HARIAN.FAJAR.CO.ID , MAKASSAR — Musim telah usai, tetapi pekerjaan rumah PSM Makassar justru baru dimulai. Klub kebanggaan masyarakat Sulawesi Selatan itu menutup kompetisi Super League 2025/2026 dengan hasil yang jauh dari harapan. Bukan sekadar gagal bersaing di papan atas, Pasukan Ramang bahkan finis sebagai tim paling buncit di antara peserta Super League musim depan. Sebuah capaian yang menyisakan luka bagi suporter, manajemen, hingga para pemain sendiri.
Di tengah situasi yang belum sepenuhnya stabil, rumor hengkangnya sejumlah pemain utama semakin membuat suasana panas. Nama-nama pemain asing dan pilar penting tim mulai dikaitkan dengan klub besar lain seperti Persebaya Surabaya, Persib Bandung, hingga Persija Jakarta. Isu tersebut berembus bersamaan dengan belum adanya kepastian soal pelatih kepala yang akan memimpin PSM musim depan.
Namun di balik situasi yang terlihat rumit itu, manajemen PSM disebut tengah bergerak cepat. Salah satu agenda terdekat adalah menunjuk pelatih asing baru sebagai fondasi awal pembenahan tim. Sosok pelatih dinilai menjadi kunci utama untuk menentukan arah permainan, komposisi pemain, hingga identitas baru yang ingin dibangun klub musim depan.
Asisten pelatih PSM, Ahmad Amiruddin, menegaskan bahwa evaluasi menyeluruh segera dilakukan sebelum memasuki persiapan musim baru. Menurutnya, musim ini menjadi pengalaman pahit yang harus dijadikan pelajaran agar kesalahan serupa tidak kembali terjadi.
“Tentu hal paling pertama kami melakukan evaluasi dulu, kemudian kami serahkan ke manajemen. Musim ini sangat berat, dan ini menjadi evaluasi kita semua agar lebih baik musim depan,” ujarnya.
Bagi Ahmad Amiruddin, langkah paling mendesak saat ini adalah memastikan siapa sosok pelatih yang akan menakhodai tim. Sebab setelah pelatih ditentukan, barulah proses pembentukan skuad bisa berjalan lebih terarah.
“Saya rasa yang paling penting bagi manajemen adalah menunjuk pelatih baru. Kalau sudah ada pelatih, dia yang akan menentukan komposisi pemain dan seperti apa tim ke depannya,” jelasnya.
Pernyataan itu sekaligus mengisyaratkan bahwa PSM tidak ingin terlalu lama berada dalam ketidakpastian. Apalagi kompetisi musim depan diperkirakan akan berlangsung lebih ketat. Klub-klub rival mulai bergerak cepat membangun kekuatan, sementara PSM masih berkutat pada evaluasi internal dan rumor perombakan besar-besaran.
Di tengah tekanan tersebut, kelompok suporter tetap mencoba berdiri di belakang tim. Sekjen Ref Gank, Sadakati Sukma, menilai bahwa persoalan utama PSM bukan hanya soal teknis di lapangan, melainkan juga komunikasi internal yang harus dibangun lebih sehat dan solid.
Menurutnya, chemistry menjadi fondasi penting yang sempat hilang dalam perjalanan musim ini. Karena itu, ia berharap manajemen mampu membangun hubungan yang lebih baik dengan seluruh elemen klub, mulai dari pelatih, pemain, hingga suporter.
“Manajemen harus punya komunikasi yang baik antar sesama manajemen, dengan pelatih, pemain, suporter, dan stakeholder terkait. Supaya chemistry bisa terbangun dengan baik,” ucapnya.
Sadakati juga menyinggung periode sulit yang pernah dialami PSM beberapa musim lalu. Ia berharap CEO PSM saat ini, Sadikin Aksa, bisa belajar dari momentum kebangkitan klub pada musim 2021/2022. Saat itu, PSM sempat terseok-seok sebelum akhirnya bangkit dan meraih gelar juara pada musim berikutnya di era kepemimpinan Munafri Arifuddin.
“Kalau Pak Sadikin masih memimpin PSM, tidak ada salahnya belajar dari kejadian musim 2021/2022. Saat itu, PSM juga terseok-seok, tetapi musim berikutnya bisa angkat trofi. Itu kan berkat chemistry yang terbangun dengan baik,” katanya.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Dalam sejarahnya, PSM dikenal sebagai klub yang mampu bangkit dari tekanan. Klub tertua di Indonesia itu memiliki basis suporter besar dan loyalitas yang tetap terjaga bahkan ketika tim berada dalam situasi sulit.
Musim ini memang meninggalkan kekecewaan mendalam. Banyak pendukung merasa permainan tim kehilangan identitas. Pergantian pemain, performa yang tidak stabil, hingga inkonsistensi strategi membuat PSM sulit keluar dari tekanan sepanjang musim.
Meski demikian, dukungan dari tribun tidak pernah benar-benar hilang. Sadakati menegaskan bahwa suporter akan terus berada di belakang tim, tetapi ia juga mengingatkan pentingnya menjadi pendukung yang kritis dan cerdas.
“Saya meyakini, suporter pasti akan selalu mendukung PSM. Namun kami berharap juga, teman-teman suporter ini tidak menjadi fans fanatik buta, harus cerdas juga dalam mendukung, supaya tidak merugikan klub juga,” ujarnya.
Suara evaluasi juga datang dari komunitas suporter lain. Anggota Komunitas VIP Utara (KVU), Sulyadi Abbas, menilai perubahan besar memang sudah tidak bisa dihindari. Ia menyebut PSM harus berani melakukan perombakan skuad, terutama terhadap pemain yang dianggap minim kontribusi sepanjang musim.
Menurutnya, pembentukan tim musim depan harus dilakukan berdasarkan kebutuhan taktik dan karakter permainan yang jelas, bukan sekadar mempertahankan nama besar pemain.
“PSM harus merombak komposisi pemain, jadi yang minim kontribusi, tidak terlalu dibutuhkan, dicoret saja. Ganti dengan pemain yang lebih dibutuhkan, sesuai dengan karakter tim,” katanya.
Kini, semua mata tertuju pada langkah manajemen dalam beberapa pekan ke depan. Penunjukan pelatih asing baru diprediksi menjadi titik awal arah baru PSM Makassar. Dari sana, proses pembentukan skuad, perekrutan pemain, hingga penyusunan target musim depan akan mulai terlihat.
Bagi publik Makassar, satu musim buruk bukan alasan untuk berhenti berharap. Sebab dalam sejarah panjang klub ini, PSM selalu punya cara untuk bangkit. Yang dibutuhkan sekarang bukan sekadar pergantian nama di bangku pelatih atau pemain baru di ruang ganti, tetapi keberanian membangun ulang fondasi tim dengan visi yang lebih jelas.
Dan ketika musim baru dimulai nanti, publik tentu berharap Pasukan Ramang kembali hadir bukan sebagai tim yang sekadar bertahan, melainkan sebagai penantang serius dalam perebutan gelar juara.





