Tiket Piala Dunia 2026 Terlalu Mahal, FIFA Diperiksa Jaksa Agung AS

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menjelang Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada, FIFA justru dihadapkan pada gelombang kemarahan publik serta investigasi hukum akibat kebijakan harga tiket yang dinilai tidak masuk akal. 

Presiden FIFA Gianni Infantino membenarkan lonjakan harga dengan alasan "beradaptasi dengan pasar Amerika Utara". Namun, jawaban ini menuai kecaman luas dan memicu tindakan tegas dari aparat penegak hukum AS.

Harga tiket Piala Dunia 2026 melonjak jauh dibandingkan edisi sebelumnya. Untuk pertandingan final di Stadion MetLife, New Jersey pada 19 Juli 2026, FIFA awalnya menjual tiket termahal seharga 6.730 dolar AS atau empat kali lipat dari tiket termahal Piala Dunia 2022 di Qatar yang sekitar 1.600 dolar AS. Pada penjualan terbaru bulan April, kategori tiket yang sama melonjak menjadi 10.990 dolar AS.

Bahkan kursi baris depan untuk final dibanderol lebih dari 30.000 dolar AS. Untuk pertama kalinya, FIFA juga menerapkan penetapan harga dinamis yang membuat harga terus berubah-ubah. 

Presiden Trump sendiri menyatakan tidak akan bersedia membayar 1.000 dolar AS untuk kursi di pertandingan pembuka AS melawan Paraguay.

Merespons itu. pada Rabu, 27 Mei 2026, Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport secara resmi meluncurkan investigasi terhadap FIFA. Penyelidikan tidak hanya menyasar harga tiket, tetapi juga proses penjualan, cara alokasi tiket untuk penggemar, serta dugaan bahwa taktik penjualan FIFA telah berkontribusi pada "melonjaknya harga."

Pengadilan telah melayangkan surat panggilan resmi yang memaksa FIFA membuka seluruh data penjualan tiket mereka ke publik. Otoritas hukum ingin mengetahui apakah ada unsur kesengajaan dalam menahan pasokan tiket demi mendongkrak harga di pasar gelap.

Salah satu praktik yang disorot adalah sistem "tiket buta" di mana penggemar tidak bisa memilih kursi spesifik saat membeli. Mereka hanya memilih kategori luas, lalu FIFA yang menentukan kursi kemudian hari. 

Penggemar yang membayar mahal untuk tiket Kategori 1 kerap mengeluh mendapatkan kursi kurang diminati seperti di belakang tikungan.

FIFA juga berhak mengubah peta tempat duduk kapan saja, yang menurut pakar hukum dapat dikategorikan sebagai praktik "umpan dan peralihan". 

Baca Juga: Ini Alasan UEFA Majukan Jadwal Final Liga Champions PSG vs Arsenal

Meski FIFA sulit mengubah proses penjualan sebelum turnamen dimulai karena tinggal dua minggu lagi, FIFA tetap dapat dimintai pertanggungjawaban setelah Piala Dunia berakhir pada pertengahan Juli. 

FIFA berpotensi menghadapi tuntutan hukum class action dari penggemar yang dirugikan, investigasi dari jaksa agung negara bagian lain seperti California, serta tekanan dari anggota parlemen Demokrat.

FIFA membenarkan kebijakannya dengan menyebut Piala Dunia 2026 bisa menghasilkan lebih dari 11 miliar dolar AS, termasuk dari kesepakatan siaran.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dukung Makassar Half Marathon 2026, Kallafriends Hadirkan Aktivasi Seru dan Beragam Benefit Eksklusif
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Legislator PAN Ketuai Pansus Hak Angket DPRD Gowa
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Ekonom: Stimulus Pajak hingga Diskon Tiket Jaga Daya Beli Masyarakat
• 6 jam lalurepublika.co.id
thumb
Serial The Lord of the Rings: The Rings of Power Bersiap Lanjut ke Musim Keempat
• 15 jam lalupantau.com
thumb
Iran Bantah Soal Kesepakatan dengan AS Telah Final
• 10 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.