JAKARTA, KOMPAS.com - Pakar konstruksi Davy Sukamta meragukan dugaan awal penyebab amblesnya Jalan Lenteng Agung Raya, Jagakarsa, Jakarta Selatan, yang disebut akibat struktur beton bawah tanah atau hong keropos karena faktor usia.
Menurut Davy, beton tidak bisa tiba-tiba menjadi keropos apabila sejak awal konstruksinya dibuat dengan baik.
“Kalau beton yang namanya keropos itu pada waktu dicor udah keropos. Kalau betonnya awalnya enggak keropos, tiba-tiba bisa jadi keropos, agak aneh. Jadi istilahnya mungkin perlu diluruskan dulu apa benar keropos,” kata Davy saat dihubungi Kompas.com melalui telepon, Jumat (29/5/2026).
Baca juga: Pakar Konstruksi Ragukan Istilah Hong Keropos di Lenteng Agung
Ia menjelaskan, kerusakan pada struktur beton biasanya terjadi akibat rembesan air yang menyebabkan tulangan besi berkarat.
“Atau kalau beton itu biasanya ada rembesan air terus tulangannya berkarat. Nah itu masuk akal. Karena ada pengkaratan terus rusak itu masuk akal,” ujar dia.
Davy mengatakan penyebab pasti amblesnya jalan belum bisa disimpulkan sebelum dilakukan pemeriksaan terhadap struktur bawah tanah di lokasi.
Menurut dia, perlu dipastikan terlebih dahulu apakah konstruksi di bawah jalan berupa hong, gorong-gorong beton, box culvert, atau corrugated steel.
“Jadi yang mana yang benar juga kan kita enggak tahu ini. Pipa bundar apa kotak beton gitu,” kata Davy.
Baca juga: Jalan Lenteng Agung Ambles, Pengalihan Arus Diterapkan hingga 12 Juni
Ia juga menyoroti penggunaan istilah hong yang disebut sebagai penyebab amblesnya jalan.
Menurut Davy, istilah hong umumnya merujuk pada pipa tanah liat berdiameter kecil yang biasa digunakan di rumah tinggal zaman dahulu.
“Kalau menurut saya, kalau di jalan raya enggak mungkin lah namanya hong. Salah satu itu yang pakai baja corrugated atau box culvert beton,” ucap dia.
Davy menambahkan, amblesnya jalan bisa dipengaruhi dua faktor, yakni kekuatan tanah dasar dan kekuatan struktur konstruksi di bawah jalan.
“Tanah dasarnya kuat, baru konstruksinya kuat,” kata dia.
Ia juga menilai kondisi permukaan jalan yang sebelumnya bergelombang bisa menjadi indikasi awal adanya penurunan tanah di bawah permukaan.