Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang Pasar Cipulir, Jakarta Selatan makin resah karena pembeli semakin berkurang. Beberapa pedagang mengungkapkan omzet penjualan pakaiannya turun drastis hingga ada yang nyaris 100%.
Cece, pedagang pakaian remaja mengungkapkan jumlah pembeli semakin berkurang dan kini tersisa beberapa langganannya saja. Bahkan menurut pengakuannya, para langganan pun mulai mengurangi jumlah pembelian.
"Kalau pembeli bukan langganan, makin sedikit, mungkin hampir tidak ada, hampir ya, paling dari langganan, itu pun juga mereka sudah mengurangi pembelian, dari biasanya bisa 10 lusin, sekarang cuma 5 lusin," kata Cece saat ditemui CNBC Indonesia, dikutip Jumat (29/5/2026).
Cece menambahkan, omzet penjualan pakaiannya sudah menurun hingga 40%, dalam kurun setahun terakhir. Penurunan jumlah pembeli semakin terasa akhir-akhir ini.
"Sebenarnya di 2025 sudah mulai terasa banget turun jumlah pembeli. Di 2026, sepertinya lebih parah," terangnya.
Di tokonya, untuk harga pakaian remaja dibanderol mulai dark Rp13.000 hingga Rp30.000. Namun, pembeli harus membeli minimal tiga buah.
Senada dengan Cece, Susi, pedagang celana pendek pria justru nasibnya lebih parah, di mana sejak Senin lalu, celana yang dijual tak kunjung laku dan baru laku kemarin.
"Sejak Senin minggu ini, enggak ada yang beli, baru ada lagi ya hari ini, itu pun cuma 3 celana," kata Susi.
Ketika ditanya omzet, Ia membeberkan penjualan bukan lagi omzet turun, tetapi menjual rugi.
"Omzet turun berapa? Wah, bukan turun lagi, gratis jadinya, saking enggak ada yang beli," jelasnya.
Susi terpaksa menurunkan harga jual celana pendeknya, agar pembeli mau membeli dagangannya.
"Satu celana Rp25.000, tadinya Rp35.000, saya turunin biar bisa laku, walaupun ya sama saja sih," ujarnya.
Yono, pedagang pakaian anak-anak juga mengungkapkan kondisi saat ini sangat sulit. Bahkan dalam sehari saja, terkadang pakaian yang dijual tidak laku.
"Kalau sekarang, berat banget ngerasainnya, kadang sehari enggak kejual satu pun, jadi susah untuk memprediksi penjualan," kata Yono.
Bahkan di Lebaran lalu, penjualan juga tak terkerek naik karena minimnya pembeli.
"Lebaran kemarin saja kami tidak merasakan momentumnya, biasanya kan Lebaran yang kami tunggu-tunggu karena biasanya lebih ramai, ini justru sepi," terangnya.
Begitu juga Idris, pedagang pakaian dewasa, juga mengaku resah karena jumlah pembeli makin sedikit.
"Rasanya pengen meringis kalau setiap hari begini, pembeli makin berkurang, penghasilan seret banget, tapi bayar sewa lanjut," kata Idris.
(chd/wur) Add as a preferred
source on Google




