Pemprov DKI Genjot Pembangunan Infrastruktur Pengendalian Banjir

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Banjir masih menjadi masalah tahunan yang harus dihadapi warga Jakarta. Mengatasi hal tersebut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melakukan berbagai inovasi pengendalian banjir guna mereduksi genangan akibat curah hujan tinggi, kiriman dari hulu, dan rob di pesisir.

Kepala Dinas Sumber Daya Air (DSDA) DKI Jakarta Ika Agustin Ningrum mengatakan, kemampuan infrastruktur yang ada saat ini belum optimal ketika menghadapi hujan deras dengan intensitas tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan pembangunan infrastruktur yang lebih besar.

"Pembangunan infrastruktur pengendali banjir di Jakarta efektif untuk curah hujan 100-150 mm, sedangkan untuk curah hujan yang lebih tinggi lagi dibutuhkan kapasitas infrastruktur yang lebih besar," ujar Ika, dilansir Tribunnews.com, Kamis (26/5/2026).

DSDA DKI Jakarta melakukan pembangunan dan pemeliharaan sungai atau kali dan waduk atau situ melalui proyek JakTirta dan NCICD (National Capital Integrated Coastal Development/Tanggul Pengaman Pantai).

Sebagai bagian dari penanganan banjir periode 2025–2027, berbagai pembangunan infrastruktur pengendali banjir terus dikerjakan secara bertahap. Infrastruktur tersebut meliputi pembangunan sistem polder, peningkatan kapasitas sungai dan saluran drainase, pembangunan waduk dan embung sebagai area retensi air, hingga pembangunan tanggul pengaman pantai.

Dalam proyek JakTirta, terdapat sembilan paket pembangunan sistem polder di 13 lokasi dengan penambahan 63 unit pompa baru. Selain itu, dilakukan pula pembangunan embung di tiga lokasi, pembangunan tanggul pengaman pantai sepanjang dua kilometer, serta revitalisasi sungai sepanjang dua kilometer.

Beberapa pembangunan sistem tata air yang dilakukan diantaranya berada di Pompa Bulak Cabe, Pegangsaan Dua, Cilincing KBN, Warung Jengkol, Kampung Sawah Rawa Terate, Kayu Putih Rawa Terate, hingga Daan Mogot. Peningkatan kapasitas juga dilakukan di Pompa Ancol dan IKIP guna memperkuat pengendalian genangan di wilayah rawan banjir.

Tidak hanya itu, pembangunan sarana dan prasarana kali atau sungai juga dilakukan di sejumlah titik, seperti Kali Cakung Lama, Kali Jatikramat, Kali Angke, Kali Pesanggrahan, Kali Grogol, hingga Kali Cideng Atas. Pekerjaan tersebut mencakup perbaikan tanggul dan peningkatan kapasitas aliran air agar sistem drainase perkotaan dapat berfungsi lebih optimal.

Infrastruktur Pengendali Banjir DKI Jakarta (Dok Pemprov DKI Jakarta)

Pemprov DKI Jakarta juga membangun sejumlah embung dan waduk baru untuk meningkatkan daya tampung air. Beberapa di antaranya yakni Embung Pondok Labu seluas 1,82 hektare untuk mendukung pengurangan banjir di sistem Kali Krukut, Embung Kebagusan seluas 2,07 hektare untuk sistem Kali Mampang dan Krukut, serta Waduk Sunter Hulu seluas 7,3 hektare untuk mereduksi banjir di aliran Kali Sunter.

Di sisi lain, normalisasi sungai terus didorong sebagai langkah strategis pengendalian banjir. Pada tahun ini, terdapat tiga titik prioritas normalisasi yang dilakukan secara bertahap, yakni Sungai Ciliwung, Kali Krukut, dan Kali Cakung Lama.

Sementara itu, pembangunan tanggul pengaman pantai melalui program NCICD dilakukan dalam dua paket pekerjaan, yaitu NCICD Fase A Tahap 3 Paket 1 di kawasan Pantai Mutiara dan Muara Baru, serta Paket 2 di Kali Blencong. Pembangunan ini menjadi bagian penting dalam mengantisipasi banjir rob di wilayah pesisir Jakarta.

Selain pembangunan infrastruktur, Pemprov DKI Jakarta juga melakukan berbagai langkah mitigasi banjir melalui optimalisasi pemeliharaan saluran drainase dan badan air. Hingga 17 April 2026, tercatat sebanyak 683 unit pompa stasioner tersebar di 246 lokasi, serta 540 unit pompa mobile disiagakan di lima wilayah administrasi Jakarta. Pompa mobile digunakan untuk menjangkau titik genangan yang tidak dapat dilayani pompa stasioner.

Upaya pengerukan dan pengurasan sungai, kali, waduk, situ, embung, hingga saluran penghubung juga terus dilakukan untuk meningkatkan kapasitas tampung air. Hingga 30 April 2026, volume pengerukan dan pengurasan yang telah dilakukan mencapai 205.693 meter kubik, terdiri atas pengerukan sebanyak 179.897 meter kubik dan pengurasan sebesar 25.796 meter kubik.

Untuk mempercepat penanganan di lapangan, DSDA DKI Jakarta juga menyiagakan Satgas Pasukan Biru yang siap bergerak saat terjadi banjir maupun genangan. Pasukan ini bertugas melakukan pemantauan rutin, mendukung operasional pompa, serta memastikan penanganan genangan dapat dilakukan secara cepat dan optimal.

Melalui berbagai upaya mitigasi tersebut, Pemprov DKI Jakarta berharap penanganan banjir dan genangan dapat semakin efektif, baik akibat cuaca ekstrem, banjir kiriman dari hulu, maupun rob di kawasan pesisir. Masyarakat juga diimbau tetap waspada terhadap potensi genangan dan dapat memanfaatkan aplikasi JAKI atau layanan darurat 112 apabila membutuhkan bantuan dalam kondisi darurat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Reaksi Witan Sulaeman usai Dirumorkan Gabung Garudayaksa FC, Bertahan atau Hengkang dari Persija Jakarta?
• 4 jam lalutvonenews.com
thumb
Revisi UU Ombudsman jadi momentum kukuhkan majelis etik
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Mobil Golf Listrik Disiagakan untuk Jemaah Lansia dan Sakit di Mina | JMP
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
Rampung Evaluasi, CFD Rasuna Said Bakal Digelar Rutin Mulai 7 Juni
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Manajemen YIA pastikan operasional normal sambut libur Waisak
• 8 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.