Selama ini, restoran Bartolo dikenal sebagai bistro bergaya Prancis-Italia di Uluwatu, Bali dengan comfort food yang terasa dekat dan atmosfer yang ramah. Tempat ini bukan sekadar lokasi makan malam, tapi juga ruang berkumpul —di mana tamu bisa datang setelah dari pantai, lalu menghabiskan waktu hingga larut.
Suasana temaram khas Bartolo kerap menjadi tempat hangat yang menyambut tamu dalam riuh-rendah percakapan akrab mereka. Menggandeng esensi kebersamaan khas Eropa yang sama seperti biasanya, restoran yang dipimpin oleh Executive Chef Austin Milana ini menawarkan pengalaman baru.
Konsep baru tersebut terinspirasi dari budaya aperitivo di Eropa —tradisi menikmati waktu menjelang makan malam dengan minuman ringan dan camilan sederhana. Namun di Bartolo, pendekatan ini diterjemahkan dengan cara yang lebih santai ala masyarakat Bali.
"Menu terbaru kami mencerminkan bagaimana kami sendiri menikmati waktu," ungkap Rafael Nardo, veteran industri hospitality asal Brasil sekaligus pendiri Bartolo, seperti dikutip dari siaran resminya, Jumat (29/5). "Santai, sosial, dan dirancang untuk orang-orang yang ingin menikmati waktu lebih lama. Mungkin kamu datang setelah dari pantai, atau mungkin tetap tinggal hingga tengah malam bersama teman-teman. Apa pun itu, kami ingin tempat ini selalu terasa hangat."
Sentuhan ini juga diterjemahkan oleh Executive Chef Austin Milana melalui menu pendamping makanan baru yang unik di area bar. Alih-alih menyajikan camilan berat, Bartolo memperkenalkan conservas —olahan seafood premium yang diawetkan, sebuah budaya kuliner yang sangat populer di sudut-sudut jalan Spanyol dan Portugal. Disajikan secara sederhana namun seimbang, hidangan ini dirancang untuk dinikmati bersama-sama di tengah obrolan yang mengalir.
Kemudian, eksplorasi bahan juga jadi bagian menarik dari perjalanan baru yang mereka tawarkan. Mereka menggabungkan pengaruh Eropa dengan sentuhan lokal —menghadirkan bahan-bahan seperti calamansi, jeruk khas Asia Tenggara, daun jeruk purut hingga cascara dari kulit buah kopi. Hasilnya bukan sekadar rasa baru, tapi juga cara baru melihat bagaimana dua budaya dipertemukan dalam satu meja.
Eksperimen ini melahirkan menu-menu yang terasa ringan, menyegarkan, dan sangat cocok dengan atmosfer tropis Bali. Restoran yang awalnya dikenal lewat hidangan comfort food Mediteranianya ini, kini memanjangkan waktu operasional barnya hingga tengah malam.
Dengan pengakuan dari berbagai media internasional seperti Travel + Leisure hingga delicious. Australia, Bartolo yang juga merupakan restoran saudara dari Lulu Bistrot di Canggu ini, semakin mengukuhkan posisinya sebagai tempat bernaung yang bersahabat bagi warga lokal maupun wisatawan. Di sini, kamu tidak hanya datang untuk bersantap, tetapi juga merayakan waktu dan kebersamaan yang hangat di pesisir selatan Bali.
Bagaimana, menarik, bukan?





