Wawancara Psikologis Bukan Sekadar Curhat: Proses Ilmiah di Balik Tanya Jawab

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Pernah gak sih mengalami ketika ke psikolog yang tujuannya untuk menyelesaikan masalah atau sekadar menghilangkan beban dalam kehidupan malah rasanya cuma ngobrol-ngobrol biasa atau cuma tanya jawab. Kemudian kita merasa tidak terbantu karena tidak adanya bantuan secara konkret yang diberikan oleh praktisi Psikolog. Pandangan tersebut sebenarnya kurang tepat. Dalam perspektif psikologi, proses tersebut merupakan salah satu metode dalam psikodiagnostik yang dilakukan secara sistemtis dan memiliki tujuan untuk mengetahui gambaran permasalahan yang dialami klien (Hermawati, et al., 2017).

Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan juga tidak dilakukan secara sembarangan. Psikolog biasanya menggunakan pertanyaan terbuka agar klien dapat menjelaskan pengalaman dan perasaannya secara lebih mendalam. Selain itu, psikolog juga dapat menggunakan teknik probing atau pendalaman pertanyaan untuk memperoleh informasi yang lebih jelas dan spesifik . Teknik ini membantu psikolog memahami permasalahan klien secara lebih menyeluruh sehingga informasi yang diperoleh tidak hanya memberikan gambaran dasar.

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut psikolog dapat memahami kondisi klien secara lebih mendalam, mulai dari emosi, pola pikir, perilaku, hingga pengalaman hidup yang memengaruhi kondisi psikologis klien. Oleh karena itu, proses ini tidak dilakukan secara spontan tanpa arah. Seorang psikolog atau pewawancara profesional memiliki keterampilan khusus untuk menggali informasi secara objektif dan tetap menjaga kenyamanan individu yang diwawancarai. Di sinilah letak perbedaan utama antara wawancara psikologis dan percakapan sehari-hari.

Dalam prosesnya tanya jawab yang dilakukan oleh psikolog kepada klien bertujuan untuk mengetahui tindakan atau terapi apa yang cocok untuk kliennya (Mulyono, 2020). Hal tersebut juga menjadi kendala jika klien enggan untuk terbuka dan malah memberikan informasi yang tidak menggambarkan kondisi sebenarnya yang dialami klien. Dampaknya, banyak klien yang setelah diberikan tindakan atau terapi justru tidak terbantu dalam mengatasi masalah yang dialami oleh dirinya.

Pada akhirnya, wawancara psikologis bukan sekadar proses tanya jawab biasa atau aktivitas “curhat” seperti yang sering dipahami masyarakat. Di balik percakapan yang terlihat sederhana tersebut, terdapat proses ilmiah yang dilakukan secara terarah untuk memahami kondisi individu secara lebih mendalam. Apabila klien tidak terbuka selama wawancara berlangsung, informasi yang diperoleh dapat menjadi kurang akurat sehingga proses terapi yang diberikan berisiko tidak membantu permasalahan klien secara optimal. Oleh karena itu, wawancara psikologis membutuhkan keterampilan profesional sekaligus kerja sama yang baik antara psikolog dan klien agar proses asesmen maupun terapi dapat berjalan secara efektif.

Jadi, jangan sungkan untuk terbuka ke Psikolog kamu ya!!

Penulis:

Muhammad Faiz Naufal, mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog, dosen Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jelang Final Liga Champions: Begini Head to Head PSG vs Arsenal
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Danantara ”Si Superholding BUMN” dan Pertanyaan Soal Transparansi (10)
• 21 jam lalukompas.id
thumb
Pencuri Toko Emas di Depok Babak Belur Dapat ‘Salam Cinta’ dari Warga
• 12 jam laluliputan6.com
thumb
Polisi Periksa 6 Saksi dalam Kasus Tewasnya WN Korsel di Bekasi
• 16 jam lalukumparan.com
thumb
Majelis Etik Ungkap Bobroknya Kepemimpinan Ombudsman Periode 2021–2026
• 9 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.