PBB (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres pada Kamis (28/5) menyebutkan bahwa konflik Ukraina terancam lepas kendali.
"Namun arah perang – eskalasi dan intensifikasi yang kita saksikan – berisiko lepas kendali," kata Guterres dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Ukraina.
Ia juga mencatat bahwa saat ini diperlukan deeskalasi, gencatan senjata, dan diplomasi lebih lanjut.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah menciptakan kondisi untuk perdamaian yang adil, abadi, dan komprehensif - sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB," kata Sekjen.
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Senin mengatakan serangan mematikan Ukraina di sebuah perguruan tinggi di Starobelsk (Starobilsk) di Lugansk menjadi pemicu terakhir yang mendorong pasukan Rusia untuk memulai serangan sistematis terhadap perusahaan industri pertahanan Ukraina, pusat pengambilan keputusan dan pos komando di Kiev.
Kementerian tersebut mengimbau agar warga negara asing, termasuk personel diplomatik, sesegera mungkin meninggalkan Kiev.
Sumber: Sputnik
Baca juga: PBB peringatkan eskalasi baru Rusia-Ukraina, dorong perundingan
Baca juga: EU: Eropa tak akan jadi mediator netral antara Rusia dan Ukraina
"Namun arah perang – eskalasi dan intensifikasi yang kita saksikan – berisiko lepas kendali," kata Guterres dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB tentang Ukraina.
Ia juga mencatat bahwa saat ini diperlukan deeskalasi, gencatan senjata, dan diplomasi lebih lanjut.
"Yang dibutuhkan saat ini adalah menciptakan kondisi untuk perdamaian yang adil, abadi, dan komprehensif - sesuai dengan Piagam PBB, hukum internasional, dan resolusi PBB," kata Sekjen.
Kementerian Luar Negeri Rusia pada Senin mengatakan serangan mematikan Ukraina di sebuah perguruan tinggi di Starobelsk (Starobilsk) di Lugansk menjadi pemicu terakhir yang mendorong pasukan Rusia untuk memulai serangan sistematis terhadap perusahaan industri pertahanan Ukraina, pusat pengambilan keputusan dan pos komando di Kiev.
Kementerian tersebut mengimbau agar warga negara asing, termasuk personel diplomatik, sesegera mungkin meninggalkan Kiev.
Sumber: Sputnik
Baca juga: PBB peringatkan eskalasi baru Rusia-Ukraina, dorong perundingan
Baca juga: EU: Eropa tak akan jadi mediator netral antara Rusia dan Ukraina





