Anak Muda Lebih Perfeksionis dari Generasi Sebelumnya, Dampak Mental Perlu Diantisipasi

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Generasi muda kini punya tekanan yang lebih besar untuk menjadi sempurna dibandingkan generasi-generasi sebelumnya. Hal itu terungkap dari hasil studi terbaru yang dilakukan melalui pengamatan pada mahasiswa selama 35 tahun terakhir.

Studi yang dipublikasi di jurnal Psychological Bulletin pada 2026 ini menunjukkan tingkat perfeksionisme anak muda masa kini berkaitan erat dengan perubahan sosial, budaya, dan ekonomi yang terjadi.

Adapun studi tersebut dilakukan oleh Thomas Curran, Andrew Hill, dan Pia Marie Pose dengan judul “Perfectionism Is Accelerating Over Time: A Cross-Temporal Meta-Analytic Review of 35 Years of College Student Data”.

“Perfeksionisme merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang dalam hal ini terkait dengan peningkatan depresi dan kecemasan,” kata Thomas Curran, penulis utama studi tersebut dikutip dari MedicalXpress.

Baca Juga#KaburAjaDulu, Ambisi Anak Muda Menjadi Warga Global (7)
Baca JugaAnak Muda, Aspirasi, dan Ketakutan untuk Bersuara

Ia menambahkan, studi yang dilakukan bersama timnya tersebut mengungkapkan masalah krisis mental yang dialami oleh remaja saat ini membutuhkan intervensi dari banyak faktor. Itu terutama faktor budaya dan ekonomi.

Perfeksionisme merupakan masalah kesehatan di masyarakat yang dalam hal ini terkait dengan peningkatan depresi dan kecemasan.

Studi dilakukan dengan menganalisis 307 studi sebelumnya yang melibatkan 82.939 mahasiswa di Amerika Serikat, Kanada, dan Inggris. Data dikumpulkan dari berbagai penelitian yang dilakukan selama 35 tahun terakhir dari 1989 hingga 2024.

Hasil riset tersebut menunjukkan, tingkat perfeksionisme mahasiswa meningkat signifikan selama 35 tahun terakhir. Peningkatan tersebut terjadi pada berbagai dimensi yang berkaitan dengan diri sendiri maupun lingkungan.

Peneliti mengukur beberapa bentuk perfeksionisme yang terlihat. Salah satunya yakni self-oriented perfectionism atau kecenderungan menetapkan standar tinggi untuk diri sendiri.

Selain itu, bentuk lain yang diamati yakni socially prescribed perfectionism atau keyakinan bahwa orang lain punya tuntutan yang sangat tinggi pada dirinya.

Dari pengamatan yang dilakukan, peneliti menemukan perfeksionisme yang berasal dari tekanan sosial mengalami peningkatan paling cepat dibandingkan bentuk lainnya. Peningkatan tersebut mengalami percepatan sejak awal tahun 2000-an.

Temuan ini dinilai mengkhawatirkan karena bentuk perfeksionisme dari tekanan sosial lebih erat terkait dengan masalah psikologis. Selain itu, kondisi tersebut membuat seseorang menjadi lebih takut untuk melakukan kesalahan.

Baca JugaAnak Muda Gen Z Tidak Lagi Mengejar Jabatan Tinggi asalkan Gaji Mencukupi
Baca JugaMahasiswa Pilih Mana, Magang atau Organisasi?

“Mahasiswa masa kini semakin takut gagal dan lebih sensitif terhadap kritik. Mereka juga menunjukkan peningkatan keraguan saat mengambil keputusan,” ujar peneliti dalam studi tersebut.

Faktor ekonomi

Menurut peneliti, perubahan ekonomi turut berperan dalam peningkatan perfeksionisme pada anak muda saat ini. Anak muda saat ini mengalami fase saat pertumbuhan pendapatan per kapita di masyarakat melambat. Kondisi itu mendorong mereka untuk semakin berkompetisi dan berprestasi.

Sementara itu, saat peluang ekonomi semakin terbatas, anak muda cenderung menggunakan standar yang lebih tinggi bagi diri sendiri. “Jika peluang ekonomi terbatas, anak muda tampaknya justru memacu diri dengan terus berupaya lebih keras,” ucap Curran.

Hal tersebut membuat anak muda memiliki keyakinan bahwa usaha yang ekstra keras menjadi satu-satunya cara untuk bertahan dalam persaingan yang terjadi. Akibatnya, tekanan mental dari dalam diri semakin meningkat.

Mengutip teori dari psikolog Karen Horney, karakter tersebut merupakan salah satu sifat manusia yang sering terjebak dalam kondisi tyrannical shoulds, yakni tuntutan berlebihan yang mengharuskan seseorang menjadi seperti apa. Ketika standar ideal yang ditetapkan terlalu jauh dari kenyataan, tekanan psikologis pun bisa muncul.

Budaya kompetitif

Peneliti menilai, budaya kompetitif modern memperkuat tekanan tersebut. Anak muda semakin didorong untuk selalu memperbaiki diri agar sesuai dengan tuntutan sosial. Nilai diri diukur dengan pencapaian, produktivitas, dan pengakuan sosial.

Baca JugaKompetitif, Adaptif, dan Inovatif di Era Disrupsi Digital
Baca JugaAnak-anak Muda Tak Punya Pilihan Selain ”Hidup di Ujung Tanduk”

Tekanan tersebut tidak hanya datang dari keluarga, namun juga saudara, teman sebaya, pasangan, serta institusi pendidikannya. Jika semakin banyak sumber tekanan yang didapatkan, sifat perfeksionis yang muncul akan semakin besar.

Peneliti juga mengaitkan situasi tersebut dengan budaya materialisme yang semakin tinggi di masyarakat. Dikutip dari American Psychological Association PsycNet, banyak anak muda saat ini yang menjadikan kekayaan, penampilan, dan status sosial sebagai indikator keberhasilan. Hal ini kemudian menciptakan tekanan tambahan untuk tampil sempurna di masyarakat.

Anak muda pun kini lebih sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Mereka lebih khawatir dengan penampilan fisik dan pencapaian pribadi. Kebiasaan itu memperkuat kecenderungan perfeksionistik yang kemudian diperberat lagi dengan adanya media sosial.

Namun, peneliti menilai, media sosial tidak menjadi masalah utama dalam masalah perfeksionisme di anak muda. Faktor budaya dan ekonomi dinilai lebih berpengaruh.

“Telepon pintar dan media sosial memang banyak disalahkan, tetapi peningkatan perfeksionisme sebenarnya sudah terjadi sebelum media sosial berkembang luas,” tutur Curran.

Masalah perfeksionisme sebelumnya juga diungkap dalam studi yang diterbitkan di International Journal of Educational Research, September 2025. Namun, studi yang dilakukan di University of Eastern Finland itu menemukan hal sebaliknya. Lingkungan seperti guru, keluarga, dan teman justru bisa berperan untuk mencegah masalah psikologis pada orang yang memiliki kecenderungan perfeksionis.

Baca JugaPerfeksionis: Saat Ketelitian Menjadi Terlalu Berlebihan
Baca JugaKerja Layak untuk Kaum Muda Indonesia

Penelitian menunjukkan, siswa yang mendapatkan dukungan memadai dari guru melaporkan gejala burnout, depresi, dan kecemasan jauh lebih rendah dibandingkan yang tidak mendapatkan dukungan.

Selain itu, dukungan keluarga terbukti membantu meredakan gejala kecemasan pada siswa yang memiliki kecenderungan perfeksionis.

“Penelitian kami memberikan wawasan baru tentang perfeksionisme, kesejahteraan, dan persepsi siswa terhadap dukungan yang mereka terima. Dukungan dari guru, keluarga, dan teman dianggap penting,” kata peneliti utama studi, Anna Kuusi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Blak-Blakan! Respons Connie soal Peluang RI "Diserang" Seperti Venezuela: Sangat Mungkin | BOLA LIAR
• 40 menit lalukompas.tv
thumb
KPK Sebut Fadia Arafiq Intervensi Pegawai Outsourcing Untuk Memilihnya di Pilkada 2024
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Polisi Dalami Latar Belakang Keluarga yang Meninggal Saat Berkemah di Lokasi Wisata Temanggung
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Hector terus dorong batas kemampuan timnas hadapi Copa del Mundo
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
DSI Bisa Tutup Kebocoran Ekspor, Transparansi Jadi Syarat Utama
• 5 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.