Harga Minyak Variatif, Pasar Cerna Sinyal Gencatan Senjata AS-Iran

idxchannel.com
17 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (29/5/2026) setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi.

Harga Minyak Variatif, Pasar Cerna Sinyal Gencatan Senjata AS-Iran. (Foto: Magnific)

IDXChannel - Harga minyak ditutup bervariasi pada perdagangan Kamis (28/5/2026) setelah bergerak fluktuatif sepanjang sesi.

Pelaku pasar mencermati laporan yang saling bertentangan terkait kemajuan pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Baca Juga:
Pergeseran Peta Otomotif: Dominasi Astra (ASII) Mulai Digoyang Merek China

Kontrak berjangka (futures) minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli, yang berakhir pada penutupan Jumat, turun 0,6 persen menjadi USD93,71 per barel.

Sementara kontrak Brent Agustus yang lebih aktif diperdagangkan naik 72 sen menjadi USD92,97 per barel.

Baca Juga:
Presiden Prabowo-Macron Sepakat Dukung Solusi Dua Negara untuk Palestina

Kontrak minyak mentah AS atau WTI ditutup naik tipis 0,3 persen ke level USD88,90 per barel.

Harga minyak bergerak volatil dalam beberapa sesi terakhir akibat sinyal yang saling bertolak belakang mengenai peluang berakhirnya perang Iran yang telah berlangsung selama tiga bulan serta potensi dibukanya kembali Selat Hormuz.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Menguat, Pasar Sambut Potensi Gencatan Senjata AS-Iran

Lalu lintas melalui jalur pelayaran strategis itu masih jauh di bawah level sebelum perang.

Empat sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan kepada Reuters, kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata di Timur Tengah selama 60 hari telah tercapai. Media Axios pertama kali melaporkan kabar itu pada Kamis.

Namun, sumber Reuters menyebut kesepakatan tersebut masih membutuhkan persetujuan Presiden AS Donald Trump. Sementara itu, kantor berita Tasnim Iran melaporkan, draf nota kesepahaman potensial dengan AS belum difinalisasi maupun dikonfirmasi.

Pada awal perdagangan, harga Brent dan WTI sempat melonjak lebih dari 2 persen setelah Garda Revolusi Iran menyatakan telah menargetkan pangkalan udara AS sebagai respons atas serangan AS ke kota pelabuhan Bandar Abbas.

“Pasar bergerak enggan naik di tengah sentimen bullish dari Iran, tetapi langsung merosot tajam hanya karena sedikit indikasi pembukaan kembali Selat Hormuz,” kata analis firma penasihat perdagangan minyak Ritterbusch and Associates.

“Kontras respons terhadap sentimen bullish dan bearish ini bisa terus berlangsung selama gencatan senjata tetap terjaga,” imbuh mereka.

Harga minyak juga tertekan oleh data resmi AS yang menunjukkan persediaan minyak mentah negara itu turun 3,3 juta barel pekan lalu.

Penurunan tersebut menjadi yang keenam berturut-turut, namun lebih rendah dibanding ekspektasi analis Reuters yang memperkirakan penurunan sebesar 4,1 juta barel.

Persediaan bensin dan bahan bakar distilat AS juga tercatat menurun.

Analis UBS Giovanni Staunovo mengatakan pasar minyak saat ini masih lebih sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah dibanding penurunan besar persediaan minyak AS yang kembali terjadi pekan ini. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Danantara Rombak BUMN Telkom (TLKM), Pangkas Anak Usaha dari 67 jadi 19 Entitas
• 14 jam lalukatadata.co.id
thumb
Deret Kerja Sama Pertahanan RI - Prancis: dari Rafale hingga Latihan Militer
• 9 jam lalukatadata.co.id
thumb
Ekonomi AS Melambat, Perang di Iran Diperkirakan Tekan Pertumbuhan 2026
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Babak Belur Bisnis Kuliner Kota Cirebon yang Terus Menurun, Apa Alasannya?
• 10 jam lalubisnis.com
thumb
ITB Ungkap Tesis Prihantini soal Gelombang Air, Bukan Pneumonia
• 12 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.