Institut Teknologi Bandung (ITB) menegaskan abstrak ilmiah mengenai pneumonia yang dipresentasikan alumninya, Prihantini, dalam sebuah konferensi internasional tidak berkaitan dengan tesis yang pernah disusun saat kuliah di kampus tersebut.
Hal itu disampaikan menyusul munculnya dugaan manipulasi riset atau fraud dalam abstrak ilmiah bertema pneumonia yang dipresentasikan Prihantini pada forum internasional di Denmark.
Dekan FMIPA ITB, Aep Patah, mengatakan topik penelitian Prihantini selama menjalani studi magister di ITB justru berada di bidang matematika terapan terkait gelombang air.
“Tesis Prihantini saat menempuh studi Magister di ITB berjudul ‘Kajian Analitik Gelombang Air Akibat Longsoran pada Pantai Miring’,” kata Aep dalam keterangan tertulis yang diterima kumparan, Jumat (29/5).
Prihantini merupakan alumni Program Magister Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB angkatan 2020 yang lulus pada 2022.
Aep menegaskan, abstrak ilmiah mengenai pneumonia yang belakangan menjadi sorotan publik tidak memiliki keterkaitan dengan aktivitas akademik maupun penelitian yang dilakukan Prihantini di ITB.
“Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB,” ujarnya.
Menurutnya, ITB memiliki komitmen kuat dalam menjaga integritas akademik dan etika penelitian di lingkungan perguruan tinggi.
ITB juga menegaskan tidak memberikan toleransi terhadap berbagai bentuk pelanggaran etika ilmiah, mulai dari plagiarisme hingga manipulasi data penelitian.
“ITB tidak mentoleransi plagiarisme, fabrikasi data, manipulasi hasil, maupun bentuk pelanggaran etika ilmiah lainnya dalam kegiatan akademik dan penelitian,” kata Aep.
ITB juga menyebut tindakan yang dilakukan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi sebagai individu di luar institusi kampus.
Karena itu, apabila muncul proses hukum terkait dugaan manipulasi riset tersebut, ITB menyatakan menghormati langkah hukum yang dilakukan aparat berwenang.
Sebelumnya, sekelompok periset Indonesia diduga memalsukan riset untuk mengikuti konferensi ilmiah yang diselenggarakan di Copenhagen, Denmark. Dugaan skandal pemalsuan riset ini viral setelah diungkap oleh Wa Ode Dwi Daningrat di akun Instagramnya, Senin (25/5). Masalah ini menjadi perbincangan di media sosial di Indonesia.
Wa Ode Dwi Daningrat atau Dwi merupakan peneliti Indonesia yang berkiprah di bidang clinical medicine di University of Oxford. Dwi menemukan kejanggalan terhadap abstrak ilmiah yang disodorkan sekelompok periset tersebut dalam ISPPD 2026 yang berlangsung pada 17–21 Mei 2026.
Menurut Dwi, sekelompok periset itu menyodorkan 19 abstrak yang dipamerkan dalam acara tersebut. Menurutnya, jumlah abstrak sebanyak itu tidak masuk akal dibuat dalam waktu singkat. Terlebih, kata dia, abstrak tersebut tidak akurat dan mengandung fabrikasi data, termasuk penggunaan AI.
Abstrak penelitian yang dimaksud Dwi salah satunya berjudul Refugee and Displaced Elders Facing Winter Viral Pneumococcal Syndemics: CampCo-Infection Screening, Vaccination Gaps and Surge Preparedness in Humanitarian Settings across The Middle East And Africa. Dalam abstrak penelitian itu, sekelompok peneliti tersebut mengeklaim telah mengevaluasi 12 kamp besar di Lebanon, Yordania, Bangladesh, dan Sudan Selatan.





