Diduga karena ventilasi tertutup setelah barbeku, satu keluarga meninggal saat berkemah di Temanggung, Jawa Tengah. Kasus itu menambah daftar panjang kematian akibat dugaan keracunan karbon monoksida (CO), gas mematikan yang tidak berwarna dan tak berbau.
Kabar duka itu datang dari daerah wisata Posong, Temanggung, Rabu (27/5/2026). Korbannya adalah ayah Muhamad Ali Munawar (52), ibu Maghfirah (43), anak sulung Bagas Amar Hakiki (21), serta putra bungsu Alvino Evan Hakim (16).
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Temanggung Inspektur Satu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, korban diduga meninggal setelah keracunan gas. Penyidik menemukan gas portable yang digunakan korban untuk memasak di sekitar tempat glamping.
"Kemungkinan ada dua (penyebab), dari gas portable itu sama gas setelah bakar-bakar. Jadi setelah barbeku karena langsung tidur, setelah dia bakar-bakar langsung ditutup pintunya," kata Mahendra kepada wartawan, Kamis (28/5/2026).
Kasus serupa juga pernah terjadi di penginapan Lakeside Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Pada Oktober 2025, suami-istri meninggal diduga keracunan CO dari tabung gas penginapan di tepian danau tersebut (Kompas, 14/10/2025).
Ancaman keracunan CO juga menghantui pekerja kapal. Tiga pekerja kapal tewas diduga akibat keracunan gas saat sedang memperbaiki bagian dalam palka tongkang di aliran Sungai Batanghari, Desa Niaso, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Rabu (20/5/2026).
Tongkang adalah kapal tanpa mesin yang digunakan mengangkut barang seperti batubara, pasir, kayu, atau hasil tambang melalui jalur air. Palka yang biasa disebut ”perut kapal” merupakan ruang muatan atau penyimpanan di bagian bawah kapal yang kerap minim sirkulasi udara.
Ancaman keracunan CO juga bisa datang dari genset listrik. Di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, dua remaja tewas dan satu remaja kritis akibat keracunan CO, Sabtu (23/5/2026).
Mereka menghirup gas tersebut ketika mengisi daya ponsel dengan genset masjid. Itu mereka lakukan saat pemadaman total listrik di wilayah Sumatera bagian utara.
Keracunan gas juga bisa datang dari dalam sumur. Dua kakak beradik, Samsuri (40) dan Saidi (37), tewas menghirup gas beracun saat menguras sumur tetangganya di Desa Simbatan, Kecamatan Sarirejo, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Sebelum menolong korban, warga dan polisi memasukkan seekor ayam ke sumur untuk memastikan keamanan. Ayam itu mati lemas setelah 10 menit di dalam sumur sedalam 5 meter itu (Kompas, 10/11/2014).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan CO sebagai gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan tidak berasa, yang sedikit lebih ringan daripada udara.
CO merupakan hasil dari pembakaran yang tidak sempurna dari bahan bakar yang mengandung karbon dan juga dihasilkan beberapa proses industri dan biologis.
Saat masuk ke tubuh, CO akan membentuk ikatan kuat dengan hemoglobin dan membentuk karboksihemoglobin (COHb). Kondisi itu mengganggu kemampuan hemoglobin dalam mengikat oksigen. Suplai oksigen ke jaringan pun terganggu dan tubuh kekurangan oksigen atau hipoksia.
Sejumlah studi mencatat penggunaan pemanas air dengan bahan bakar gas memicu keracunan CO di berbagai belahan dunia, termasuk di Korea Selatan dan Nepal. Selain akibat pembakaran tidak sempurna, ruangan dengan ventilasi buruk dan minim oksigen ikut memicunya (Kompas, 12/10/2025).
Berkaca dari kasus-kasus sebelumnya, pastikan praktik aman di rumah dan saat beraktivitas di mana saja dari sumber-sumber CO. Pastikan ventilasi baik saat menggunakan kompor, briket arang, tungku, atau generator.
Jangan pernah menyalakan briket arang, generator, atau kendaraan di ruang, tenda, atau garasi tertutup. Lakukan perawatan rutin kompor, water heater, tungku, dan pemanas.
Di rumah dan tempat beraktivitas, pastikan peralatan gas terpasang dengan benar dan tak terjadi kebocoran. Khusus untuk kejadian di dalam sumur, pastikan terlebih dahulu kadar gas di dalamnya dengan detektor CO yang juga bisa dipasang di ruangan. Keracunan di sumur umumnya dipicu akumulasi gas beracun atau kekurangan oksigen di ruang tertutup.
Belum ada standar CO yang disepakati untuk udara dalam ruangan. Standar Kualitas Udara Ambien Nasional AS untuk udara luar ruangan adalah 9 part per million/ppm (40.000 mikrogram per meter kubik) selama 8 jam, dan 35 ppm selama 1 jam.
United States Environmental Protection Agency mencatat, tingkat rata-rata kadar karbon monoksida di rumah tanpa kompor gas bervariasi, dari 0,5-5 ppm. Tingkat di dekat kompor gas yang disetel dengan benar seringkali berkisar antara 5-15 ppm.
Tanpa disadari, kematian rentan dipicu gas berbahaya, terutama CO. Oleh karena itu, tidak hanya demi kenyamanan, ventilasi yang ideal dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa.





