Dunia kerja tak jauh berbeda menilai lulusan perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta. Bahkan, lulusan PTS gajinya sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan PTN.
Empat bulan setelah lulus kuliah dari Jurusan Manajemen Internasional Universitas Atma Jaya Yogyakarta pada 2023, Surya Sakagiri (24) mendapat pekerjaan sebagai trainee management development program di sebuah perusahaan ritel dan distribusi besar nasional.
Gajinya saat itu sedikit di atas UMR Jakarta. Ia kemudian ditempatkan di Palembang, Sumatera Selatan. Di perusahaan itu, dia satu angkatan dengan peserta dari berbagai PTN dan PTS lain tanpa pembedaan perlakuan. Gajinya kini Rp 6,5 juta, jauh lebih tinggi dari upah minimum kota (UMK) Palembang yang sebesar Rp 4,2 juta.
”Sebenarnya sama saja PTN dan PTS. Paling ujungnya, yang satu lebih punya nama, tetapi lulusannya sama-sama sarjana. Jadi, semua kampus yang bisa memberikan gelar sarjana, ya, setara. Semua kembali ke orangnya masing-masing,” kata Surya, Rabu (6/5/2026).
Pengalaman Surya selaras dengan temuan Tim Jurnalisme Data Harian Kompas yang membandingkan perjalanan lulusan sarjana S-1 PTN dan PTS di dunia kerja.
Hasilnya, lulusan baru PTN dan PTS bisa dibilang tidak jauh berbeda. Bahkan, lulusan PTS dalam rentang umur tertentu lebih tinggi gajinya dibandingkan dengan jebolan kampus negeri.
Untuk mencari PTS sesuai minat dan kemampuan, Kompas telah membuat fitur pencarian PTS dari seluruh Indonesia yang bisa dieksplorasi untuk memudahkan penelusuran. Di sini digunakan status dan nilai akreditasi sebagai indikator mutu.
Tim Jurnalisme Data Harian Kompas mengolah data mikro Survei Angkatan Kerja Nasional Badan Pusat Statistik Tahun 2025. Hasilnya, 21 persen lulusan PTS usia 20-25 tahun mendapat pekerjaan formal pertama kalinya dalam waktu kurang dari satu bulan, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan PTN yang sebesar 19,2 persen.
Di kelompok yang sama, persentase lulusan PTS yang mendapat pekerjaan dalam 2-3 bulan setelah lulus juga lebih tinggi, yakni 34,7 persen, dibandingkan dengan lulusan PTN sebesar 28,7 persen.
Dari sisi gaji, lulusan PTS juga sedikit lebih unggul. Di kelompok umur 20-25 tahun dengan status pekerjaan pengusaha formal dan pegawai formal, rerata gaji lulusan PTS Rp 2,5 juta, sedangkan jebolan PTN hanya Rp 2 juta.
Secara umum, lulusan PTN dan PTS paling banyak menjadi pegawai atau karyawan, yakni masing-masing 80,92 persen dan 78,37 persen. Rata-rata sekitar 7,3 persen yang menjadi wirausaha. Persentase lulusan lulusan PTS yang berwirausaha sedikit lebih besar, yakni 7,51 persen dibandingkan dengan lulusan PTN yang sebesar 7 persen.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemendiktisaintek Khairul Munadi menjelaskan, keberhasilan pendidikan tinggi tidak semata ditentukan oleh status perguruan tinggi.
Faktor yang lebih banyak berperan adalah kualitas proses belajar, kompetensi yang dibangun, serta karakter, daya juang, dan kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan peluang selama kuliah.
Oleh karena itu, calon mahasiswa dan orangtua perlu memilih program studi dan perguruan tinggi secara rasional dan visioner. Pilihan pendidikan tinggi sebaiknya tidak hanya mengikuti tren atau persepsi popularitas semata, tetapi juga mempertimbangkan minat, potensi diri, prospek masa depan, serta kesesuaian dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri ke depan.
Hal ini menunjukkan bahwa dunia kerja saat ini semakin menilai kompetensi, keterampilan, pengalaman, dan karakter individu, bukan semata label negeri atau swasta.
Baik PTN maupun PTS berada dalam kerangka standar mutu nasional yang sama dan wajib memenuhi Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Bahkan, berbagai data ketenagakerjaan menunjukkan bahwa masa tunggu kerja ataupun standar gaji awal lulusan PTN dan PTS relatif tidak berbeda secara signifikan.
”Hal ini menunjukkan bahwa dunia kerja saat ini semakin menilai kompetensi, keterampilan, pengalaman, dan karakter individu, bukan semata label negeri atau swasta,” katanya (Kompas.id, 25/5/2026).
Pengamat pendidikan Darmaningtyas mengatakan, meskipun durasi tunggu mendapatkan pekerjaan dan gaji pertama lulusan PTN dan PTS tidak berbeda jauh, masyarakat memandang PTN lebih baik kualitasnya ketimbang PTS. Ini yang menyebabkan masyarakat menyerbu PTN ketika peluang untuk itu dibuka selebar-lebarnya.
”Di benak masyarakat tertanam bahwa PTN itu dijamin berkualitas meskipun tidak selalu begitu, sebaliknya dengan PTS,” kata Darmaningtyas saat dihubungi Kompas, Selasa (5/5/2026).
Serial Artikel
PTS-PTS Ini bak Bunga Dikerubuti Kumbang
Sejumlah kampus swasta ini bisa menjaga tren pertumbuhan jumlah mahasiswanya. Mengapa mereka tetap bisa memikat mahasiswa baru saat kampus swasta lain kesulitan?
Keberadaan PTS perlu disokong agar mampu bertahan dan ekosistem pendidikan tinggi terjaga keseimbangannya. Banyak PTS yang menetapkan biaya pendidikan jauh lebih murah ketimbang PTN sehingga sangat membantu kelompok miskin dalam inklusivitas pendidikan tinggi.
”Justru yang menyelamatkan kelompok miskin atau kelompok miskin yang juga kebetulan tidak terlalu pintar akademiknya adalah PTS-PTS. Atau kelompok lulusan SMA yang lebih memilih kerja sambil kuliah, mereka larinya ke PTS,” katanya.





