Menhan dan Cerita Prajurit TNI Jadi Imam dan Penceramah di Kampung-Kampung

kompas.com
4 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bercerita tentang wajah lain prajurit TNI yang kini ditempatkan dalam Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan di berbagai daerah.

Menurut dia, keberadaan prajurit tak hanya berkaitan dengan tugas pertahanan dan patroli keamanan, tetapi juga mulai hadir dalam kehidupan sosial masyarakat di kampung-kampung.

Di sejumlah wilayah, kata Sjafrie, prajurit ikut menjadi imam masjid, penceramah, membantu kegiatan gereja, hingga mengajar anak-anak di lapangan dan sekolah.

“Di kampung-kampung ada masjid, ada gereja, sedikit sekali pura. Tapi prajurit kita yang satu batalyon itu 1.190 orang, itu terdiri dari mereka-mereka yang ada yang dari pesantren, dan ada yang mengerti bagaimana rohaniawan non-muslim,” ujar Sjafrie dalam rapat kerja bersama Komisi I DPR RI, 19 Mei 2026, dikutip dari siaran YouTube TVR Parlemen, Kamis (28/5/2026).

Baca juga: Menhan Sjafrie Minta Prajurit TNI di Papua Jaga Hubungan Baik dengan Rakyat

Menurut Sjafrie, sebagian prajurit ikut membaur dalam kegiatan masyarakat.

Ada yang menjadi khatib dan imam di masjid, sementara lainnya terlibat dalam aktivitas sosial keagamaan bersama warga.

“Itu masuk ke gereja bersama-sama dengan masyarakat. Bersama-sama dengan masyarakat ada di masjid. Dia bisa jadi khatib, dia bisa jadi imam di masjid,” ungkap Sjafrie.

Sjafrie mengatakan, keterlibatan prajurit dalam kehidupan sosial masyarakat itu menjadi bagian dari konsep Batalyon Teritorial Pembangunan, yang kini tengah dikembangkan Kementerian Pertahanan bersama TNI.

Pemerintah menargetkan pembentukan 750 batalyon dalam lima tahun ke depan untuk memperkuat pengamanan wilayah sekaligus mendukung pembangunan di daerah.

Setiap tahun, pemerintah menargetkan pembentukan sekitar 150 batalyon baru.

“Insya Allah di tahun 2026 seluruh kabupaten di wilayah Jawa sudah dikawal oleh satu batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan,” kata dia.

Baca juga: Prajurit TNI AL, Pratu Zalendra Ferdika, Gugur Saat Pendidikan Penanggulangan Teror

Selain menjaga keamanan wilayah, batalyon tersebut disebut memiliki fungsi sosial dan pembangunan.

Sjafrie mengatakan, kehadiran prajurit di daerah juga ikut menghidupkan kembali sistem keamanan lingkungan atau siskamling yang sebelumnya mulai ditinggalkan.

Menurut dia, patroli rutin yang dilakukan prajurit membuat masyarakat merasa lebih aman dan dekat dengan keberadaan TNI.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

“Ini yang membuat penguatan terhadap lingkungan sosial. Jadi masyarakat merasa agak hangat dengan keberadaan batalyon teritorial ini,” ujar Sjafrie.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hadapi Aturan Ekspor Satu Pintu, MGRO Sesuaikan Operasional 
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
Kamis Mlipis, ketika bahasa kembali bernapas
• 14 jam laluantaranews.com
thumb
Ketua KPK Ingatkan Jajaran Ekstra Hati-hati Terapkan KUHP dan KUHAP Baru
• 4 jam lalumatamata.com
thumb
Polda Riau Potong 195 Hewan Kurban, Daging Dibagikan Hingga Pelosok
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
KPPPA susun strategi edukasi cegah siswa terpapar radikalisme online
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.