Disorot Peneliti Dunia, Jakarta Nomor Satu Paling Parah di Bumi

cnbcindonesia.com
5 jam lalu
Cover Berita
Foto: Suasana kawasan reklamasi pulau G di teluk Jakarta, Jumat (30/9/2022). Pulau G yang merupakan hasil reklamasi tampak terkikis oleh air laut, setelah terbengkalai. (CNBC Indonesia/ Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah daerah di pesisir dunia ditemukan perlahan ambles. Jakarta jadi salah satu kota dengan penurunan rata-rata terbesar selama setahun.

Sebuah penelitian dari Munich dan New Orleans mencoba menghitung pergerakan permukaan laut dan daratan. Mereka menemukan daerah pesisir yang padat penduduk mengalami kenaikan permukaan laut rata-rata sekitar 0,64 cm per tahun.

Artinya akan ada banyak masyarakat yang terdampak dari fenomena yang terjadi di daerah pesisir ini. Penelitian dipimpin Julius Oelsmann dari German Geodetic Research Institute (DGFI-TUM) menemukan sekitar 71 persen populasi pesisir global tinggal di daerah terdampak.


Jakarta ditemukan para peneliti mengalami penurunan 1,3 cm per tahun. Laju yang sama juga terjadi di Tianjin, China dan Bangkok, Thailand.

Pilihan Redaksi
  • Manusia Kawin Campur dengan Spesies Lain, Umur Anak Cuma 5 Tahun
  • Dugaan Skandal Warga RI Palsukan Riset, Menteri-DPR Ikut Buka Suara

Namun penurunan tanah di Jakarta ditemukan tidak merata. Beberapa wilayah ambles hingga lebih dari 3,8 cm per tahun dan daerah lain mengalami kenaikan, dikutip dari laman Earth, Jumat (29/5/2026).

Temuan serupa terjadi di wilayah pesisir dari Bangladesh dan Thailand hingga Mesir dan Nigeria. Di wilayah tersebut mengalami kenaikan permukaan air sekitar 0,76 cm per tahun.

Di Amerika Serikat (AS), Belanda, dan Italia dengan penurunan tanah mencapai 0,5 cm per tahun.

Faktor teratas penurunan permukaan tanah ini disebabkan oleh pengambilan air tanah. Laman Earth mencatat memompa air dari akuifer di bawah tanah membuat lapisan atasnya memadat dan permukaan tanah menurun setiap tahunnya.

Selain itu juga ada produksi minyak dan gas. Efeknya disebut sama dengan sumur mengambil fluida.

Tekanan pada tanah disebut dapat terjadi juga karena menanggung berat gedung, pencakar langit, jalan raya dan infrastruktur. Sedimen sungai yang lepas pada kota-kota delta disebut pula bisa memadat secara alami.

Alasan lainnya adalah proses geologis yang lebih lambat. Sejumlah pantai tercatat masih menyesuaikan diri dengan lapisan es yang menghilang selama ribuan tahun lalu.

Sementara sebagian wilayah mengalami penurunan, beberapa daerah mengalami daratan yang naik lebih cepat dari kenaikan permukaan laut.

Fenomena ini terjadi di Eropa Utara, sebagian Swedia dan Finlandia. Di sana masih pulih dari gletser yang menghilang pada Zaman Es.

Namun fenomena ini jarang ditemukan. Hanya kurang dari 10% penduduk pesisir tinggal di daerah dengan kenaikan permukaan tanah.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Kekuatan Infrastruktur Data Dorong Ekonomi Digital Era AI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Idul Adha Jangan Kalap! Makan Daging Berlebihan Bisa Bikin Asam Lambung Naik
• 23 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Sederet Tantangan Pertumbuhan Ekonomi Daerah, Ketimpangan hingga Terjepit Fiskal
• 19 jam lalubisnis.com
thumb
Kecelakaan Fatal di Catalunya Berujung Evaluasi Besar-besaran, MotoGP Pertimbangkan Larang Holeshot
• 7 jam laluviva.co.id
thumb
Drone Rusia Jatuh di Rumania, Bukares: Ini Menuntut Respons Tegas
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Periksa 2.494 hewan kurban, KPKP Jakbar temukan 41 ekor kondisi sakit
• 1 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.