JAKARTA, KOMPAS.com - Meski Jokowi siap berkeliling Indonesia namun jabatan formalnya di PSI belum pasti. Dia dinilai menunggu dulu PSI menjadi agak besar.
Presiden ke-7 RI Joko Widodo akan berkeliling Indonesia dalam waktu dekat.
Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bestari Barus mengatakan, mantan Wali Kota Solo ini akan memulai perjalanannya dari Lampung, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Jawa Barat.
Kendati begitu, jabatan Jokowi di PSI hingga kini belum kunjung diumumkan. Ia hanya diisukan menjadi Dewan Pembina partai berlambang gajah tersebut.
Lalu, mengapa jabatannya belum diumumkan saat sudah berencana melawat ke berbagai kota?
Baca juga: Mengulik Alasan Jokowi Turun Gunung Safari Keliling RI, Punya Data Kekuatan PSI?
Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia (LSI), Djayadi Hanan memprediksi, pengumuman Jokowi masuk dalam struktur kepengurusan hanya menunggu waktu.
Meski kini belum secara resmi diumumkan, ia menilai bahwa lawatan Jokowi untuk PSI tetap relevan lantaran ia sudah memosisikan diri menjadi salah satu nakhoda partai.
"Soal waktu saja, dugaannya saya itu enggak akan terlalu lama itu mungkin Jokowi akan mengumumkan. Kan sudah banyak spekulasi bahwa dia akan menjadi Dewan Pembina," kata Djayadi kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Baca juga: Jokowi Keliling Indonesia, Pengamat: Dongkrak PSI, Amankan Posisi Gibran
Meski belum kunjung diumumkan, dia berasumsi masyarakat cukup mengetahui bahwa Jokowi kini identik dengan PSI setelah hengkang dari PDI-P.
Terlebih putra bungsunya, Kaesang Pangarep, kini menjabat sebagai Ketua Umum PSI. Sementara anak sulungnya, Gibran Rakabuming juga tidak memiliki partai.
"Satu-satunya yang mungkin adalah PSI. Jadi memang tanpa diumumkan secara langsung pun orang sudah sangat bisa menduga bahwa Jokowi itu ya ke PSI," tuturnya.
Ia menduga, Jokowi masih mencari momen atau waktu yang tepat untuk mengumumkan dirinya.
Menurut Djayadi, tokoh ini memang identik memperhitungkan momen sejak menjabat sebagai Kepala Negara.
Mengacu pada pengalaman memimpinnya selama 10 tahun, Jokowi kerap memperhitungkan momen dalam setiap pengambilan keputusan, termasuk ketika melakukan reshuffle menteri yang identik dengan hari Rabu Pon.
"Kalau kita belajar 10 tahun pemerintahannya, kan dia selalu mencari momen-momen tertentu untuk melakukan sesuatu misalnya mengumumkan kabinet, mengganti menteri, mengumumkan kebijakan tertentu, cari momen-momen yang dia anggap pas. Nah, mungkin ini lagi nyari momen yang pas untuk mengumumkan kapan dia menjadi Ketua Dewan Pembina PSI itu," ujarnya.




