Dokter Spesialis Neurologi MRCCC Siloam Semanggi, Anne Dina Soebroto, mengungkapkan bahwa tidak semua tumor otak mengalami kekambuhan atau rekurensi. Namun, risiko tersebut sangat tinggi pada tumor otak ganas, terutama glioblastoma yang disebut sebagai jenis tumor otak primer paling ganas.
“Untuk tumor otak primer yang paling ganas sebenarnya adalah glioblastoma,” kata Anne kepada kumparan usai kegiatan Siloam Oncology Summit di Shangri-La Hotel, Jakarta, Minggu (24/5).
Menurut Anne, sebagian besar pasien glioblastoma memiliki risiko kekambuhan yang sangat tinggi, bahkan hampir pasti terjadi.
“Sebagian besar glioblastoma itu pasti akan rekuren atau kambuh sebetulnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kekambuhan tumor otak tidak selalu muncul di lokasi awal. Rekurensi dapat terjadi di tempat yang sama maupun di area lain di otak.
“Untuk lokasi kekambuhan itu sendiri memang bisa di tempat yang sama, bisa di tempat lain. Artinya di area lain di otak,” jelasnya.
Selain tumor otak primer, Anne mengatakan tumor otak sekunder atau metastasis otak juga memiliki risiko kekambuhan. Kondisi ini bergantung pada tingkat keganasan tumor primer yang berasal dari organ lain.
“Misalnya kalau penyebaran dari paru, tumor parunya ganas ya tentu saja tingkat rekurensi kekambuhan untuk metastasis otaknya pasti lebih besar,” katanya.
Terkait gejala kekambuhan, Anne mengatakan keluhan yang muncul dapat berbeda-beda tergantung lokasi tumor di otak karena setiap area memiliki fungsi yang berbeda.
Meski demikian, sakit kepala menjadi salah satu gejala yang paling sering dirasakan pasien.
“Biasanya gejalanya adalah sakit kepala. Jadi sakit kepala muncul lagi, mungkin berat, pakai obat biasa itu enggak mempan, nanti muncul lagi,” ujarnya.
Selain sakit kepala, pasien juga dapat mengalami kelemahan tubuh, kejang, hingga penurunan kesadaran.
Untuk penanganan tumor otak yang kambuh, Anne mengatakan tidak semua pasien harus menjalani operasi ulang. Pilihan terapi disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
“Untuk kekambuhan terapinya dibagi dua besar, ada lokal terapi dan sistemik. Lokal terapi bisa surgery atau re-surgery, bisa juga radiasi,” kata dia.
Sementara terapi sistemik ditentukan berdasarkan molecular profiling tumor. Menurut Anne, keputusan terapi dilakukan secara individual dengan melibatkan berbagai dokter terkait.
Dalam kesempatan yang sama, Anne mengimbau masyarakat tidak mengabaikan sakit kepala yang dirasa tidak biasa, terutama jika muncul berulang dan tidak membaik dengan obat.
“Kalau ada sakit kepala yang rasanya kok aneh ya, enggak biasa, enggak ada pencetusnya, minum obat sebentar terus muncul lagi, jangan disepelekan,” ujarnya.
Ia menekankan deteksi dini penting dilakukan karena peluang keberhasilan pengobatan dan prognosis pasien akan lebih baik bila tumor ditemukan lebih cepat.
“Kalau lebih dini diketahui, pasti pengobatan lebih baik, prognosis ke depannya lebih baik juga,” tutupnya.
Penanganan Kanker di MRCCC Siloam SemanggiMochtar Riady Comprehensive Cancer Center (MRCCC) Siloam Semanggi merupakan rumah sakit rujukan kanker di Indonesia dan Asia Tenggara yang didukung pendekatan Multidisciplinary Team (MDT) untuk memastikan pasien mendapatkan penanganan kanker yang terintegrasi sesuai kebutuhan pasien. Layanan ini mencakup deteksi dini hingga pengobatan kanker secara menyeluruh.
Upaya tersebut merupakan bagian dari komitmen Siloam untuk menghadirkan layanan kesehatan yang lebih terintegrasi dan mudah diakses oleh masyarakat serta mempertegas peran Siloam sebagai bagian dari jaringan layanan rujukan nasional yang mampu menghadirkan layanan kesehatan berkualitas tanpa harus pergi ke luar negeri, khususnya dalam penanganan dan pengobatan kanker.





