Wabah Ebola Menyebar, AS Memperketat Pembatasan Masuk

erabaru.net
16 jam lalu
Cover Berita

Seiring wabah Ebola yang terus memburuk, Amerika Serikat kembali meningkatkan langkah pencegahan. Pada 27 Mei, AS memperluas program pemeriksaan terhadap virus Ebola. 

EtIndonesia. Menurut aturan terbaru dari otoritas kesehatan federal Amerika Serikat, siapa pun yang dalam 21 hari terakhir pernah mengunjungi Democratic Republic of the Congo, Uganda, atau South Sudan wajib masuk ke Amerika melalui bandara yang telah ditentukan.

Selain Washington Dulles International Airport dan Hartsfield–Jackson Atlanta International Airport, Amerika kini menambahkan bandara ketiga, yaitu George Bush Intercontinental Airport. Para pelancong terkait akan menjalani pemeriksaan Ebola yang lebih ketat di ketiga bandara tersebut.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) AS menyatakan bahwa penumpang yang masuk harus mengisi kuesioner, menjalani pemeriksaan suhu tubuh, dan menjelaskan apakah pernah melakukan kontak dengan kasus yang diduga Ebola.

Jika tidak menunjukkan gejala, penumpang akan diminta terus memantau kondisi kesehatannya. Namun jika muncul gejala seperti demam, mereka akan menjalani pemeriksaan dan isolasi lebih lanjut. Kasus yang serius akan dirujuk ke rumah sakit untuk perawatan isolasi.

Organisasi bantuan internasional International Rescue Committee menyebut wabah Ebola di Kongo berkembang menjadi “salah satu wabah paling mematikan yang pernah tercatat.” Penyebaran penyakit ini disebut lebih cepat dibandingkan upaya pengendaliannya. Saat ini telah ditemukan lebih dari 900 kasus suspek dengan sedikitnya 223 korban meninggal.

World Health Organization kemudian mengumumkan status darurat kesehatan masyarakat.

Pada 27 Mei, Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyerukan gencatan senjata. Dalam unggahannya di platform X, ia mengatakan bahwa wilayah timur Kongo kini menghadapi wabah penyakit sekaligus konflik bersenjata. Wabah Ebola di Provinsi Ituri telah melampaui kapasitas penanganan.

Ia menulis:  “Di tengah hujan tembakan, kami tidak dapat membangun kepercayaan masyarakat dan juga tidak dapat mengisolasi pasien. Kami mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera melakukan gencatan senjata demi mengendalikan wabah.”

Pada hari yang sama, organisasi bantuan anak Save the Children menyatakan bahwa seperempat dari korban meninggal yang telah terkonfirmasi adalah anak-anak, dan menyerukan peningkatan langkah pencegahan infeksi.

Menurut laporan Reuters, meskipun Amerika Serikat dan negara-negara lain memimpin upaya mediasi, konflik di wilayah timur Kongo masih terus berlangsung dan menyebabkan jutaan orang mengungsi.

Sebuah dokumen menunjukkan bahwa United Nations High Commissioner for Refugees menyebut pusat penampungan dan transit di wilayah West Nile, Uganda—yang berbatasan dengan Kongo—sudah menampung lebih dari dua kali kapasitas maksimalnya.

Saat ini organisasi-organisasi bantuan sedang berupaya mengirim personel dan peralatan darurat ke wilayah timur Kongo. Namun demikian, karena kurangnya kepercayaan masyarakat setempat, tenaga medis mengalami serangan dan upaya penyelamatan pun terhambat.

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemuda Babelan Ngadu ke Dedi Mulyadi, Sindir Pejabat Ogah Perbaiki Jalan Rusak: Gak Boleh Dirapikan, Takut Miskin
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Jasa Marga Catat 321.039 Kendaraan Tinggalkan Jabotabek Saat Libur Iduladha
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Nggak Perlu Ribet Buka Aplikasi Cek Bansos, Sekarang Bisa Lewat Portal Resmi Pemerintah
• 13 jam lalumedcom.id
thumb
Prabowo Akan Jadi Inspektur Upacara Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026
• 16 jam laluidxchannel.com
thumb
Rumah dan Toko Warga Semampir Dibobol Maling, Uang 7 Juta dan HP Digasak
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.