Mengapa Sering Merasa Bersalah saat Istirahat? Ini Penjelasannya

beautynesia.id
7 jam lalu
Cover Berita

Akhir pekan akhirnya tiba setelah seminggu penuh berkutat dengan tugas kuliah atau tumpukan pekerjaan kantor. Kamu memutuskan untuk meluruskan kaki di sofa sambil menonton serial favorit yang sudah lama masuk daftar putar.

Skenarionya terdengar sempurna, bukan? Sayangnya, baru sepuluh menit berjalan, tiba-tiba muncul suara-suara kecil di dalam kepala yang mulai berbisik, "Harusnya aku mencicil tugas minggu depan sekarang," atau "Kenapa aku malas sekali, ya?" Padahal, kondisi fisik dan mentalmu memang sedang sangat lelah, dan kamu hanya sedang mengambil hakmu untuk beristirahat.

Dilansir dari Verywell Mind, perasaan bersalah yang muncul saat kita sedang tidak melakukan aktivitas produktif adalah fenomena psikologis yang sangat umum terjadi. Kondisi ini bahkan memiliki istilah medisnya sendiri, yaitu productivity guilt.

Sophie Elkins, ACSW, seorang psikoterapis yang berbasis di Los Angeles, memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menampar realitas kita. Dia menjelaskan bahwa sama seperti kita yang tidak pernah berharap sebuah ponsel bisa digunakan untuk menelepon saat baterainya benar-benar habis, kita pun tidak bisa menuntut diri kita sendiri untuk selalu tampil maksimal ketika sedang berjalan dengan sisa cadangan energi yang sangat minim.

Yuk, mari kita selami lebih dalam bersama-sama kenapa perasaan mengganjal ini bisa muncul dan bagaimana cara mengatasinya.

Identitas Dirimu Terlalu Terikat dengan Produktivitas

Akar paling mendasar mengapa rebahan santai terasa seperti sebuah kesalahan besar adalah karena kita sering kali mengukur harga diri berdasarkan seberapa banyak daftar tugas yang berhasil kita coret dalam sehari.

Dikutip dari Verywell Mind, Emily Sotiriadis, LMFT, seorang terapis berlisensi di Washington D.C., menyebut kondisi ini sebagai conditional self-worth. Ini adalah sebuah keadaan psikologis di mana kamu baru merasa berharga, diakui, dan aman jika berhasil mencapai suatu prestasi atau menyelesaikan suatu pekerjaan.

Dilansir dari Psych Central, bagi banyak orang, kesibukan harian memang menjadi sumber utama untuk mendapatkan rasa pencapaian (sense of achievement). Dampaknya, ketika roda aktivitas itu berhenti berputar sejenak untuk istirahat, otak kita secara keliru langsung menerjemahkannya sebagai bentuk "kemalasan", padahal realitasnya tidak seperti itu.

Padahal, nilai dirimu sebagai manusia tidak bersifat kondisional. Kita semua berharga dan layak untuk ada di sini semata-mata karena kita adalah manusia, bukan karena deretan pencarian kerja yang kita hasilkan. Memisahkan harga diri dari hasil kerja memang butuh proses belajar yang panjang. Tapi menyadari bahwa keduanya adalah hal yang terpisah merupakan langkah awal yang sangat membebaskan.

(naq/naq)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hery Susanto Terjerat Korupsi, Majelis Etik ORI Rampungkan Pemeriksaan
• 4 jam lalurctiplus.com
thumb
Frederic Injai, Rekrutan Senyap yang Jadi Kunci Kebangkitan PSS Sleman
• 17 jam lalubola.com
thumb
Harga Minyak Dunia Terkapar Pekan Ini, Investor Pantau Drama AS vs Iran
• 12 jam laluviva.co.id
thumb
Bos NATO Buka Suara Anggotanya Kena Hantam Drone Rusia, Perang?
• 5 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Kanada Longgarkan Aturan Masuk bagi Sebagian Pelancong dari Malaysia dan Indonesia
• 12 jam laluerabaru.net
Berhasil disimpan.