Sebuah figur anak bertelanjang kaki sambil menggenggam bola kuning tampak berdiri di atas kanvas raksasa yang membungkus baliho di sisi barat eks Bioskop Permata Yogyakarta.
Tepat di bawahnya, tertulis kalimat merah menyala: “aku cuma mau maen.” disertai pertanyaan kecil, “(kenapa kamu bully aku?)”.
Karya stencil on canvas berukuran 8 x 4 meter itu menjadi karya terbesar yang pernah dibuat seniman street art asal Yogyakarta, Digie Sigit.
Karya tersebut dipamerkan dalam pameran tunggal bertajuk Sayangi Teman dan menjadi kali pertama Digie menggunakan medium baliho sebagai ruang presentasi karya di area publik.
“Anak-anak itu aset bersama, aset bangsa ini. Jadi kita pastikan mereka tidak lagi mengalami kekerasan, bullying, atau kehilangan ruang tumbuh kembang,” ujar Digie saat ditemui Pandangan Jogja di lokasi pameran, Senin (25/5/2026).
Dalam pameran tersebut, Digie menyoroti menyusutnya ruang bermain anak di perkotaan serta maraknya kekerasan terhadap anak. Dominasi warna hitam-putih membuat bola kuning di tangan figur anak tampak menonjol.
Menurut Digie, bola merepresentasikan dunia anak-anak, sedangkan kaki telanjang dan absennya warna hijau menjadi simbol hilangnya ruang bermain di kota.
“Anak-anak enggak punya lapangan hijau untuk bermain. Mereka main di aspal, di jalan,” katanya.
Digie menjelaskan figur anak dalam karya itu sebelumnya dipotret di kawasan Museum Perjuangan Brontokusuman yang kerap menjadi tempat bermain anak. Foto tersebut kemudian diolah menggunakan teknik stencil art.
Sementara tulisan “aku cuma mau maen.” dipilih karena dianggap dekat dengan keseharian anak-anak sekaligus merepresentasikan suara korban bullying.
“Aku cuma mau main itu sebenarnya statement semua korban bullying. Mereka cuma ingin bermain, tapi justru mendapat kekerasan,” ujarnya.
Pemilihan baliho sebagai medium pameran dilakukan agar karya lebih dekat dengan masyarakat dan dapat menjadi ruang refleksi sosial di tengah kota.
Digie memilih sisi barat eks Bioskop Permata karena lokasi tersebut memungkinkan masyarakat memperlambat laju kendaraan dan lebih mudah melihat karya yang dipasang di ruang terbuka.
Sebelumnya, Digie pernah berpameran di Sangkring Art Space, Galeri Antara Jakarta, hingga mempresentasikan karya bertema anak dan kemanusiaan di Austria. Namun, penggunaan baliho sebagai medium street exhibition baru pertama kali ia lakukan.
“Kalau banyak seniman membagikan karya di ruang publik, ruang publik kita akan jauh lebih manusiawi,” kata Digie.
Pameran Sayangi Teman dijadwalkan berlangsung selama satu bulan menyesuaikan masa penggunaan baliho.





