Penulis buku best seller tentang trading dan investasi, Desmond Wira, mengungkapkan bahwa Juni 2026 akan menjadi titik awal perekonomian Indonesia semakin sulit ke depan.
Berdasarkan informasi dari sektor riil, harga gas industri diperkirakan melonjak lebih dari 50% pada Juni 2026, dari semula 13–14 USD per MMBtu menjadi sekitar 21 USD per MMBtu. Kenaikan ini dipicu oleh menguatnya harga energi dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah.
"Ekonomi ke depannya akan semakin sulit. Dapat info dari salah satu sumber di sektor riil, harga gas industri akan naik di bulan Juni 2026. Dari harga semula 13-14 USD per MMBtu menjadi sekitar 21 USD per MMBtu. Berarti naiknya sekitar 50% lebih," tulis Dasmond, dikutip dari akun X pribadinya, Kamis (28/5).
"Penyebab kenaikan apalagi kalau bukan menguatnya harga energi dunia dan melemahnya rupiah," imbuhnya.
Gas industri digunakan secara luas di pabrik-pabrik untuk memproduksi barang kebutuhan sehari-hari. Lonjakan harga gas akan meningkatkan biaya produksi, yang pada akhirnya memaksa harga barang-barang konsumsi ikut naik.
"Entar liat aja mulai bulan Juni dst akan keliatan efeknya. Beban perusahaan naik. Harga barang naik. Daya beli tidak naik. Konsumen mengurangi konsumsi. Akhirnya ekonomi menjadi semakin sulit, baik buat produsen dan konsumen," jelasnya.
Baca Juga: Eropa Terancam 'Bangkrut' Karena Ekonomi Hijau
Baca Juga: Purbaya Berkelakar Ngaku Stres Rupiah Sentuh Rp17.800: Kan Ekonomi Bagus
Desmond menilai, kenaikan inflasi biasanya berdampak negatif terhadap pasar saham. Secara umum, pertumbuhan emiten akan tertekan, meski terkadang pasar bergerak berlawanan dengan kondisi ekonomi.
Desmond mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak menghadapi situasi ini dengan mengurangi belanja barang yang tidak perlu, perbanyak menabung, dan siapkan bumper finansial untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi





