DEPOK, Kompas.com - Di balik prosesi terakhir seseorang, para relawan pemandi jenazah di Depok bekerja dalam senyap menghadapi duka keluarga, perbedaan tradisi, dan tekanan emosional yang kerap datang bersamaan.
Ayu (bukan nama sebenarnya) (41), koordinator Tim Layanan Pengurusan Jenazah Perempuan Masjid Imam Asy-Syafi’i (MIAZ), menyebut tantangan utama timnya justru sering muncul dari situasi lapangan yang tidak bisa diprediksi.
Salah satunya adalah persoalan koordinasi di antara keluarga dan pihak lain yang terlibat dalam pengurusan jenazah.
“Kami pernah sudah siap datang lengkap dengan perlengkapan, tapi ternyata jenazah sudah dimandikan oleh pihak lain tanpa sepengetahuan keluarga yang menghubungi kami,” ujar Ayu saat ditemui Kompas.com di MIAS, Sukmajaya, Depok, Jumat (29/5/2026).
Situasi tersebut tidak hanya menimbulkan kebingungan di lapangan, tetapi juga menyisakan rasa tidak enak di pihak keluarga yang sebelumnya telah meminta bantuan.
Tantangan lain yang kerap muncul adalah perbedaan pemahaman mengenai tata cara pengurusan jenazah.
Baca juga: Kemenag Soroti Krisis Regenerasi Pemandi Jenazah, Anak Muda Dinilai Masih Enggan Terlibat
Tim yang dipimpin Ayu berupaya menjalankan proses sesuai tuntunan sunah, namun dalam praktiknya tidak semua anggota keluarga memiliki pandangan yang sama.
“Kadang ada yang ingin sesuai sunah, ada juga yang ingin mengikuti kebiasaan masyarakat. Itu harus dimusyawarahkan dulu,” kata dia.
Perbedaan itu, menurutnya, tidak jarang membutuhkan waktu sebelum proses pemandian dapat dilakukan.
Dalam situasi duka, keputusan yang melibatkan banyak pihak sering menjadi rumit.
Selain itu, tantangan fisik juga tidak bisa dihindari.
Ayu mengingat satu pengalaman berat saat menangani jenazah dengan luka parah akibat penyakit berkepanjangan.
“Prosesnya lebih dari tiga jam. Luka masih mengeluarkan cairan. Kami harus menopang tubuh dan membersihkan dengan sangat hati-hati. Saya sampai hampir pingsan,” ujar dia.
Meski demikian, seluruh proses dijalankan tanpa honorarium.
Para relawan bekerja sepenuhnya sukarela, bahkan kerap menggunakan perlengkapan pribadi atau bantuan donatur.
Antara Luka Pribadi, Keteguhan Iman, dan Beban EmosionalBerbeda dengan Ayu yang banyak menyoroti tantangan teknis, Fatimah (bukan nama sebenarnya) (50) menyingkap lapisan lain, tantangan emosional dan psikologis yang muncul dari pengalaman pribadi dan intensitas berhadapan dengan kematian.
Fatimah mulai terlibat dalam layanan ini sejak masa pandemi Covid-19.
Awalnya ia tidak pernah membayangkan akan berkecimpung di bidang yang berkaitan langsung dengan jenazah.
“Saya diajak teman untuk belajar. Lama-lama jadi terbiasa,” ujar dia.
Namun ada satu pengalaman yang menjadi titik awal keterlibatan emosionalnya: saat ibunya meninggal, ia tidak sempat mendampingi hingga proses terakhir karena berada jauh di luar kota.
“Dari situ saya ingin bisa membantu orang lain agar tidak merasakan hal yang sama,” kata Fatimah.
Baca juga: Menemani Perjalanan Terakhir, Kisah Pemandi Jenazah Merawat yang Telah Tiada





