REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai peristiwa blackout di Sumatra menjadi pengingat pentingnya penguatan jaringan transmisi guna menjaga pasokan listrik di wilayah tersebut. Menurut dia, jaringan interkoneksi Sumatra yang membentang lintasprovinsi membutuhkan sistem transmisi yang andal agar gangguan tidak meluas ke berbagai wilayah.
“Pembangkit sering menjadi perhatian utama, padahal transmisi memegang peran vital karena menjadi jalur utama penyaluran listrik dalam sistem interkoneksi,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Baca Juga
Usai Dipecat Milan, Allegri Bersiap Merapat ke Napoli
Prabowo Sambut Pembentukan France-Indonesia High Level Business Council
Nova Pasang Target Lolos Sebagai Juara Grup pada Kualifikasi Piala Asia U-20
Ia mengatakan pengembangan jaringan transmisi di Sumatra, termasuk pembangunan Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) 500 kilovolt (kV), telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) terbaru guna memperkuat interkoneksi kelistrikan Sumatra.
Namun, proyek transmisi berskala besar kerap tersendat akibat proses pembebasan lahan dan perizinan lintaswilayah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Agus, pembangunan transmisi tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis, tetapi juga mencakup proses pembebasan lahan, penyesuaian tata ruang, perizinan lintaswilayah, hingga komunikasi dengan masyarakat di sekitar jalur transmisi yang membutuhkan waktu dan koordinasi.
Agus menambahkan, semakin luas sistem interkoneksi Sumatra, kebutuhan terhadap penguatan jalur utama serta keandalan penyaluran listrik antardaerah juga menjadi semakin penting.
Padahal, lanjut dia, keterlambatan pembangunan transmisi berpotensi meningkatkan risiko gangguan sistem seiring pertumbuhan kebutuhan listrik di Sumatra.