EtIndonesia.com. Konflik di Timur Tengah kembali memasuki fase yang semakin berbahaya pada 26 Mei 2026. Militer Israel mengumumkan keberhasilan operasi besar-besaran di Jalur Gaza dengan menghancurkan jaringan terowongan bawah tanah Hamas sepanjang hampir 7 mil atau sekitar 11 kilometer. Di saat yang sama, bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan kembali pecah di kawasan Selat Hormuz, memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi konflik regional yang lebih luas.
Israel Klaim Hancurkan Salah Satu Jaringan Terowongan Hamas Terbesar
Pada 26 Mei 2026, Pasukan Pertahanan Israel atau Israel Defense Forces (IDF) secara resmi mengumumkan bahwa mereka telah menghancurkan salah satu jaringan terowongan bawah tanah Hamas terbesar di wilayah utara Jalur Gaza sejak perang kembali memanas.
Dalam pernyataannya, militer Israel menyebut jaringan bawah tanah tersebut memiliki panjang hampir 11 kilometer dan tersebar di sejumlah titik strategis di Gaza utara. Operasi penghancuran itu disebut melibatkan pasukan darat, unit teknik tempur, drone pengintai, hingga dukungan serangan udara presisi.
IDF bahkan merilis visualisasi efek 3D yang memperlihatkan skala kompleks jaringan lorong bawah tanah tersebut. Dari gambar yang dipublikasikan, terlihat bahwa terowongan-terowongan itu saling terhubung dan membentuk sistem bawah tanah yang luas.
Menurut militer Israel, jumlah lorong yang ditemukan di kawasan tersebut sangat mengejutkan. Sebagian terowongan disebut berada di dekat fasilitas sipil dan kawasan padat penduduk, sementara beberapa lainnya diduga digunakan sebagai jalur pergerakan militan Hamas, tempat penyimpanan senjata, hingga pusat komando tersembunyi.
Israel menyatakan bahwa operasi ini menjadi salah satu penghancuran infrastruktur bawah tanah terbesar sejak konflik Gaza kembali meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Ratusan Fasilitas Hamas di Atas Permukaan Ikut Dihancurkan
Selain menghancurkan jaringan bawah tanah, Israel juga mengklaim telah merusak ratusan fasilitas Hamas di atas permukaan tanah.
Target-target tersebut disebut mencakup gudang logistik, pusat komunikasi, bangunan operasional, lokasi peluncuran roket, serta berbagai fasilitas yang menurut Israel digunakan oleh kelompok Hamas untuk mendukung aktivitas militer mereka.
Serangan udara Israel di Jalur Gaza juga dilaporkan terus berlangsung tanpa henti sepanjang 26 Mei. Fokus utama operasi kini diarahkan untuk memburu dan menyingkirkan petinggi Hamas yang masih tersisa di wilayah tersebut.
Dalam beberapa pekan terakhir, Israel memang meningkatkan operasi pembunuhan terarah terhadap tokoh-tokoh senior Hamas. Langkah itu disebut sebagai bagian dari strategi untuk melumpuhkan struktur komando kelompok tersebut secara menyeluruh.
Israel Kembali Gempur Hizbullah di Lebanon Selatan
Ketegangan tidak hanya terjadi di Gaza. Pada hari yang sama, militer Israel juga merilis rekaman video serangan udara terhadap target milik Hizbullah di Lebanon selatan.
Menurut keterangan IDF, target yang diserang merupakan sebuah bangunan yang digunakan oleh anggota Hizbullah untuk aktivitas operasional.
Video yang dipublikasikan memperlihatkan momen ketika rudal Israel menghantam bangunan tersebut secara langsung. Ledakan besar terlihat menghancurkan gedung hingga berkeping-keping dalam hitungan detik.
Israel menegaskan bahwa operasi terhadap Hizbullah akan terus dilanjutkan selama kelompok tersebut masih dianggap mengancam keamanan wilayah utara Israel.
Serangan lintas batas antara Israel dan Hizbullah memang terus terjadi sejak konflik Gaza kembali meningkat. Situasi itu membuat kawasan perbatasan Lebanon-Israel tetap berada dalam kondisi sangat tegang.
Rumor “Operation Freedom” Picu Kehebohan di Selat Hormuz
Sementara itu, perhatian dunia juga tertuju pada perkembangan terbaru di Selat Hormuz, jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Pada 26 Mei 2026, sejumlah media Amerika, termasuk The Wall Street Journal, melaporkan bahwa militer Amerika Serikat disebut telah kembali mengaktifkan “Operation Freedom” atau “Rencana Kebebasan”.
Operasi tersebut sebelumnya dikenal sebagai misi pengawalan kapal dagang internasional di kawasan Selat Hormuz guna melindungi jalur pelayaran dari ancaman militer Iran.
Laporan media AS bahkan menyebut beberapa kapal dagang telah berhasil keluar dari kawasan berbahaya dengan pengawalan militer.
Namun tidak lama kemudian, kabar tersebut langsung dibantah oleh United States Central Command atau CENTCOM.
Dalam pernyataan resminya, CENTCOM menegaskan bahwa informasi mengenai dimulainya kembali pengawalan kapal dagang oleh Angkatan Laut Amerika tidak benar.
Militer AS menyatakan bahwa hingga saat ini “Operation Freedom” belum diaktifkan kembali dan Washington juga belum memiliki rencana resmi untuk melakukan pengawalan kapal di Selat Hormuz.
Bentrokan Baru AS-Iran Dilaporkan Pecah
Meski demikian, situasi di kawasan itu ternyata tetap memanas.
Menurut sumber militer Amerika, pada malam sebelum pengumuman tersebut, terjadi bentrokan baru antara pasukan Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz.
Pihak Amerika menuduh dua kapal cepat milik Garda Revolusi Iran berusaha secara diam-diam memasang ranjau laut di jalur pelayaran strategis. Aktivitas itu disebut berhasil terdeteksi oleh pesawat pengintai Amerika Serikat.
Setelah itu, sistem rudal darat-ke-udara di sekitar Pelabuhan Abbas dilaporkan mengunci jet tempur AS yang sedang melakukan patroli di kawasan tersebut.
Berdasarkan otorisasi dari CENTCOM, militer Amerika kemudian melancarkan serangan balasan.
Amerika Serikat mengklaim berhasil menghancurkan dua kapal cepat Garda Revolusi Iran serta menyerang posisi rudal yang dianggap terkait dengan ancaman terhadap jalur pelayaran internasional.
Media Iran kemudian melaporkan bahwa beberapa anggota Garda Revolusi tewas dalam insiden tersebut.
Washington menyebut operasi itu sebagai tindakan defensif yang dilakukan di dalam zona operasi militer demi menjaga keamanan pelayaran internasional.
Negosiasi AS-Iran Masuk Fase Sangat Sensitif
Di tengah meningkatnya ketegangan militer, negosiasi antara Washington dan Teheran juga dilaporkan memasuki tahap paling sensitif.
Menurut berbagai laporan media Amerika, Iran meminta pencairan dana sebesar 24 miliar dolar AS sebagai salah satu syarat utama untuk mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat.
Namun tim Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dikabarkan menolak permintaan tersebut.
Washington menegaskan bahwa bantuan finansial baru akan diberikan apabila Iran benar-benar menjalankan seluruh kewajiban dalam perjanjian yang sedang dibahas.
Selain itu, Amerika Serikat juga meminta Iran menghentikan seluruh program senjata nuklir serta tidak melakukan pengendalian terhadap jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz.
Perundingan kedua negara disebut berlangsung sangat alot karena kedua pihak masih saling menekan dalam isu keamanan dan ekonomi.
Trump Gelar Rapat Kabinet Langka di Camp David
Di tengah situasi yang semakin panas, Presiden Donald Trump dijadwalkan menggelar rapat kabinet penting di Camp David pada Selasa, 27 Mei 2026.
Menurut laporan Fox News, seluruh anggota kabinet diperkirakan hadir dalam pertemuan tersebut.
Salah satu nama yang menjadi sorotan adalah Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang dikabarkan segera mengundurkan diri.
Media Amerika juga mengungkap bahwa sebelum operasi militer besar terhadap Iran pada Juni tahun lalu yang dikenal sebagai “Operation Five Page Hammer”, Trump juga sempat menggelar rapat tertutup bersama pejabat tinggi di Camp David.
Hal itu memunculkan spekulasi bahwa pertemuan terbaru kali ini kemungkinan berkaitan dengan situasi keamanan Timur Tengah yang semakin tidak stabil.
Pemimpin Tertinggi Iran Disebut Masih Bersembunyi
Dalam laporan lain yang juga dirilis Fox News pada 26 Mei, sejumlah pakar kontra-terorisme menyebut bahwa pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba, saat ini masih menggunakan jaringan kurir rahasia untuk menyampaikan dan menyetujui keputusan strategis terkait negosiasi dengan Amerika Serikat.
Mereka mengatakan bahwa tokoh tersebut tetap menjadi target utama operasi intelijen dan militer sehingga terus berpindah lokasi persembunyian demi menghindari pelacakan.
Laporan tersebut semakin memperlihatkan betapa sensitif dan rapuhnya situasi geopolitik di Timur Tengah saat ini.
Dengan konflik Gaza yang terus berkobar, serangan Israel terhadap Hizbullah yang belum berhenti, serta meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz, dunia kini menghadapi risiko eskalasi yang semakin sulit diprediksi dalam beberapa hari ke depan. (***)





