Bisnis.com, JAKARTA — Harga emas dan perak dunia kembali menguat di tengah kombinasi perlambatan ekonomi Amerika Serikat, pelemahan dolar AS, dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Melansir Kitco, Jumat (29/5/2026), harga emas di pasar spot pada perdagangan Kamis waktu setempat naik 0,89% ke level US$4.495 per troy ounce. Sementara itu, harga spot perak menguat 1,35% ke posisi US$75,53 per ounce.
Kontrak berjangka emas tercatat naik 1,14% ke level US$4.499,30 per troy ounce, menjadi kenaikan harian terbesar sejak awal Mei 2026. Sementara itu, kontrak berjangka perak menguat 1,36% ke posisi US$75,64.
Penguatan terjadi selepas data ekonomi AS menunjukkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) kuartal I/2026 direvisi turun menjadi 1,6% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar 2%.
Pada saat yang sama, inflasi personal consumption expenditures (PCE) April tercatat naik 3,8% secara tahunan.
Meski tekanan inflasi masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%, pelaku pasar mulai melihat tanda perlambatan ekonomi yang dapat membatasi ruang bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat dalam jangka panjang.
Baca Juga
- Para Pembeli Emas Antam yang Masih Gigit Jari Usai Liburan Iduladha 2026
- Teri Bajak Andalkan Cita Rasa Khas Medan dan Kemasan Travel Friendly
- Proyeksi Gerak Harga Emas Hari Ini Kamis (28/5), Tekanan Jual Masih Mendominasi
Situasi tersebut membuat indeks dolar AS melemah ke area 99,16, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di kisaran 4,48%.
Kondisi ini menjadi katalis positif bagi emas yang selama ini sensitif terhadap arah suku bunga riil dan pergerakan dolar AS.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz masih menjadi sumber utama volatilitas pasar global. Jalur strategis distribusi minyak dunia tersebut kembali menjadi perhatian setelah muncul pembahasan kerangka gencatan senjata selama 60 hari antara Amerika Serikat dan Iran.
Kesepakatan itu mencakup pembukaan kembali jalur pelayaran tanpa pungutan tambahan dan dimulainya kembali pembicaraan nuklir. Namun, persetujuan final belum tercapai dan bentrokan di sekitar kawasan tersebut dalam 48 jam terakhir masih menjaga premi risiko di pasar minyak dan logam mulia.
Harga minyak mentah WTI tercatat bertahan di level US$88,90 per barel, sedangkan Brent berada di kisaran US$92,72 per barel.
Pasar melihat dinamika geopolitik ini dalam dua sisi berbeda. Harapan tercapainya kesepakatan berpotensi menekan harga minyak dan meredakan ekspektasi inflasi, sehingga mendukung penguatan emas melalui penurunan imbal hasil obligasi dan pelemahan dolar AS.
Sebaliknya, eskalasi militer baru berisiko mendorong lonjakan harga energi dan inflasi global, yang dalam beberapa waktu terakhir justru menjadi tekanan bagi logam mulia non-yielding seperti emas dan perak.
Portfolio Manager Midas Discovery Fund Tom Winmill mengatakan prospek jangka panjang emas masih tetap kuat di tengah meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral dan melemahnya dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan global.
“Saya tidak melihat banyak faktor yang bisa menjadi bearish bagi emas dalam jangka panjang di level harga saat ini,” katanya dalam wawancara dengan Kitco News.
Menurut dia, tren de-dolarisasi global dan penggunaan dolar AS sebagai instrumen geopolitik telah mempercepat penurunan kepercayaan terhadap mata uang tersebut.
“Jika dolar AS terus kehilangan statusnya sebagai mata uang cadangan utama dunia, maka dolar akan semakin lemah,” ujarnya.
Winmill menilai kondisi tersebut akan menjaga permintaan emas bank sentral tetap tinggi dan menjadi fondasi kuat bagi pasar logam mulia.
Di sisi lain, dia memperkirakan perlambatan ekonomi global dan tekanan inflasi bakal mendorong penurunan suku bunga riil dalam jangka menengah. Situasi tersebut secara historis menjadi lingkungan yang positif bagi aset keras seperti emas.
“Pergerakan berikutnya kemungkinan menuju suku bunga riil yang lebih rendah. Jika itu terjadi, aset keras menjadi jauh lebih menarik karena opportunity cost-nya menurun,” katanya.





