Bisnis.com, JAKARTA — Kebijakan Bank Indonesia mengerek BI Rate ke level 5,25% akan mengubah arah aliran dana asing di pasar keuangan domestik.
Investor asing diprediksi lebih tertarik masuk ke pasar obligasi dibandingkan dengan pasar saham karena imbal hasil yang semakin kompetitif.
Senior Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Nafan Aji menilai kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan daya tarik investasi pada instrumen pendapatan tetap, khususnya Surat Berharga Negara (SBN). Kondisi tersebut dinilai dapat memicu capital inflow ke pasar obligasi, sedangkan pasar saham berpotensi mengalami tekanan dan volatilitas dalam jangka pendek.
Menurut Mirae, kenaikan BI Rate umumnya diikuti oleh peningkatan yield obligasi pemerintah. Ketika imbal hasil SBN naik, spread terhadap US Treasury menjadi lebih lebar sehingga instrumen fixed income Indonesia terlihat lebih menarik di mata investor global.
“Pasar obligasi Indonesia menjadi lebih menarik karena menawarkan risiko yang relatif terukur dengan imbal hasil yang lebih tinggi,” ujarnya dalam riset tertulisnya yang dikutip, Kamis (28/5/2026).
Di sisi lain, pasar saham diperkirakan menghadapi fase rebalancing seiring pergeseran preferensi investor asing dari aset berisiko ke instrumen yang lebih defensif. Kondisi ini berpotensi menekan pergerakan IHSG dalam jangka pendek.
Baca Juga
- Sektor Riil Hadapi Tekanan Ganda dari Rupiah dan BI Rate, Ini Strategi Dunia Usaha
- Kenaikan BI Rate Bikin Emiten Lebih Selektif Ekspansi dan Tambah Utang
- Emiten Properti ASRI, MTLA Cs Cermati Efek BI Rate terhadap Bunga KPR
Selain memengaruhi arus modal asing, kenaikan BI Rate juga dinilai membawa dampak berbeda terhadap masing-masing sektor di pasar saham.
Sektor properti dan real estate diperkirakan menjadi salah satu yang paling terdampak negatif. Kenaikan suku bunga acuan berpotensi mendorong naiknya bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), yang pada akhirnya dapat menekan daya beli masyarakat dan memperlambat penjualan properti.
Sektor teknologi juga diperkirakan menghadapi tekanan cukup besar. Mayoritas perusahaan teknologi masih bergantung pada pendanaan eksternal untuk mendukung ekspansi bisnis. Dalam kondisi suku bunga tinggi, biaya pendanaan menjadi lebih mahal sehingga menekan valuasi saham berbasis pertumbuhan atau growth stocks.
Selain itu, emiten siklikal dengan rasio utang tinggi dan struktur pinjaman berbunga mengambang (floating rate) juga dinilai rentan mengalami lonjakan beban keuangan.
Sebaliknya, beberapa sektor defensif justru diperkirakan mendapat sentimen positif dari kenaikan BI Rate. Sektor perbankan, khususnya bank-bank kelompok KBMI IV, dinilai berpotensi menikmati peningkatan margin bunga bersih atau Net Interest Margin (NIM).
Hal ini terjadi karena perbankan memiliki ruang untuk menaikkan bunga kredit lebih cepat dibandingkan bunga simpanan atau deposito dalam jangka pendek.
Selain perbankan, sektor konsumer primer atau noncyclicals juga dinilai lebih tahan terhadap tekanan suku bunga tinggi karena permintaan produknya cenderung stabil di berbagai kondisi ekonomi.
Kenaikan BI Rate juga diperkirakan berdampak langsung terhadap likuiditas pasar modal domestik. Kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi memicu pengetatan likuiditas atau liquidity squeeze di pasar keuangan.
Mirae menjelaskan sebagian dana investor diperkirakan beralih ke instrumen berbasis suku bunga seperti SRBI, SVBI, maupun deposito perbankan yang kini menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko relatif rendah.
Akibatnya, likuiditas yang berputar di pasar saham berpotensi menurun. Volume dan nilai transaksi harian di Bursa Efek Indonesia diperkirakan mengalami perlambatan karena pelaku pasar cenderung memilih strategi wait and see atau memindahkan dananya ke instrumen kas dan obligasi.
“Karena cost of capital meningkat, likuiditas di lantai bursa biasanya ikut mengering dan investor menjadi lebih berhati-hati,” ujarnya.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.





