Pantau - Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menekankan pentingnya kolaborasi multi-pihak untuk meningkatkan literasi nasional di Indonesia guna memperluas akses bahan bacaan hingga ke pelosok desa.
Kolaborasi dan Tantangan Akses Literasi NasionalUpaya kolaborasi tersebut dinilai penting untuk meningkatkan kualitas serta keterjangkauan bahan bacaan bermutu bagi masyarakat di seluruh daerah Indonesia.
Lestari Moerdijat menyebut persoalan literasi di Indonesia tidak hanya terkait minat baca, tetapi juga keterbatasan akses terhadap bacaan berkualitas.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) menyatakan kesiapan untuk bersinergi dengan Kementerian Komunikasi dan Digital dalam memperkuat literasi digital masyarakat.
Layanan iPusnas dari Perpusnas memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, namun masih menghadapi tantangan pada aspek keamanan digital.
Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) tahun 2026 tercatat sebesar 40,6 yang masuk dalam kategori rendah dan dinilai mengkhawatirkan dalam konteks Indonesia Emas 2045.
Data Literasi, Literasi Digital, dan Arah KebijakanData World Population Review menunjukkan masyarakat Indonesia hanya membaca sekitar 129 jam per tahun, jauh di bawah India dengan 352 jam dan Amerika Serikat dengan 357 jam.
Meskipun penetrasi internet mencapai 77 hingga 80 persen, indeks literasi digital Indonesia masih stagnan di angka 44,53 pada tahun 2025.
Lestari Moerdijat menegaskan bahwa negara dengan tingkat literasi rendah akan sulit bersaing secara global dan tidak cukup hanya mengandalkan akses teknologi.
Ia juga menekankan bahwa program literasi tidak boleh berjalan sendiri-sendiri dan memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta pegiat literasi.
Lestari Moerdijat menyebut momentum saat ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat gerakan literasi nasional secara berkelanjutan demi mencetak generasi yang cerdas dan berkarakter.



