DEPOK, KOMPAS.com - Tidak banyak orang yang bersedia berhadapan langsung dengan kematian.
Ketika sebagian besar orang memilih menjauh dari suasana duka, ada sekelompok relawan yang justru datang mendekat.
Mereka memandikan jenazah, membersihkan tubuh yang telah tak bernyawa, mengafani, hingga membantu keluarga menjalani salah satu momen paling berat dalam hidupnya.
Mereka melakukannya tanpa tarif, tanpa honor tetap, bahkan sering kali meninggalkan pekerjaan dan aktivitas pribadi begitu menerima kabar duka.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin tampak menyeramkan. Namun bagi para relawan pengurus jenazah, tugas tersebut merupakan bentuk pengabdian sekaligus ikhtiar mencari pahala membantu sesama muslim memperoleh penghormatan terakhir yang layak.
Baca juga: Menemani Perjalanan Terakhir, Kisah Pemandi Jenazah Merawat yang Telah Tiada
Di balik layanan pengurusan jenazah yang dijalankan secara sukarela di Masjid Imam Asy-Syafi'i, Sukmajaya, Depok, tersimpan kisah tentang ketulusan, ketahanan mental, dan cara manusia memaknai kehidupan melalui kematian.
Koordinator Tim Layanan Pengurusan Jenazah Perempuan Masjid Imam Asy-Syafi'i, Ayu (bukan nama sebenarnya) (41), mengatakan layanan tersebut sebenarnya pernah berjalan sebelumnya, tetapi sempat vakum dalam waktu cukup lama.
Seiring munculnya kebutuhan masyarakat dan keinginan sebagian warga agar proses penyelenggaraan jenazah dilakukan sesuai sunnah, tim relawan kembali dibentuk.
"Sebenarnya layanan ini sudah pernah ada sebelumnya, tetapi sempat vakum cukup lama. Karena ada kebutuhan dari masyarakat sekitar dan komunitas muslim yang ingin penyelenggaraan jenazah sesuai sunnah, akhirnya kami membentuk kembali tim ini secara spontan," ujar Ayu kepada Kompas.com saat ditemui langsung, Jumat (29/5/2026).
Saat ini tim perempuan memiliki sekitar delapan hingga sepuluh anggota aktif. Namun dalam setiap pelayanan biasanya hanya empat hingga lima orang yang turun langsung, menyesuaikan ketersediaan waktu masing-masing relawan.
Mereka melayani masyarakat di wilayah Depok dan sekitarnya. Bahkan pernah mendapat permintaan untuk menangani jenazah di Citayam karena keluarga menginginkan proses pemandian dilakukan sesuai sunnah.
Semua layanan diberikan tanpa memungut biaya, terutama bagi keluarga kurang mampu. Tidak hanya proses memandikan dan mengafani, tim juga membantu menyediakan kain kafan serta berkoordinasi dengan relawan ambulans gratis.
"Tujuan utama kami adalah mengharapkan pahala dari Allah atas pelayanan terhadap jenazah," kata Ayu.
Baca juga: Tak Ingin Mama Kesepian Saat Daycare Lansia Jadi Solusi Anak Urban
Ketika satu panggilan bisa menguras tenaga berjam-jam
Di balik kesan tenang yang terlihat, proses memandikan jenazah tidak selalu mudah.
Ayu masih mengingat salah satu pengalaman paling berat selama menjadi relawan.
Saat itu mereka menangani jenazah yang lama dirawat di rumah sakit hingga mengalami luka besar di bagian belakang tubuh.
Luka tersebut begitu parah hingga tulang terlihat jelas. Selama proses pemandian, darah dan cairan tubuh terus keluar sehingga para relawan harus bekerja ekstra hati-hati.
"Proses pemandiannya sangat berat dan memakan waktu lebih dari tiga jam. Kami harus menopang tubuh jenazah dalam posisi tertentu agar proses pembersihan bisa dilakukan," ujar dia.
Setelah proses selesai, seluruh anggota tim kelelahan. Ayu bahkan mengaku hampir pingsan karena tenaga yang terkuras.
Pengalaman yang membekasPengalaman lain yang membekas baginya adalah ketika menangani jenazah yang baru dimandikan sehari setelah meninggal dunia.
Saat tiba di lokasi, kondisi kulit jenazah sudah mulai menghitam. Namun tim tetap memperlakukannya dengan penuh hormat.
"Bahkan kami berbicara dengan lembut kepada jenazah. Setelah selesai dimandikan, wajah dan kulitnya tampak jauh lebih bersih dan cerah. Itu menjadi pengalaman yang sangat membekas bagi saya," kata Ayu.
Selain tantangan fisik, tim juga kerap menghadapi perbedaan pandangan dalam keluarga mengenai tata cara pengurusan jenazah.
Baca juga: Saya Enggak Kesepian Lagi, Ketika Leny Temukan Rumah Kedua di Daycare Lansia...
Ada anggota keluarga yang menginginkan praktik yang umum dilakukan di masyarakat, sementara yang lain menghendaki proses sesuai sunnah.
"Situasi seperti itu sering membutuhkan musyawarah terlebih dahulu agar semua pihak sepakat," ujarnya.
Berawal dari kehilangan ibuBagi Fatimah (bukan nama sebenarnya), menjadi pemandi jenazah bukanlah cita-cita yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perempuan berusia 50 tahun itu terjun ke layanan pengurusan jenazah pada masa pandemi Covid-19 sekitar tahun 2020 setelah diajak seorang teman untuk mengikuti pelatihan.
Awalnya, ia hanya ingin belajar. Namun seiring waktu, kegiatan tersebut justru menjadi bagian penting dalam hidupnya.
"Ada pengalaman pribadi. Saat ibu saya meninggal dunia, saya sedang berada jauh di Kalimantan. Saya tidak sempat melihat beliau untuk terakhir kalinya,” kata Fatimah.
Pengalaman kehilangan sang ibu menjadi titik balik yang mendorong Fatimah terlibat dalam pelayanan jenazah.
Ia tidak ingin orang lain merasakan kesedihan yang sama ketika kehilangan anggota keluarga tercinta.
“Dari situ muncul keinginan untuk bisa memandikan jenazah dan membantu masyarakat yang mengalami hal serupa," ujarnya.
Baca juga: Daycare Lansia Rumah Elok, Harapan Baru Melawan Sepi





