Ketidaksesuaian pekerjaan dengan latar belakang pendidikan (horizontal mismatch) menjadi sebuah fenomena di Indonesia yang tidak bisa dipungkiri. Sebab, kesempatan kerja bagi lulusan pendidikan tertentu kerap kali jumlahnya tak sebanding.
kumparan mencoba menguak program studi (prodi) di Indonesia yang lulusannya paling selaras dan tidak selaras dengan pekerjaan saat ini. Kami melakukan scraping data dari statistik tracer study di website Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti) terhadap 127 PTN se-Indonesia. PTN di sini meliputi universitas, institut, sekolah tinggi, maupun politeknik.
Dalam perbandingan horizontal mismatch, rumpun soshum unggul dalam hal keselarasan kerja. Sebanyak 83,36% lulusan Soshum berhasil bekerja di bidang yang sesuai dengan jurusannya, dengan angka ketidakselarasan yang relatif kecil, yaitu hanya 16,64%.
Sebaliknya, rumpun saintek mencatatkan angka keselarasan yang lebih rendah, yakni di angka 78,26%. Hal ini berbanding lurus dengan tingkat ketidakselarasan (mismatch) lulusan Saintek yang menyentuh angka 21,74%, signifikan lebih tinggi dibanding kelompok Soshum.
Fenomena horizontal mismatch turut memengaruhi produktivitas nasional. Menurut Media Wahyudi Askar, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), tingginya horizontal mismatch akan menurunkan produktivitas nasional lantaran investasi pada pendidikan tidak memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
"Akibatnya kan investasi pendidikan jadi kurang efisien. Jadi negara kan juga masih relatif mensubsidi perguruan tinggi cukup besar ya, dan kemudian produktivitas nasional juga pasti akan menurun juga karena investasi pendidikan tadi enggak menghasilkan nilai tambah dalam bentuk produktivitas tenaga kerja," jelas Media, saat wawancara bersama kumparan, Kamis (28/5).
Kalau kamu, apakah bidang pekerjaan mu sekarang sesuai dengan latar belakang pendidikan? Berikan jawaban kamu pada polling kumparan ini dan sampaikan pendapat kamu di kolom komentar.





