Setop Stigma: Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” Angkat Isu Sosial dengan Sentuhan Inklusif

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Film “Semua Akan Baik-Baik Saja” yang mulai tayang pada Rabu, 13 Mei, tidak hanya mengangkat kisah sosial masyarakat akar rumput, tetapi juga menjadi bagian dari Gerakan Nasional Sejuta Tangan Stop Stigma yang bertujuan menghentikan diskriminasi dan pelabelan negatif terhadap kelompok rentan di Indonesia.

Film ini menampilkan karakter Langit, diperankan oleh Reza Rahadian, yang baru keluar dari lapas, menggambarkan realitas warga binaan pemasyarakatan dengan perspektif yang lebih manusiawi. Kehadiran Kak Seto bersama Pokja Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma, yang diinisiasi oleh Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, menunjukkan komitmen kuat dalam mengubah stigma sosial.

Lebih lanjut, film ini mengangkat kompleksitas kehidupan di ruang publik seperti rusun, bantaran rel kereta, hingga perkampungan Jakarta dengan sentuhan realistis dari sineas senior Hanung Bramantyo dan dukungan MD Pictures serta Tiger Wong Entertainment milik aktor Baim Wong. Selain itu, “Semua Akan Baik-Baik Saja” juga mengajak anak-anak dengan Down Syndrome, Alim dan Vanessa, untuk berperan sebagai aktor, menambah dimensi inklusif dalam perfilman nasional.

Kak AruL, pengagas dan pengampu DemiFilm Indonesia (DFI), menjelaskan, “Kak Seto hadir bersama Pokja Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma yang diinisiasi DitJen Pemasyarakatan agar menyebut napi dengan warga binaan pemasyarakatan yang pas ada karakter Langit diperankan Reza Rahadian yang baru keluar dari lapas/penjara di film Semua Akan Baik-Baik Saja.” Dia juga menambahkan bahwa berbagai organisasi sosial dan pemerintah telah terlibat aktif sejak 2017 dalam gerakan ini.

Gerakan Nasional Sejuta Tangan Stop Stigma bertujuan membangun empati, solidaritas, dan lingkungan inklusif bebas dari rasa takut atau malu bagi korban stigma. Kampanye ini menargetkan penghentian stigma terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), Orang Dengan HIV/AIDS (ODHIV), anak dengan HIV, serta stigma berbasis fisik, ekonomi, dan budaya. Salah satu aksi nyata adalah pengecapan tangan menggunakan cat warna pada kain putih panjang sebagai simbol dukungan.

Kak Sri Suparmi, Ketua Perempuan PGRI DKI Jakarta, yang juga Sekbid Pemberdayaan Perempuan PGRI DKI dan Kasatpel TU SMPN 75 Jakarta, memberikan apresiasi tinggi terhadap film ini. Setelah menonton, dia berkata sambil tersenyum,

“Tiap tetes air mata dan terbersit untuk semangat berjuang pasti diganjar pahala. Setelah nonton saya langsung semangat dan mengelus dada dengan percaya diri sambil berkata, semua akan baik-baik saja, terima kasih semua cast dan film ini jadi oase bagi tiap penonton untuk selalu optimis dan bersyukur. Saya akan nonton lagi dengan ajak-ajak yang lain.”

Sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma juga menggandeng DemiFilm Indonesia (DFI) untuk menggelar nonton bareng film-film yang berkaitan dengan realitas sosial kemasyarakatan. Kak AruL menambahkan, “Mendatang ada film Tanah Runtuh dengan anak DS (Down Syndrome) Ridho yang disutradarai Rudi Soedjarwo. Berharap ada sinergi Sejuta Tangan Stop Stigma dengan semua organisasi sebagai penonton setianya dengan word of mouth, tiap film bisa BO yaaa.”

Kegiatan ini diikuti oleh pekerja sosial BK3S DKI dan para orang tua anak dengan kebutuhan khusus dari Tangerang dan Bogor bersama anak-anak mereka, menandai sebuah langkah penting dalam mengedukasi masyarakat dan memperkuat gerakan sosial anti stigma di Indonesia. (*/)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kronologi Jalan Raya Lenteng Agung Ambles
• 17 jam laluliputan6.com
thumb
Mengulik Alasan Jokowi Turun Gunung Safari Keliling RI, Punya Data Kekuatan PSI?
• 21 jam lalukompas.com
thumb
Manfaat Rutin Makan Semangkuk Bayam Setiap Hari
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Telkom (TLKM) Raih Laba Bersih Rp4,34 Triliun di Kuartal I-2026
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Rupiah Sentuh Rp17.817/USD, Harga Emas dan Mayoritas Mata Uang Asia Menguat
• 18 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.