Sejak hari pertama kedatangan jemaah di Tenda Mina, Rabu (27/5/2026) dini hari waktu Saudi, tepatnya pada Markas 80 jamaah haji reguler, antrian di kamar mandi masih terlihat penuh. Bahkan hampir tidak pernah berkurang hingga, Kamis (28/5/2026).
Pantauan suarasurabaya.net di Tanah Suci, kamar mandi laki-laki dan perempuan yang masing-masing hanya memiliki 20 bilik, termasuk dua bilik disabilitas, tidak mampu menampung tingginya kebutuhan jemaah setelah menjalani rangkaian ibadah di Arafah dan Muzdalifah.
Setibanya di Mina, sebagian besar jemaah ingin segera membersihkan diri sehingga antrean kamar mandi hampir tidak pernah sepi.
Antrean terparah terjadi menjelang waktu salat Subuh, Zuhur, dan Magrib. Waktu tunggu bahkan bisa mencapai sekitar satu setengah jam.
Jemaah harus berdesak-desakan di area kamar mandi karena ruang tunggu yang sempit. Dalam satu bilik, antrean bisa diisi hingga delapan orang, termasuk jemaah yang hanya ingin buang air kecil.
Beberapa kali jemaah berinisiatif mengatur antrean sendiri dengan membedakan bilik khusus mandi dan bilik untuk buang air kecil guna mengurangi waktu tunggu. Bahkan sebagian kamar mandi laki-laki terpaksa digunakan jemaah perempuan karena antrean yang tidak kunjung berkurang.
Kondisi tersebut membuat jemaah lansia dan disabilitas kesulitan. Mereka tidak mampu berdiri terlalu lama dalam antrean, sementara ruang gerak di area kamar mandi juga sangat terbatas akibat kepadatan jemaah. Selain itu, kamar mandi khusus disabilitas juga digunakan oleh jemaah lainnya karena tingginya antrean.
Antrian kamar mandi wanita di Mina tepatnya markas 80 jemaah haji reguler masih terlihat penuh, Kamis (28/5/2026). Foto: Widya suarasurabaya.netMuhammad Erfan Ketua Kloter 5 Embarkasi Surabaya menyampaikan, kondisi itu membuat sebagian jemaah berinisiatif mengupayakan tanazul bagi jemaah lansia, berisiko tinggi, dan disabilitas.
“Akibat antrean kamar mandi yang sangat panjang ini, ada jemaah yang berinisiatif memfasilitasi tanazul untuk jemaah lansia, risiko tinggi, dan disabilitas di Tenda Mina. Karena tidak ada fasilitas pemulangan ke hotel dari pemerintah, akhirnya para jemaah berkoordinasi sendiri dengan syarikah untuk pengadaan transportasi,” ujarnya kepada suarasurabaya.net.
Tanazul di Mina merupakan skema bagi jemaah, khususnya lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah risiko tinggi, untuk tidak bermalam atau mabit di Mina setelah melempar jumrah Aqabah.
Sebagai gantinya, jemaah langsung kembali ke hotel di Makkah demi menjaga kondisi kesehatan dan menghindari kepadatan ekstrem di Mina.
Sementara memasuki hari kedua di Mina, antrean kamar mandi masih terjadi meski tidak sepadat hari pertama. Kondisi itu dipengaruhi banyaknya jemaah yang memilih menjalani tanazul.(wid/bil/faz)




