Sumenep, tvOnenews.com - Rangkaian Idul Khotmi Nasional Tarekat Tijaniyah ke-234 resmi dimulai pada Jumat (17/7/2026) di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Hari pertama pelaksanaan berlangsung khidmat dengan dihadiri puluhan ribu jamaah dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara yang memadati kawasan pesantren untuk mengikuti rangkaian amaliah zikir.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan salat Asar berjamaah di venue utama yang berlokasi di lapangan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Salat dipimpin oleh Sayyid As-Syarif Muhammad Al-Habib dari Aljazair sebagai imam di hadapan lautan jamaah yang memenuhi area utama.
Usai salat Asar, jamaah mengikuti rangkaian Wirid Lazimah, Ijtima’ Wadhifah, dan Hailalah yang dipimpin oleh Habib Idrus Ali Baharun dari Pasuruan, Jawa Timur. Seluruh amaliah berlangsung tertib, penuh kekhusyukan, dan diiringi lantunan istigfar, selawat, zikir, serta kalimat tauhid yang menggema dari berbagai sudut pesantren.
Membludaknya jumlah peserta membuat pelaksanaan zikir tidak hanya terpusat di lapangan utama. Ribuan jamaah juga mengikuti amaliah di Masjid Jami’ Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan serta sejumlah halaman pondok yang telah disiapkan panitia.
Pimpinan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan sekaligus Muqaddam Tarekat Tijaniyah Madura, Dr. KH. Ahmad Fauzi Tijani, M.A., menjelaskan bahwa Wirid Lazimah, Ijtima’ Wadhifah, dan Hailalah merupakan inti pembinaan spiritual dalam Tarekat Tijaniyah.
“Hakikat dzikir dalam Tarekat Tijaniyah bukan sekadar melafalkan bacaan wirid, tetapi menghadirkan hati yang senantiasa mengingat Allah SWT. Wirid Lazimah mendidik istiqamah, Wadhifah memperkokoh ukhuwah, sedangkan Hailalah meneguhkan tauhid. Ketiganya membentuk pribadi yang dekat kepada Allah, berakhlak mulia, dan memberi manfaat bagi sesama,” ujar Kiai Ahmad Fauzi.
Ia menambahkan, tema “Menguatkan Dzikir, Meneguhkan Ukhuwah, dan Menegakkan Cinta Tanah Air dalam Naungan Tarekat Tijaniyah” menggambarkan ajaran tarekat yang tidak hanya menekankan kedekatan kepada Allah, tetapi juga memperkuat persaudaraan serta kecintaan terhadap bangsa dan negara.
“Semakin kuat dzikir seseorang, semakin kokoh persaudaraannya, semakin luhur akhlaknya, dan semakin besar kecintaannya kepada tanah air. Spiritualitas yang benar justru melahirkan pribadi yang menjaga persatuan dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat, bangsa, dan negara,” katanya.




