JAKARTA, KOMPAS.com - Lebih dari 19 tahun Maria Catarina Sumarsih berdiri di depan Istana Negara setiap hari Kamis sejak 18 Januari 2007.
Namanya Aksi Kamisan.
Lewat aksi itu, di balik payung dan pakaian yang serba hitam, Sumarsih terus mempertanyakan otak di balik pembunuhan putranya.
Putra Sumarsih, Bernadinus Realino Norma Irawan atau Wawan, adalah mahasiswa Universitas Atma Jaya Jakarta, salah satu korban Tragedi Semanggi I yang tewas pada 13 November 1998.
“Aksi Kamisan itu adalah suara kebenaran. Kebenaran itu bersinar. Ketika kebenaran bersinar, orang yang bersalah takut menghadapi,” kata Sumarsih dalam podcast Gaspol! yang tayang di YouTube Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Baca juga: Sumarsih Sebut Indonesia Emas 2045 Sulit Terwujud Tanpa Dilaksanakannya Agenda Reformasi
Sumarsih sempat berharap banyak ketika saat itu Presiden BJ Habibie mengatakan bahwa pemerintah akan menuntaskan kasus pelanggaran HAM Semanggi I, Semanggi II, dan Trisakti melalui Pengadilan HAM ad hoc.
Namun, janji itu berujung kekecewaan lantaran sampai Habibie lengser, tak ada perkembangan berarti terhadap kasus yang menimpa putranya.
“Janji Presiden Habibie, pemerintah akan mengusut penembakan mahasiswa di semanggi dengan seadil-adilnya, sesuai hukum yang berlaku,” ujar Sumarsih.
Upaya Sumarsih tak berhenti sampai di situ, ia pernah membawa kasus ini ke DPR RI di mana legislator lantas membentuk panitia khusus (pansus). Namun, ujungnya, kasus ini tetap buntu dan cenderung dipolitisasi.
Baca juga: Sumarsih soal Penembak Wawan: Kalau Saya Memaafkan, Memaafkan kepada Siapa?
Tak ingin diam, Sumarsih dan beberapa keluarga korban pelanggaran HAM akhirnya menyelenggarakan aksi diam di depan Istana Negara, menyuarakan keadilan.
Aksi inilah yang kemudian dikenal sebagai Aksi Kamisan.
Sumarsih dan perwakilan Aksi Kamisan pernah diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2008 dan Presiden Joko Widodo pada 2018.
Namun, tetap saja, pertemuan itu tak mampu mengungkap dalang penembakan Wawan.
“Kami ini dari periode ke periode setiap pemilu ditipu oleh para presiden dan wakil presiden,” tutur Sumarsih.
Simak obrolan selengkapnya dalam podcast Gaspol! yang tayang perdana hari ini pukul 20.00 WIB.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




