Keracunan Gas atau Makanan, Dugaan Penyebab Kematian Sekeluarga di Temanggung

kompas.id
7 jam lalu
Cover Berita

SEMARANG, KOMPAS — Penyebab kematian satu keluarga yang terdiri dari empat orang di salah satu tempat wisata di kawasan Posong, Kecamatan Kledung, Temanggung, Jawa Tengah, masih menjadi misteri. Pemeriksaan sementara menunjukkan, penyebab kematian mengerucut pada dua dugaan, yakni keracunan gas atau makanan.

Korban dalam kejadian itu adalah MAM (52), M (43), AEH (17), dan BAH (21). Mereka adalah ayah, ibu, dan dua anak yang berdomisili di Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jateng. Keempatnya ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di sebuah tenda di kawasan wisata Posong pada Rabu (27/5/2026).

Hingga Jumat (29/5/2026), penyebab kematian keluarga itu belum diketahui. Sebelumnya, pada Kamis (28/5/2026), petugas Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokes) dan petugas dari Laboratorium Forensik (Labfor) Kepolisian Daerah Jateng telah melakukan otopsi dan pemeriksaan toksikologi untuk memastikan penyebab kematian tersebut.

"Dari empat korban ini dipilih salah satu korban, yang fisiknya paling muda dan paling kuat. Jadi, dipilihlah korban yang berusia 17 tahun," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jateng, Komisaris Besar Anwar Nasir, di Semarang, Jumat.

Menurut Anwar, pemeriksaan toksikologi dilakukan karena keluarga itu diduga kuat meninggal dunia akibat keracunan. Pemeriksaan itu disebut Anwar bakal mengungkap jenis racun yang menyebabkan para korban tewas. Hasilnya diperkirakan keluar dalam 2 hingga 5 hari usai pemeriksaan.

"Dugaan sementara masih ada dua, yaitu akibat dari gas atau yang kedua adalah makanan. Untuk memastikan ini, penyidik masih menunggu hasil pemeriksaan Labfor. Kami sudah koordinasi sama Labfor, mungkin bisa dipercepat tapi tentunya ini harus menerapkan prinsip kehati-hatian," ucapnya.

Baca Juga4 Orang Sekeluarga Ditemukan Tewas di Tempat Wisata Temanggung

Sebelum ditemukan tewas, keluarga itu sempat barbekuan pada Selasa (26/5/2026) malam. Mereka disebut melakukan kegiatan itu di teras yang berada di bagian depan tenda. Menu barbeku itu dibawa mereka sendiri dari rumah. Usai barbekuan, keempat orang itu beristirahat di dalam tenda.

Keesokan harinya, petugas dari tempat wisata yang menyediakan layanan kemah glamor itu mengantarkan makanan bagi keluarga tersebut. Saat dipanggil, empat orang tersebut tidak merespons. Petugas mengira, keluarga itu masih tidur.

Namun, hingga waktunya check out pada Rabu siang, keluarga itu belum juga terlihat keluar dari tenda. Makanan yang diantarkan petugas pada Rabu pagi juga masih terbungkus rapi, belum dibuka.

Pada Rabu sore, petugas curiga karena belum terlihat adanya aktivitas dari keluarga tersebut. Mereka lantas mengecek kondisi di dalam tenda, kemudian mendapati empat orang itu sudah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Tubuh mereka disebut kaku dan ada bekas busa putih yang keluar dari mulut.

Baca JugaBelajar dari Keracunan CO Berulang, Ventilasi Udara Bisa Menyelamatkan Nyawa

Kejadian itu lantas dilaporkan ke Kepolisian Resor Temanggung. Polisi kemudian melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), menyita barang bukti, dan mengevakuasi korban ke rumah sakit.

Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Temanggung, Inspektur Satu I Komang Mahendra Deputra mengatakan, dari hasil olah TKP, polisi menemukan sejumlah barang, termasuk satu set kompor gas portabel, satu tungku briket untuk membakar arang, lima tas punggung, dua unit kamera, lima unit ponsel, dan uang tunai sebesar Rp 33 juta.

Makanan

Adapun makanan yang diduga dibawa korban dari rumah itu, terdiri dari daging iris berbumbu, sosis, kembang tahu beku, jamur enoki, selada, dan nasi putih. Jenis makanan-makanan tersebut mirip dengan sisa makanan di kulkas rumah korban.

Selain itu, polisi juga menyita dan memeriksa ubi rebus dengan kelapa parut yang ada di lokasi. Makanan itu tidak dibawa korban dari rumah, melainkan disediakan oleh pihak pengelola kemah glamor.

Baca JugaPasutri Keracunan Gas di Penginapan Solok, Polisi Selidiki Unsur Kelalaian

Komang menyebut, dokter forensik yang memeriksa para pasien curiga para korban keracunan makanan atau keracunan gas. Indikasi keracunan makanan disebut tampak dari adanya busa putih yang keluar dari mulut para korban.

Adapun dugaan keracunan gas terindikasi dari tertutupnya ventilasi dan adanya kemungkinan gas sisa pembakaran masuk ke dalam tenda.

"Dugaan asal gas ini juga ada dua kemungkinan, yaitu dari gas sisa pembakaran saat barbekuan atau gas dari pembakaran arang penghangat. Baik kompor gas portabel maupun tungku arang penghangat itu diletakkan di teras yang ada di bagian depan tenda, hanya berbatas pintu tenda yang ada resletingnya. Kemungkinan, asapnya itu masuk ke dalam tenda, tapi tidak bisa keluar karena ventilasinya tertutup," ujar Komang.

Menurut Komang, petugas yang kala itu melakukan evakuasi maupun olah TKP di dalam tenda tidak mencium bau gas maupun sisa pembakaran. Namun, menurut penjelasan dokter yang disampaikan ke kepolisian, gas hasil pembakaran memang tidak berwarna dan tidak berbau. Oleh karena itu, masuknya gas tersebut ke dalam tenda dimungkinkan tidak disadari oleh para korban.

Dalam penyelidikan tersebut, polisi disebut Komang memeriksa enam saksi. Seluruhnya merupakan pekerja dari penyedia jasa kemah glamor, tempat para korban menginap.

Kesulitan bernapas

Pakar Kesehatan Universitas Katolik Soegijapranata, Andica Diamanta, mengatakan, gas karbon monoksida yang terperangkap di ruangan tertutup tanpa ventilasi bisa menimbulkan bahaya. Kondisi itu bisa memicu seseorang kesulitan bernapas, terutama ketika sedang tertidur.

"Jadi orang yang menghirup itu akan menjadi semakin mengantuk, teler, dan hingga hilang kesadaran. Itu biasanya tanpa sadar. Kadar oksigen turun, kemudian kadar gas beracunnya semakin banyak. Jadi bisa dibilang itu bisa menyebabkan seseorang meninggal dalam tidurnya," kata Andica.

Menurut Andica, rata-rata orang yang terpapar gas karbon monoksida dengan kadar tinggi bisa kehilangan kesadaran dalam waktu 1 hingga 3 jam. Namun, jika kadarnya tinggi dan di ruangan sempit, seseorang bisa kehilangan kesadaran dalam hitungan menit.

Dugaan asal gas ini juga ada dua kemungkinan, yaitu dari gas sisa pembakaran saat barbekuan atau gas dari pembakaran arang penghangat

Untuk mencegah kasus keracunan gas di tempat tertutup seperti di dalam tenda, Andica menyarankan agar sirkulasi udara dipastikan berjalan dengan baik. Hal itu bisa dilakukan dengan membuka ventilasi maupun menyalakan exhaust fan.

Sementara itu, pada kasus keracunan makanan, kemungkinan seseorang langsung meninggal dunia, menurut Andica, sangat kecil. Biasanya, dalam kasus keracunan makanan akan muncul gejala gastrointestinal, seperti mual, muntah, diare, nyeri perut. Saat ada keluhan tersebut, umumnya, seseorang akan langsung mencari pertolongan medis ke fasilitas layanan kesehatan.

"Kalau misal makanannya diracun itu pun juga kemungkinan meninggalnya pasti di rumah sakit. Dan, itu biasanya jika gejalanya sudah berat, seperti dehidrasi yang terlambat sekali ditangani," ucap Andica.

 

 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Saat Macron Puji Keberanian Presiden Prabowo soal Sikap Tegas Dukung Palestina
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
“Aku Cuma Mau Maen”, Karya Stencil Terbesar Digie Sigit Mejeng di Baliho Yogya
• 14 jam lalukumparan.com
thumb
Rayakan Iduladha, NasDem Batam Kurbankan 2 Ekor Sapi dan 36 Kambing
• 7 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Penyerapan Gabah Bulog Tembus 74 Persen, Nyaris Capai 3 Juta Ton Setara Beras
• 14 jam lalupantau.com
thumb
Ini Sederet Manfaat Memelihara Kucing untuk Kesehatan
• 8 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.