Herman Budianto, relawan asal Indonesia yang tergabung dalam armada Global Sumud Flotilla 2.0, membagikan kisah kelamnya saat kapal pembawa bantuan untuk warga Gaza diadang dan dibajak secara brutal oleh tentara zionis Israel di perairan internasional.
Tujuan utama armada ini murni untuk menyelamatkan nyawa masyarakat sipil Palestina yang terkurung. Namun, niat baik tersebut justru dibalas dengan laras senjata dan penyiksaan fisik di luar batas kemanusiaan.
"Tujuan utama dari Global Sumud Flotilla adalah untuk membuka adanya blokade yang sekarang ini membikin sulit masyarakat di Gaza. Kita sangat mengkhawatirkan adanya kematian karena kelaparan dan tidak bisa ditangani karena langkanya obat," kata Herman dikutip dari Kontroversi Metro TV, Kamis 28 Mei 2026..
Diadang, Diikat, dan Disetrum
Upaya menembus blokade tersebut terhenti ketika tentara Israel mengepung armada dari berbagai penjuru. Herman bersaksi bahwa sejak detik pertama pasukan zionis naik ke atas kapal, teror fisik dan psikis langsung dimulai.
"Setelah kita di-intercept, mereka langsung mengikat kami. Dimasukkan ke bawah dalam posisi jongkok dan menunduk dengan dilakukan pemukulan-pemukulan dan juga penghinaan," ungkap Herman.
Penyiksaan semakin biadab ketika para relawan dipindahkan ke dalam kontainer di atas kapal perang Israel. Selama berhari-hari, mereka mengalami penyiksaan yang bertubi-tubi.
"Ada pemukulan, tendangan, setrum, disiram dengan air. Kita tidur di tempat yang ada airnya basah. Bahkan dilempari granat kejut yang menimbulkan luka cukup parah," tambahnya.
Baca Juga :
Indonesia Bersama Tujuh Negara Kecam Kekerasan Israel terhadap Relawan GSFPuncak kengerian terjadi ketika 482 relawan dari berbagai negara dibawa merapat ke pelabuhan Ashdod, Israel. Di tempat inilah Herman menyaksikan brutalitas militer Israel yang membabi buta, menghajar relawan tanpa peduli paspor negara Barat yang mereka pegang. Relawan asal Amerika Serikat, Jerman, Belanda, hingga Spanyol turut menjadi korban mematikan.
"Di Ashdod itu yang paling mengerikan. Saya mendengarkan teriakan meminta tolong dari laki-laki maupun perempuan... Kepala diinjak, punggung diinjak, ditendang. Ada sekitar 50-an (relawan) yang mengalami patah rusuk, tangan, dan kaki," kisah Herman.
Herman menegaskan bahwa tentara Israel sama sekali tidak memedulikan gender para relawan kemanusiaan tersebut. "Mereka tidak pandang bulu terkait dengan asal negaranya, usianya, termasuk gender. Teriakan-teriakan minta tolong dari wanita itu luar biasa, yang paling pilu saya dengarkan," ucapnya lirih.
Di tengah ancaman hukuman mati dan siksaan fisik yang membuat napasnya sesak hingga saat ini, Herman justru menolak untuk menyerah. "Kalau masyarakat Palestina yang benar-benar berjuang untuk kemerdekaan mereka, pasti penyiksaannya jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan kami. Jadi kami ini bukan apa-apa gitu," tegas Herman.
Saksikan Kesaksian Selengkapnya!
Seberapa kejam realitas blokade yang menahan napas warga Gaza saat ini? Dan bagaimana perjuangan para relawan dunia bertaruh nyawa menghadapi arogansi militer zionis demi sebuah misi kemanusiaan?
Kupas tuntas fakta di balik krisis kemanusiaan ini selengkapnya dalam program Kontroversi Metro TV episode: "Gaza Terkepung, Bantuan Dibendung".




