Dulu Dikira Gajah Ternyata Paus, 70 Tahun Baru Ketahuan

cnbcindonesia.com
1 jam lalu
Cover Berita
Foto: Kerangka Mammuthus Meridionalis jantan setinggi 4 meter yang langka (Mammoth selatan) dipajang di Kastil Spanyol abad ke-16 L'Aquila, Italia tengah, Minggu, 18 Desember 2022. (AP/Domenico Stinellis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Arkeolog bernama Otto Geist menemukan tulang-tulang yang diduga berasal dari gajah purba Mammoth pada 1951. Namun baru 70 tahun kemudian diketahui analisis itu salah.

Geist menemukannya dalam sebuah ekspedisi di pedalaman Alaska, wilayah geografis prasejarah yang dikenal dengan Beringia.

Dari hasil penampakannya dan lokasi tulang, Geist langsung menyimpulkan tulang belulang itu berasal dari Mammoth berbulu. Analisa itu cukup masuk akal karena wilayah temuan dan ukuran tulang belakang yang mirip dengan tulang gajah.


Kemudian, tulang-tulang itu masuk ke Museum of the North di Universitas Alaska. Baru puluhan tahun kemudian setelah museum bisa melakukan penanggalan radiokarbon ditemukan jawaban sesungguhnya.

Foto dua pelat fosil tulang paus yang sebelumnya disangka berasal dari mammoth. Foto: University of Alaska Museum of the North
Pilihan Redaksi
  • Belajar dari Korea: Perusahaan Cuan Besar, Buruh Harus Ikut Kaya
  • 27-28 Mei Matahari Tepat di atas Ka'bah-Ini Cara Cek Kiblat dari Rumah
  • Ilmuwan Akhirnya Tahu Alasan T-Rex Tangannya Kecil Walau Kepala Besar

Dari hasil penelitian ditemukan isotop karbon dalam tulang berusia 2.000-3.000 tahun. Artinya hidup di zaman lebih baru dibandingkan Mammoth yang telah punah 13 ribu tahun lalu.

Berikutnya mereka juga menemukan kandungan kadar isotop nitrogen-15 dan karbon-13 yang lebih tinggi dibandingkan hewan pemakan rumput seperti Mammoth berbulu.

Temuan ini memang tidak menghapuskan kemungkinan bahwa tulang berasal dari hewan darat. Namun kandungan kadar isotop yang ditemukan umumnya berada pada hewan lautan.

"Ini jadi petunjuk pertama kami bahwa spesimen tersebut berasal dari lingkungan laut," kata ahli biogeokimia Universitas Alaska Fairbanks, Mathhews Wooler dan timnya dikutip dari Science Alert, Jumat (29/5/2026).

Kemungkinan yang muncul adalah tulang tersebut berasal dari tubuh paus.

Lebih lanjut para peneliti mengekstrak DNA mitokondria, ini dilakukan untuk dibandingkan dnegan DNA paus sikat Pasifik Utara (Eubalaena japonica) dan paus minke biasa (Balaenoptera acutorostrata).

Para peneliti juga mengaku menemukan misteri berikutnya dari hasil analisis tersebut. Yakni cara sisa paus berusia 1.000 tahun ditemukan di pedalaman Alaska, yang berjarak lebih dari 400 km dari garis pantai terdekat.

Salah satu kemungkinannya adalah adanya penyerbuan paus ke pedalaman dari teluk dan sungai kuno. Namun alasan ini juga dapat dibantah karena ukuran spesies paus yang besar dan badan air wilayah yang sangat kecil.

Selain itu kemungkinan tulang-tulang diangkut oleh manusia purba dari garis pantai. Para peneliti juga tidak menutup kemungkinan adanya kesalahan ilmiah.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Kekuatan Infrastruktur Data Dorong Ekonomi Digital Era AI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jalan Amblas di Lenteng Agung, Lalu Lintas Arah Depok Macet
• 19 jam laluliputan6.com
thumb
Diabaikan Belgia dan Belanda ke Piala Dunia 2026, Ini Alasan Pascal Struijk Masih Enggan Bela Timnas Indonesia
• 56 menit lalutvonenews.com
thumb
Yadea GS70 Bisa Dibeli Pakai Skema Tukar Tambah, Begini Caranya
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Jalan Ambles di Lenteng Agung Jaksel-Depok Macet Bikin Lalu Lintas Parah
• 9 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Cegah Eksploitasi Petani, Pengamat Ungkap Peranan Kebijakan Sentralisasi PT DSI
• 6 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.