PEKALONGAN, Jawa Tengah — Di tengah ramainya pemberitaan dugaan kasus asusila yang menyeret salah satu pondok pesantren di Buaran, Pekalongan, muncul unggahan dari seorang pengikut sekaligus santri yang menyampaikan isi hati dan pembelaannya terhadap sosok kiai yang kini menjadi sorotan publik.
Unggahan tersebut dibagikan melalui status WhatsApp dan berbagai platform lainnya. Dalam tulisannya, pengikut itu mengaku sedih melihat gurunya menjadi bahan cacian dan perbincangan negatif di masyarakat.
Ia menyebut sosok yang dipanggil “Abah” atau “Pak Yai” tersebut sebagai guru yang selama ini dihormati dan dianggap berjasa dalam mendidik para santri.
“Beliau guru kami yang sekarang dicaci maki media dan jadi perbincangan buruk orang-orang,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Pengikut itu juga menyinggung banyak pihak yang menurutnya berbicara tanpa mengetahui secara langsung kehidupan di pondok pesantren. Ia mengaku mengenal beberapa pihak yang disebut sebagai korban, namun menilai ada perubahan sikap dari mereka dibanding sebelumnya.
Dalam curhatan panjang itu, ia juga menyinggung soal dugaan intimidasi terhadap para santri yang memilih diam. Meski demikian, ia membantah jika sikap diam tersebut berarti membenarkan semua tuduhan yang beredar.
“Kami diam bukan berarti mengiyakan berita,” tulisnya lagi.
Unggahan tersebut menuai beragam respons dari netizen.




