Masihkah Indonesia Menjadi Magnet bagi Investasi Asing?

kompas.id
18 jam lalu
Cover Berita

Investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) masih menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional. Namun, beragam hambatan dan tantangan ke depan masih berpotensi menghadang kinerjanya.

Bagi Indonesia, investasi asing langsung tidak hanya berfungsi sebagai sumber pembiayaan, tetapi juga sebagai katalisator penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, peningkatan daya saing industri, hingga perluasan akses ke pasar global. 

Di luar manfaat ekonomi langsung, FDI juga memperkuat integrasi Indonesia ke dalam rantai nilai global (GVC) dan mendorong penerapan praktik manajemen modern di sektor domestik. Keberadaan FDI juga memungkinkan industri nasional terhubung langsung dengan pasar internasional karena produk yang dihasilkan menjadi bagian dari jaringan produksi global.

Negara tanpa daya tarik investasi asing yang kuat akan tertinggal dalam rantai pasok global dan terisolasi dari arus inovasi dunia. Dalam hal ini, tingkat kepercayaan investor global menjadi cermin utama bagi kesehatan ekonomi dan stabilitas politik negara. 

Lantas bagaimana kinerja investasi Indonesia kini dan seberapa besar tingkat kepercayaan investor berinvestasi di Indonesia? Masihkah Indonesia menjadi magnet investasi asing dalam peta global?

Kinerja investasi

Investasi menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional. Pasalnya, pemerintah menargetkan realisasi investasi sebesar Rp 13.032  triliun dalam lima tahun (2025-2029) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 8 persen pada 2029.

Target investasi tersebut menunjukkan tren peningkatan yang konsisten untuk jangka menengah. Hal ini tecermin dari penetapan target investasi 2026 sebesar Rp 2.175,26 triliun atau meningkat 14,2 persen dibandingkan target 2025 sebesar Rp 1.905,6 triliun.

Baca JugaInvestasi Asing Jadi Tumpuan untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 5,2 Persen

Dari sisi dampak ekonomi, peningkatan investasi juga tecermin pada penyerapan tenaga kerja yang tumbuh sebesar 10,4 persen dibandingkan tahun 2024. Total tenaga kerja yang terserap mencapai 2,71 juta orang. 

Pada 2025, realisasi kinerja penanaman modal dalam negeri (PMDN) mencapai Rp 1.030,3 triliun atau tumbuh 26,6 persen secara tahunan. Sebaliknya, realisasi penanaman modal asing (FDI) mencapai Rp 900,9 triliun sepanjang tahun 2025.

Kendati realisasinya masih cukup besar, porsinya terhadap perekonomian nasional tak lagi setebal tahun-tahun sebelumnya. Angka ini tersebut hanya naik tipis 0,1 persen, jauh dari lonjakan tahun lalu. Realisasi investasi asing ini melanjutkan pola stagnasi yang telah terlihat dalam beberapa tahun terakhir.

Di sisi sektoral, investasi asing di Indonesia didominasi oleh sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin, dan peralatannya dalam lima tahun terakhir. Sektor ini menempati posisi teratas pada 6 dari 10 tahun terakhir. Di susul sektor pertambangan di urutan berikutnya. Pola ini menunjukkan kuatnya orientasi investasi asing pada sektor berbasis sumber daya dan industri hulu.

Secara spasial, realisasi investasi Indonesia pada tahun lalu menunjukkan distribusi yang relatif seimbang antara wilayah Jawa dan luar Jawa. Kontribusi Jawa tercatat sebesar 48,7 persen, sementara luar Jawa lebih dari 50 persen secara keseluruhan. 

Namun, untuk penanaman modal asing (PMA), konsentrasi di Pulau Jawa  masih cukup tinggi, yakni 72,28 persen dari total PMA nasional. Pola ini  menunjukkan, pemerataan investasi, khususnya PMA, secara geografis masih menjadi tantangan utama. 

Kepercayaan investor

Meski kinerjanya terus meningkat, kepercayaan investor tampaknya masih perlu ditingkatkan dan dibenahi. Mengutip Indeks Kepercayaan Investasi Asing Langsung atau FDI Confidence Index 2026 dari Kearney, posisi Indonesia dalam peta investasi global menghadapi ujian baru. Meski optimisme investor terhadap prospek domestik masih relatif tinggi, posisi Indonesia turun di tengah ketatnya persaingan negara Asia Tenggara.

Indeks Kepercayaan Investasi dari Kearney merupakan sebuah laporan tahunan yang memetakan pasar mana saja yang paling memikat bagi para investor perusahaan global untuk menanamkan modalnya dalam tiga tahun ke depan. Laporan tahun ini menangkap sentimen investor di tengah ketidakpastian global yang dipengaruhi oleh volatilitas geopolitik, perluasan kebijakan industri, dan meningkatnya persaingan teknologi.

Laporan Kearney menyebut, dalam peringkat pasar berkembang 2026, Indonesia berada di peringkat ke-13 dengan skor 1,537, turun satu posisi dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, Indonesia masih unggul dari Vietnam yang berada di peringkat ke-16 dan Filipina di peringkat ke-18 dengan skor masing-masing 1,520 dan 1,463.

Sementara itu, negara pesaing, seperti Thailand dan Malaysia, justru mencatat kenaikan peringkat seiring agresivitas menarik investasi bernilai tambah tinggi. Thailand naik dari posisi ke-10 menjadi ke-6, sementara Malaysia meningkat dari posisi ke-11 ke peringkat ke-7.

Kondisi ini memperlihatkan tekanan kompetitif yang semakin kuat di kawasan Asia. Negara-negara saling berlomba menarik relokasi rantai pasok global dan investasi di sektor strategis, seperti semikonduktor, kendaraan listrik, dan energi hijau. 

Masih menurut laporan Kearney, Thailand dikenal memiliki tenaga kerja terampil di sektor manufaktur, seperti otomotif dan pengolahan makanan. Adapun Malaysia unggul pada industri bernilai tambah tinggi, seperti semikonduktor dan teknologi.

Di sisi lain, sentimen investor terhadap Indonesia masih relatif solid. Sebanyak 87 persen investor menyatakan tetap optimistis atau bahkan lebih optimistis terhadap Indonesia sebagai tujuan investasi. Investor menempatkan talenta dan keterampilan tenaga kerja (28 persen) serta sumber daya alam (28 persen) sebagai faktor terpenting. 

Dengan populasi hampir 288 juta jiwa, Indonesia dinilai menawarkan keunggulan demografis yang sulit ditandingi. Sementara kekayaan sumber daya alam, khususnya nikel, masih menjadi daya tarik utama. Pada 2025, sektor logam dasar mencatat realisasi investasi langsung sebesar 14,6 miliar dolar AS, disusul sektor pertambangan sebesar 4,7 miliar dolar AS.

Kinerja investasi domestik juga mencerminkan tren positif. Realisasi investasi pada triwulan I-2026 mencapai Rp 498,79 triliun atau setara 100,36 persen dari target pemerintah dengan pertumbuhan 7,22 persen secara tahunan. Sementara komposisi antara FDI dan penanaman modal dalam negeri relatif seimbang, masing-masing sekitar 50 persen. Kontribusi terbesar berasal dari Singapura, Hong Kong, China, Amerika Serikat, dan Jepang.

Tantangan

Meski investasi masih tetap menjanjikan, Indonesia belum terlepas dari beragam hambatan dan tantangan. Laporan Kearney menyebut, daya tarik Indonesia belum sepenuhnya ditopang oleh faktor struktural yang kuat. Aspek tata kelola dan transparansi masih menjadi pertimbangan paling rendah bagi investor dibandingkan faktor lain, seperti tenaga kerja dan sumber daya alam. 

Di sisi lain, meningkatnya risiko geopolitik dan persaingan kebijakan industri global turut membentuk ulang arah investasi. Sebanyak 84 persen investor menilai kebijakan industri menjadi faktor penting dalam menentukan lokasi investasi, sementara hampir 90 persen melihat adanya risiko akibat kebijakan yang saling tumpang tindih antarnegara. 

Dalam konteks tersebut, Indonesia dinilai berada di titik krusial. Upaya hilirisasi industri, reformasi regulasi, dan pemberian insentif investasi sudah berjalan, tetapi perlu dipercepat untuk menjaga daya saing di tengah agresivitas negara tetangga.

Pemerintah juga harus bergerak jauh lebih progresif dalam membangun ekosistem yang dapat menarik investor global jika tidak ingin semakin tertinggal dari Thailand, Malaysia, dan Singapura. Sebab, negara-negara tersebut terlihat bergerak jauh lebih lincah dalam memenangkan hati para pemilik modal global. 

Bagi Indonesia, perubahan peta investasi global ini dapat menjadi momentum strategis. Persaingan ke depan tidak hanya soal biaya tenaga kerja murah atau pasar besar, tetapi kemampuan membangun ekosistem digital yang bisa dipercaya investor global. 

Infrastruktur komputasi awan (cloud), kecerdasan buatan (AI), energi, dan kepastian regulasi digital akan menjadi faktor penentu dalam menarik investasi asing generasi baru. Jika Indonesia gagal mempercepat transformasi digital dan reformasi regulasi, arus modal global dapat berpotensi lebih banyak mengalir ke negara-negara yang lebih siap secara teknologi dan institusional. 

Baca JugaDanantara dan Investasi Strategis

Selain itu, Indonesia juga perlu mereformasi regulasi secara progresif, proses perizinan yang lebih efisien, mendorong inovasi teknologi, pembangunan infrastruktur berkelanjutan, dan pengembangan sumber daya manusia yang selaras dengan kebutuhan industri.

Tekanan kompetisi kawasan dan tuntutan reformasi struktural ini menjadi penentu apakah momentum optimisme investor dapat dikonversi menjadi arus investasi asing yang berkelanjutan dalam beberapa tahun ke depan sehingga pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai. (LITBANG KOMPAS)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gusur Puluhan Kios di Jalur Puncak, Dedi Mulyadi Janjikan Kompensasi Uang dan Hal Ini untuk Tiap Pedagang
• 16 jam lalugrid.id
thumb
Semangat Berbagi, Gerindra Jatim Salurkan 226 Sapi dan 345 Kambing Kurban
• 4 jam laluberitajatim.com
thumb
PSIM Empathy Kembali Digelar saat Iduladha: Laskar Mataram Potong Tiga Kambing
• 21 jam lalubola.com
thumb
Pemkab Jember Kerahkan Tim Ahli Awasi SPPG, Pengawasan Program MBG Diperketat
• 12 jam lalurealita.co
thumb
Jadwal final Liga Champions: pertemuan PSG dengan Arsenal
• 2 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.