Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani, menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang kini mendekati level Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) menjadi perhatian serius dunia usaha, karena mulai menekan sektor riil. Para pelaku usaha mulai menahan ekspansi dan menghentikan rekrutmen untuk sementara sebagai bagian dari strategi mereka untuk bertahan.
Shinta mengatakan tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah berlangsung sejak awal tahun. Pada awal Januari 2026, rupiah masih berada di kisaran Rp16.800 per dolar AS, lalu mendekati level psikologis Rp17.000 pada akhir kuartal I sebelum terus melemah hingga kini mendekati Rp17.900 per dolar AS.
“Artinya, dunia usaha telah menghadapi tekanan nilai tukar ini secara bertahap selama beberapa bulan terakhir, sehingga dampaknya terhadap sektor riil semakin terasa,” ujar Shinta kepada Katadata.co.id, Jumat (29/5).
Menurutnya, tantangan utama bagi pelaku usaha bukan hanya pada level pelemahan rupiah, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi, biaya pembiayaan, serta kepastian berusaha.
Ketergantungan impor bahan baku yang masih berada di kisaran 70% membuat pelemahan rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, mempersempit margin usaha, dan mengurangi ruang perusahaan untuk melakukan ekspansi.
Tekanan tersebut dirasakan sejumlah sektor industri seperti tekstil dan produk tekstil, kimia dan petrokimia, plastik, logam dasar, elektronik, hingga otomotif yang masih mengandalkan komponen impor dalam rantai produksinya.
Kondisi itu juga diperberat oleh tingginya biaya logistik, energi, serta biaya pembiayaan. Shinta menyebut pelaku usaha saat ini menghadapi tekanan berlapis atau externally driven cost pressure yang cukup signifikan.
Dari sisi aktivitas usaha, dampak pelemahan rupiah mulai tercermin dari menurunnya optimisme pelaku industri. PMI manufaktur yang kembali masuk zona kontraksi sejak Juli 2025. Tren penurunan Indeks Kepercayaan Industri juga menunjukkan sektor riil sedang menghadapi fase yang semakin menantang.
“Apalagi pelemahan rupiah saat ini jauh lebih dalam dibandingkan posisi pada kuartal pertama tahun ini ketika sebagian subsektor manufaktur tumbuh di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan beberapa subsektor mengalami kontraksi,” katanya.
Ambil Langkah Tahan Ekspansi dan RekrutmenDi tengah tekanan tersebut, dunia usaha mulai mengambil berbagai langkah mitigasi. Sejumlah perusahaan memilih melakukan efisiensi operasional, hiring freeze atau membekukan rekrutmen, mengendalikan biaya non-esensial, hingga menunda ekspansi dan investasi baru. Perusahaan juga melakukan diversifikasi pasar, memperkuat penggunaan bahan baku lokal, serta memasang strategi hedging untuk mengelola risiko nilai tukar.
Menurut Shinta, fokus utama pelaku usaha saat ini adalah menjaga keberlangsungan bisnis sekaligus mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan biaya yang terus meningkat.
Karena itu, Apindo menilai yang paling dibutuhkan saat ini ialah menjaga kredibilitas makroekonomi dan keyakinan para pelaku pasar di Indonesia melalui koordinasi kebijakan yang kuat antara otoritas fiskal, moneter, dan sektor riil.
Dunia usaha memahami berbagai langkah yang dilakukan pemerintah dan Bank Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas makroekonomi nasional. Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%, misalnya, dipandang sebagai langkah pre-emptive stabilization policy untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan kepercayaan pasar di tengah tekanan global dan risiko geopolitik.
Meski demikian, Shinta menegaskan efektivitas kebijakan stabilisasi juga perlu diimbangi dengan langkah yang mampu menjaga daya tahan sektor riil. Dalam hal ini, pemerintah harus memahami bahwa stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan.




