EtIndonesia.com – Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebutkan wabah Ebola varian Bundibugyo di Democratic Republic of the Congo baru berlangsung beberapa minggu, namun jumlah total infeksinya sudah menjadi wabah Ebola terbesar ketiga dalam sejarah.
Hingga saat ini, statistik World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 900 kasus suspek dan lebih dari 220 kematian suspek. Namun, banyak pakar kesehatan masyarakat sepakat bahwa skala infeksi sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus memperingatkan bahwa kecepatan penyebaran virus masih melampaui upaya pengendalian, dan ia akan secara pribadi mengunjungi Kongo untuk menilai situasi di lapangan, lapor The Guardian. Pengamat Tang Hao juga memperingatkan bahwa Piala Dunia mendatang bisa menjadi titik risiko terbesar bagi jebolnya pertahanan perbatasan Amerika Serikat.
Varian Mematikan yang TerabaikanPenyebab wabah ini adalah virus Bundibugyo—varian Ebola yang sangat langka. Virus ini dinamai dari wilayah pegunungan di Uganda barat tempat pertama kali muncul pada 2007, dan sebelum wabah kali ini hanya pernah menyebabkan dua wabah.
Karena sangat langka, laboratorium setempat bahkan tidak memasukkannya dalam protokol standar pemeriksaan Ebola, sehingga identifikasi mengalami keterlambatan besar dan memungkinkan virus menyebar secara diam-diam.
Pengamat Tang Hao mencatat bahwa tingkat kematian varian Bundibugyo mencapai sekitar 40 persen, jauh lebih tinggi dibanding tingkat kematian COVID-19 yang diperkirakan sebesar 1,08 persen. Yang lebih mengkhawatirkan, saat ini belum ada vaksin yang disetujui maupun pengobatan efektif untuk varian ini. Artinya, setelah terinfeksi, pasien pada dasarnya hanya dapat bergantung pada sistem imun mereka sendiri untuk bertahan hidup.
Virus ini menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh seperti darah, keringat, air liur, kotoran, dan muntahan penderita, bukan melalui udara seperti COVID-19. Meski tampak mengurangi risiko penularan, Tang Hao menegaskan bahwa kondisi ini justru membuat pengendalian lebih sulit—petugas medis, pekerja pemulasaraan jenazah, dan kontak dekat menghadapi risiko paparan yang sangat tinggi. Bahkan setelah meninggal, jenazah tetap sangat menular.
Di banyak komunitas lokal, tradisi pemakaman melibatkan menyentuh dan memandikan jenazah serta berkumpul untuk ritual berkabung bersama, yang menurutnya menjadi “celah budaya” dalam pengendalian epidemi.
Menurut Associated Press, pada 21 Mei terjadi insiden mengejutkan di kota tambang Rwampara di Kongo timur: setelah seorang pasien Ebola meninggal dunia, kerabatnya menyerbu fasilitas medis dan membakar seluruh bangunan—dilaporkan karena rumah sakit menolak menyerahkan jenazah untuk ritual pemakaman tradisional.
Tang Hao menyebut insiden itu sebagai “perang antarperadaban,” yang menunjukkan benturan mendalam antara protokol medis modern dan praktik budaya lokal, serta menandakan bahwa pengendalian wabah menghadapi tantangan yang jauh melampaui virus itu sendiri.
Banyak Faktor Penyebab Penyebaran Tak TerkendaliProvinsi Ituri, pusat wabah, terletak di timur laut Kongo dan berbatasan dengan Uganda serta Sudan Selatan, wilayah yang telah lama dilanda konflik bersenjata. Sekitar 2 juta orang mengungsi, puluhan juta menghadapi kekurangan pangan parah, dan kekerasan meningkat selama dua bulan terakhir, sehingga sangat menghambat penyaluran bantuan.
Masalah diperburuk oleh ketidakpercayaan publik yang mendalam terhadap pemerintah dan organisasi luar, yang secara langsung menghambat langkah penting seperti pelacakan kontak, karantina, dan distribusi vaksin.
Yang sangat mengkhawatirkan bagi komunitas kesehatan internasional adalah perkembangan baru: kematian terkonfirmasi juga telah dilaporkan di Provinsi Kivu Selatan di tenggara Kongo, lapor Reuters. Lokasi ini berjarak ratusan kilometer dari zona wabah awal, menandakan virus telah melakukan “lompatan” lintas wilayah.
Kivu Selatan saat ini dikuasai kelompok pemberontak M23, yang tidak memiliki pengalaman menangani wabah berskala besar dan kekurangan kapasitas medis maupun pengendalian, sehingga penyebaran tak terkendali sangat mungkin terjadi.
Tang Hao juga mengutip pernyataan mantan Direktur CDC AS sekaligus ahli virologi Robert Redfield.
Dalam wawancara dengan NewsNation, Redfield mengatakan wabah Ebola di Kongo biasanya dapat diidentifikasi dan dikendalikan dengan cepat saat baru terdapat 5–10 kasus. Sebaliknya, wabah saat ini baru terdeteksi ketika jumlah kasus sudah mencapai ratusan, keterlambatan yang menurutnya sangat mengkhawatirkan.
Redfield memperingatkan bahwa wabah ini dapat berkembang menjadi pandemi global lintas negara, dan menyebut Tanzania, Sudan Selatan, serta Rwanda sebagai negara dengan risiko limpahan penularan tertinggi.
Pertahanan Perbatasan AS di Bawah TekananMenghadapi risiko penyebaran internasional, Amerika Serikat dengan cepat memperketat kontrol masuk.
Pada 21 Mei, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan pembatasan masuk baru: seluruh warga negara asing yang pernah mengunjungi Kongo, Uganda, atau Sudan Selatan dalam tiga minggu terakhir dilarang memasuki Amerika Serikat. Warga AS dan pemegang green card yang kembali dari wilayah tersebut wajib melalui Bandara Internasional Washington Dulles untuk pemeriksaan Ebola tambahan sebelum diizinkan masuk.
Mengapa Dulles dipilih sebagai satu-satunya titik pemeriksaan Ebola? Menurut Tang Hao, alasannya mencakup beberapa faktor: bandara itu merupakan pusat utama kedatangan pelancong Afrika yang transit melalui Eropa; memiliki fasilitas lengkap CDC, bea cukai, karantina, dan evaluasi medis; serta berada dekat dengan National Institutes of Health (NIH) dan rumah sakit yang mampu menangani penyakit menular berisiko tinggi.
Pendekatan ini mengikuti pelajaran dari wabah Ebola Afrika Barat tahun 2014, ketika AS menunjuk lima bandara untuk menyaring pelancong dari wilayah terdampak, dengan Dulles menangani sekitar 22 persen kedatangan tersebut. Kali ini, sistem dipersempit menjadi satu titik masuk guna meningkatkan efisiensi dan mengurangi risiko kebocoran.
Namun, pertahanan itu hampir langsung diuji. Menurut The New York Times, pada 21 Mei, penerbangan Air France 378 dari Paris menuju Detroit terpaksa dialihkan setelah otoritas AS menemukan seorang penumpang di dalam pesawat baru saja melakukan perjalanan dari Kongo, yang melanggar aturan masuk baru. Pesawat dialihkan ke Montreal, lebih dari 800 kilometer dari tujuan semula.
Air France menyatakan insiden itu terjadi akibat kesalahan operasional yang memungkinkan penumpang tersebut naik pesawat, namun rinciannya masih belum jelas.
Tang Hao menafsirkan insiden itu memiliki tiga implikasi: pertama, AS sedang mendorong garis pertahanannya keluar untuk memerangi epidemi di luar perbatasannya; kedua, keamanan nasional dan kesehatan publik telah menjadi isu politik sensitif menjelang pemilu sela mendatang; dan ketiga—yang paling penting—sebuah ajang olahraga global besar segera dimulai.
Piala Dunia: Risiko Penularan BesarPada 11 Juni, FIFA World Cup akan dimulai di Amerika Utara. Lebih dari 200 pemain top dari 48 negara akan berpartisipasi, dan lebih dari 100 juta penggemar diperkirakan bepergian ke kota-kota tuan rumah termasuk New York, Los Angeles, dan Dallas—lokasi yang sulit dijangkau oleh cakupan pemeriksaan Ebola secara menyeluruh.
Tang Hao memperingatkan bahwa Piala Dunia dapat menjadi titik kelemahan terbesar dalam pertahanan AS terhadap Ebola. Pergerakan internasional berskala besar secara signifikan meningkatkan kemungkinan kegagalan pemeriksaan. Bahkan satu orang terinfeksi tanpa gejala atau masih dalam masa inkubasi dapat memicu rantai penularan yang tidak terlacak.
Meski Kongo telah membatalkan kamp pelatihan pra-Piala Dunia untuk mengurangi risiko infeksi, tim nasionalnya tetap berencana berangkat ke AS untuk bertanding, menciptakan sinyal yang saling bertentangan dan mempersulit upaya pencegahan.
Virus Masih Jauh dari Terkendali: Dunia Harus Bertindak CepatGejala Ebola semakin mempersulit pengendalian. Pada tahap awal, infeksi menimbulkan demam, sakit kepala, kelelahan, nyeri otot, dan sakit tenggorokan—hampir tidak dapat dibedakan dari influenza. Baru setelah empat hingga lima hari muncul gejala yang lebih parah, termasuk diare, muntah, ruam, serta pendarahan internal maupun eksternal yang dapat menyebabkan gagal hati dan ginjal.
Selama masa inkubasi, pasien mungkin sudah mampu menularkan virus, sehingga deteksi dini menjadi salah satu tantangan paling sulit dalam pengendalian wabah.
Tang Hao juga menyoroti bahwa meningkatnya pertukaran ekonomi dan personel antara Tiongkok dan Afrika, ditambah sulitnya mendeteksi varian Bundibugyo melalui tes konvensional, menimbulkan risiko tersembunyi bagi Tiongkok dan kawasan Asia-Pasifik secara lebih luas.
Secara keseluruhan, dunia saat ini berada dalam perlombaan berisiko tinggi melawan waktu. Vaksin belum dapat dikerahkan dengan cepat, kondisi lokal di wilayah wabah masih tidak stabil, dan mobilitas global semakin meningkat akibat ajang seperti Piala Dunia. Di bawah tekanan gabungan ini, peringatan Direktur Jenderal WHO Tedros semakin terasa berat:
“Kami sedang meningkatkan operasi secara mendesak, tetapi saat ini epidemi bergerak lebih cepat daripada kami.”
Sumber : Visiontimes.com





