Oleh: Muliadi Saleh
Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Hari Tasyrik menyimpan kedalaman makna yang melampaui ruang ritual. Ia datang setelah gema takbir Iduladha perlahan mereda. Setelah darah qurban mengalir sebagai simbol ketundukan. Setelah jutaan manusia di padang Arafah kembali menjadi debu yang sadar akan asal-usulnya.
Namun justru di hari-hari itulah manusia diuji. Apakah pengorbanan hanya berhenti pada hewan, ataukah ia benar-benar menyembelih ego, kesombongan, dan berhala-berhala batin yang selama ini diam-diam disembah?
Hari Tasyrik sering dipahami sekadar sebagai hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah. Nabi Muhammad SAW menyebutnya sebagai ayyamu aklin wa syurbin wa dzikrillah — hari-hari untuk makan, minum, dan mengingat Allah. Sebuah keseimbangan yang indah antara kenikmatan dunia dan kesadaran spiritual. Islam tidak mengajarkan asketisme yang memusuhi kehidupan. Makan adalah ibadah ketika diikat oleh syukur. Kenikmatan menjadi cahaya ketika tidak menjelma ketamakan.
Tetapi menariknya, kata tasyrik sendiri memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan proses menjemur daging di bawah sinar matahari. Sebagian ulama menghubungkannya dengan kata syarq — timur atau matahari terbit. Ada unsur cahaya di dalamnya. Ada simbol terang yang mengawetkan kehidupan. Seolah Islam ingin mengatakan bahwa iman harus dijemur di bawah cahaya kesadaran, agar tidak membusuk dalam ruang gelap hawa nafsu.
Di titik inilah perenungan menjadi menarik, apakah ada hubungan maknawi antara tasyrik dan musyrik?
Secara linguistik, keduanya memang berbeda akar. Tasyrik tidak identik dengan syirik. Tetapi dalam ruang refleksi spiritual, keduanya seperti dua kutub yang saling mengingatkan. Hari Tasyrik adalah momentum penguatan tauhid setelah ibadah qurban, sedangkan kemusyrikan adalah pengkhianatan paling mendasar terhadap tauhid itu sendiri.
Tasyrik adalah kesadaran tentang Allah sebagai pusat kehidupan. Musyrik adalah memindahkan pusat itu kepada selain-Nya.
Dulu manusia menyembah patung, pohon, matahari, atau berhala batu. Kini bentuknya berubah jauh lebih halus dan canggih. Berhala modern tidak selalu berdiri di kuil-kuil. Ia hidup di gedung pencakar langit, di layar gawai, di ruang politik, bahkan di dalam hati manusia sendiri.
Ada manusia yang menjadikan uang sebagai tuhan. Seluruh hidupnya diukur oleh angka dan kepemilikan. Nilai kemanusiaan runtuh di hadapan transaksi. Kebenaran dibeli. Integritas disewakan. Hati diperdagangkan.
Ada pula yang menyembah kekuasaan. Jabatan menjadi kiblat. Demi mempertahankan kursi, manusia rela memelintir nurani, memecah persaudaraan, bahkan mengorbankan keadilan. Kekuasaan tidak lagi menjadi amanah, tetapi berhala baru yang ditakuti sekaligus dipuja.
Sebagian lain menyembah citra diri. Era digital melahirkan “altar popularitas” yang membuat manusia haus pengakuan. Ukuran kemuliaan bergeser menjadi jumlah pengikut, tanda suka, dan validasi sosial. Manusia modern tampak bebas, padahal diam-diam diperbudak oleh pandangan manusia lain.
Inilah musyrik modern yang sering tidak disadari.
Syirik bukan hanya soal sujud kepada berhala. Syirik adalah ketika sesuatu lebih kita takuti daripada Allah, lebih kita cintai daripada kebenaran, dan lebih kita patuhi daripada suara nurani yang jernih.
Al-Qur’an memberi peringatan yang sangat halus namun mengguncang:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
(QS. Al-Jatsiyah: 23)
Ayat ini terasa semakin relevan di zaman sekarang. Peradaban modern mengalami kemajuan teknologi yang luar biasa, tetapi pada saat yang sama menghadapi krisis makna yang mendalam. Manusia mampu menaklukkan langit, tetapi gagal menaklukkan dirinya sendiri. Kita menciptakan kecerdasan buatan, tetapi sering kehilangan kebijaksanaan kemanusiaan. Kita membangun jaringan global, tetapi hati semakin kesepian.
Di tengah dunia seperti itu, Hari Tasyrik hadir membawa pesan yang sangat mendasar yakni kembali mengingat Allah di tengah kenikmatan hidup.
Bukan lari dari dunia, tetapi tidak diperbudak dunia.
Makan, tetapi tidak rakus. Memiliki harta, tetapi tidak menyembahnya. Memegang jabatan, tetapi tidak mabuk kuasa. Menggunakan teknologi, tetapi tidak kehilangan jiwa.
Tauhid sejati bukan sekadar konsep teologis yang dihafal dalam kitab-kitab akidah. Tauhid adalah cara memandang hidup. Ia membebaskan manusia dari segala bentuk perbudakan selain kepada Allah. Orang yang bertauhid sejati tidak mudah tunduk kepada tekanan massa, manipulasi kekuasaan, atau godaan materi, sebab pusat hidupnya hanya satu.
Karena itu, ibadah qurban sesungguhnya bukan hanya tentang menyembelih hewan, melainkan latihan menyembelih “aku” yang paling dalam. Menyembelih egoisme, keserakahan, dan rasa memiliki yang berlebihan.
Nabi Ibrahim AS tidak sedang diuji tentang kemampuan menyembelih anaknya. Ia diuji tentang apa yang paling ia cintai. Dan setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing: sesuatu yang begitu dicintai hingga berpotensi menggantikan posisi Tuhan di dalam hati.
Di situlah garis tipis antara Tasyrik dan Musyrik menemukan makna simboliknya.
Tasyrik mengajarkan dzikir. Musyrik lahir dari lupa.
Tasyrik menghadirkan syukur. Musyrik tumbuh dari kufur.
Tasyrik menjaga tauhid, musyrik menghancurkannya.
Tasyrik menuntun manusia pada cahaya tauhid. Musyrik menyeret manusia kepada kegelapan penyembahan selain Allah, dalam bentuk apa pun.
Mungkin karena itulah setelah Iduladha, Islam tidak langsung menutup rangkaian spiritualitasnya. Ada Hari Tasyrik agar terus mengingat Allah. Agar manusia tidak kembali membangun berhala-berhala baru setelah selesai beribadah.
Sebab sejarah menunjukkan bahwa menghancurkan patung jauh lebih mudah daripada menghancurkan kesombongan di dalam hati.
Dan mungkin, musyrik paling berbahaya hari ini bukanlah mereka yang terang-terangan menyembah berhala, melainkan mereka yang merasa bertuhan tetapi hidupnya sepenuhnya dikendalikan oleh hawa nafsu, ambisi, dan ketakutan duniawi.
Di zaman ketika segala sesuatu bisa diperdagangkan, tauhid menjadi tindakan perlawanan paling asazi sekaligus paling agung.
Ia menjaga manusia tetap merdeka.
Ia mengembalikan pusat kehidupan kepada Allah.
Dan ia mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun kemajuan peradaban, manusia akan tetap kehilangan arah ketika hatinya dipenuhi “tuhan-tuhan kecil” selain Dia.





