerak mandiri. Suaminya yang juga seorang penyandang disabilitas sehari-hari bekerja sebagai pemandu jalanan bagi sesama mereka di Jakarta. Pasangan ini rela menitipkan kedua anak mereka yang masih bersekolah di rumah nenek, demi memastikan biaya pendidikan dan kebutuhan harian tetap terpenuhi dari hasil keringat sendiri.



Penyandang disabilitas mencari rezeki dengan bernyanyi menghibur jamaah shalat Idul Adha 1447 Hijriyah di Masjid Istiqlal Jakarta, Rabu (27/5/2026). (ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo)

Dapat dengan mudah ditemui, ada lebih dari tujuh penyanyi tunanetra laki-laki maupun perempuan yang manggung di seputaran kawasan Masjid Istqlal pagi itu. Mereka senasib dan sepenanggungan tetapi kompak menolak untuk menyerah dengan kehidupan apalagi hingga meneggadahkan tangan menjadi pengemis.

Di antara mereka juga ada Salma (50), yang tampak setia berdiri menemani Yuni (30). Penyandang tunanetra asal Kendari, Sulawesi Tenggara, itu bernyanyi di sudut lain Masjid Istiqlal. Tidak hanya piawai menyanyikan lagu Islami, genre pop-rock melayu yang banyak dipopulerkan grup musik Malaysia juga disajikannya untuk menghibur.

Salma yang memutuskan pensiun dini dari perusahaan swasta tersebut sudah lima tahun terakhir meluangkan waktu untuk menjadi pendamping sukarela bagi Yuni.

Di mata Salma, keterbatasan lapangan kerja formal dan belum meratanya bantuan sosial adalah alasan utama mengapa para penyandang disabilitas terpaksa bertahan di jalanan.

“Mereka ini sebetulnya punya kemandirian yang tinggi. Untuk dapur sehari-hari modal utamanya ya kemampuan olah vokal, dengan speaker jinjing ini,” kata Salma. Melalui lantunan lagu yang mengalun di bawah terik matarahi mereka terus menaruh harapan agar nilai-nilai keadilan sosial dan kemanusiaan yang dikhotbahkan dari mimbar masjid dapat benar-benar menyentuh kehidupan komunitas tunanetra mandiri ini.

Beruntung, siang itu Jakarta ramah. Para petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Pol PP) yang berjaga di sekitar Istiqlal bertindak sangat kooperatif dan humanis. Lalu Dika dan teman-temannya bisa pulang membawa kebaggaan dari hasil jerih payah mereka dan kemurahan hati seseorang.

Aparat hanya memberikan arahan secara persuasif agar keberadaan mereka tidak menghambat akses keluar masuk jamaah. Termasuk pula bagi para pedagang kaki lima, yang diperbolehkan berniaga menempati ruang-ruang yang dinilai aman. Dan mengharuskan mereka untuk berkemas setelah jam makan siang berakhir.

Bagaimanapun ketertiban dan kebersihan lingkungan menjadi prioritas utama, sehingga umat Islam bisa beribadah dengan khusuk dan para pelancong bisa menikmati secara utuh kemegahan Masjid Istiqlal yang bersanding dengan keindahan Gedung Katedral.




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kerbau Donald Trump Batal Disembelih Saat Iduladha di Bangladesh, Ini Nasibnya Sekarang
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Dari Pemeriksaan Suhu hingga Vaksinasi, Kongo Berjuang Tekan Penyebaran Wabah Ebola
• 3 jam lalurepublika.co.id
thumb
Menag Pastikan Pemotongan 65 Sapi dan 13 Kambing Kurban di Masjid Istiqlal Sesuai Standar
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Arema Bakal Cuci Gudang, Bisa Lepas Separuh Pemain di BRI Super League 2025/2026
• 7 jam lalubola.com
thumb
MNC Sekuritas dan Gerbangtara Dorong Literasi Investasi Perempuan Lewat Kartini Online Summit 2026
• 8 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.