Sepekan terakhir, pelemahan rupiah masih menjadi perbincangan. Meski kurs dolar terdengar seperti isu ekonomi yang jauh dari kehidupan sehari-hari, dampaknya perlahan mulai terasa di rumah-rumah tangga biasa. Memang tidak semua orang memahami pergerakan kurs dolar atau membaca laporan ekonomi setiap pagi. Tetapi hampir semua keluarga bisa merasakan ketika uang belanja semakin cepat habis, harga kebutuhan pokok perlahan naik, dan pengeluaran rumah tangga makin sulit dikendalikan.
Di tengah situasi itu, publik dikejutkan oleh potongan pernyataan Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut kenaikan dolar tidak terlalu berdampak bagi masyarakat desa. Pernyataan tersebut mungkin dimaksudkan untuk menenangkan keadaan. Namun respons publik menunjukkan hal berbeda. Media sosial dipenuhi satire dan parodi, seolah masyarakat ingin mengatakan bahwa pelemahan rupiah bukan sekadar isu layar bursa, melainkan persoalan yang pelan-pelan masuk ke dapur rumah tangga.
Yang sering luput, krisis ekonomi hampir selalu memiliki wajah perempuan. Ketika harga pangan naik dan kebutuhan hidup makin mahal, perempuan menjadi pihak pertama yang menyesuaikan keadaan. Mereka mulai mengurangi jatah makan agar anak tetap bisa sarapan. Mereka menunda membeli kebutuhan pribadi demi membayar uang sekolah. Mereka harus memutar otak agar dapur tetap mengepul, sekaligus menjaga suasana rumah tetap tenang di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.
Krisis ekonomi sering kali dibaca sebagai angka statistik, padahal ia hidup dalam kecemasan ibu-ibu di dapur rumah tangga. Dalam banyak keluarga, perempuan bukan hanya pengelola rumah tangga, tetapi juga penyangga utama saat krisis datang.
Dari Pelemahan Rupiah ke Krisis Rumah TanggaEkonom peraih Nobel, Joseph E. Stiglitz, dalam bukunya Globalization and Its Discontents (2002) menjelaskan bahwa gejolak nilai tukar dan krisis finansial hampir selalu berdampak langsung pada sektor riil, mulai dari harga kebutuhan meningkat, lapangan kerja menyusut, dan daya beli masyarakat melemah. Dalam situasi itu, kelompok paling rentan adalah masyarakat berpenghasilan rendah yang hidupnya sangat bergantung pada stabilitas harga sehari-hari.
Pandangan Stiglitz menjadi relevan untuk membaca kondisi Indonesia hari ini. Pelemahan rupiah bukan sekadar soal angka di layar bursa. Ketika nilai tukar melemah, biaya impor bahan baku naik, distribusi barang pun menjadi lebih mahal, dan ujungnya harga kebutuhan pokok ikut terdorong naik. Dampaknya memang tidak langsung terasa dalam satu malam, tetapi perlahan masuk ke ruang-ruang domestik keluarga.
Masalahnya, krisis sektor riil hampir selalu berubah menjadi krisis rumah tangga. Ketika pengeluaran membengkak sementara penghasilan tetap, keluarga mulai hidup dalam tekanan. Orang tua menjadi lebih mudah stres, relasi dalam rumah tangga menegang, dan kualitas pengasuhan anak ikut terdampak. Dalam banyak kasus, perempuan kembali menjadi “peredam pertama” dari seluruh tekanan itu.
Perempuan dan Beban yang Tidak Pernah Masuk StatistikAda satu hal yang sering luput dalam pembicaraan ekonomi makro, yakni kerja perempuan di dalam rumah. Ketika ekonomi memburuk, pekerjaan domestik justru bertambah. Perempuan harus mencari alternatif bahan makanan yang lebih murah, mencari tambahan penghasilan, sekaligus menjaga stabilitas emosional keluarga.
Ekonom feminis Diane Elson dalam Male Bias in the Development Process (1995) menjelaskan bahwa kebijakan ekonomi sering dianggap netral, padahal dampaknya sangat bias gender. Saat negara berbicara tentang inflasi dan stabilitas moneter, perempuan sering menjadi “penyangga tak terlihat” yang menyerap dampak krisis di level rumah tangga.
Masalahnya, kerja itu tidak pernah dihitung sebagai kontribusi ekonomi. Tidak masuk dalam data pertumbuhan. Tidak dianggap sebagai kerja produktif. Padahal, ketahanan keluarga Indonesia sebagian besar bertumpu pada kemampuan perempuan mengelola krisis sehari-hari.
Ironisnya, semakin sulit ekonomi, semakin besar pula ekspektasi sosial kepada perempuan untuk tetap “kuat”. Mereka dituntut tetap tenang, tetap hemat, tetap sabar, tetap mampu mengurus anak dan rumah tangga, bahkan ketika dirinya sendiri kelelahan secara mental. Di titik inilah pelemahan rupiah bukan sekadar isu ekonomi, melainkan isu sosial dan kemanusiaan.
Ketahanan Keluarga Sedang DiujiDalam pandangan M. Quraish Shihab melalui Membumikan Al-Qur’an (1992), keluarga adalah madrasah pertama sekaligus fondasi ketahanan masyarakat. Maka ketika tekanan ekonomi terus menghimpit rumah tangga, yang terguncang bukan hanya dapur keluarga, melainkan juga daya tahan sosial bangsa itu sendiri.
Kita sering mendengar istilah “ketahanan keluarga” dalam pidato-pidato resmi. Tetapi ketahanan keluarga tidak lahir dari slogan. Ia dibangun dari rasa aman ekonomi. Memang sulit membicarakan keluarga harmonis ketika biaya hidup terus meningkat. Sulit meminta orang tua fokus mendidik anak ketika mereka dipenuhi kecemasan tentang cicilan, kontrakan, atau kebutuhan pokok bulan depan.
Tekanan ekonomi yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kondisi finansial keluarga, tetapi juga kesehatan psikologis di dalam rumah tangga. Banyak riset menunjukkan bahwa krisis ekonomi berkaitan dengan meningkatnya konflik keluarga, stres pengasuhan, hingga kekerasan domestik. Ketika dapur mulai goyah, relasi antaranggota keluarga pun perlahan ikut terguncang.
Dalam perspektif hukum keluarga Islam, ketahanan keluarga tidak hanya dimaknai sebagai bertahannya sebuah rumah tangga secara formal, tetapi juga terjaganya rasa aman, keadilan, dan kesejahteraan antaranggota keluarga. Karena itu, tekanan ekonomi yang terus-menerus tidak bisa dianggap sebagai persoalan materi semata, sebab ia turut memengaruhi kualitas relasi dan kesehatan emosional keluarga.
Cendekiawan Muslim Siti Musdah Mulia dalam Muslimah Reformis (2005) menjelaskan bahwa relasi keluarga yang tidak ditopang oleh keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi akan lebih mudah melahirkan ketimpangan dan kerentanan, terutama bagi perempuan. Dalam situasi ekonomi yang sulit, perempuan sering diposisikan sebagai pihak yang harus tetap kuat menjaga keutuhan keluarga, meski dirinya sendiri mengalami tekanan emosional dan beban berlapis.
Yang menyedihkan, perempuan lagi-lagi menjadi pihak paling rentan. Mereka bukan hanya menghadapi tekanan ekonomi, tetapi juga memikul tanggung jawab emosional agar rumah tetap terasa tenang bagi anak-anak dan anggota keluarga lainnya.
Menjaga Rupiah, Menjaga KehidupanPelemahan rupiah tidak bisa dipahami semata sebagai persoalan teknis moneter. Sebab dampaknya tidak berhenti di grafik ekonomi. Ia menjalar ke kesehatan mental keluarga, kualitas pengasuhan anak, bahkan masa depan generasi mendatang. Karena itu, respons negara tidak cukup hanya berupa intervensi pasar atau kebijakan fiskal jangka pendek. Pemerintah perlu mulai melihat ekonomi dari perspektif kehidupan sehari-hari rakyat, terutama perempuan.
Kebijakan pengendalian harga pangan, perlindungan pekerja informal perempuan, subsidi kebutuhan dasar, hingga penguatan layanan kesehatan mental keluarga menjadi sama pentingnya dengan menjaga stabilitas kurs. Negara perlu sadar bahwa krisis ekonomi memiliki wajah perempuan.
Selain itu, pejabat publik juga perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan. Sebab bagi masyarakat kecil, ucapan elite bukan sekadar narasi politik, tetapi juga cermin empati negara. Ketika rakyat sedang cemas menghadapi kenaikan harga kebutuhan hidup, pernyataan yang terdengar meremehkan justru menciptakan jarak emosional antara negara dan rakyatnya.
Pada akhirnya, persoalan rupiah bukan hanya tentang dolar yang menguat atau pasar yang bergejolak. Ia justru menyangkut ketenangan hidup banyak keluarga, apakah rakyat masih bisa hidup dengan tenang, apakah seorang ibu masih mampu memenuhi kebutuhan anaknya tanpa harus mengorbankan dirinya sendiri. Sebab saat rupiah melemah, yang sesungguhnya ikut dipertaruhkan bukan hanya nilai tukar mata uang, melainkan ketahanan keluarga Indonesia itu sendiri.





